alexametrics

Perdana, Festival Land of Edelweis Bakal Dihelat 10 November

6 November 2018, 17:25:50 WIB

JawaPos.com- Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) bakal punya gawe besar dan bisa dibilang baru pertama kali digelar. Pihaknya bakal menyelenggarakan Festival Land of Edelweis pada tanggal 10 November mendatang. 

Festival ini sekaligus untuk me-launching Wisata Desa Edelweis yang ada di dua desa. Yakni Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan dan Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Kedua desa tersebut sekaligus menjadi tuan rumah acara bertema Harmoni Konservasi dan Budaya Masyarakat Tengger tersebut. 

Kepala TNBTS John Kennedy mengatakan, festival ini berisi tiga konsep sekaligus, yakni konservasi, religi, dan ekonomi. Konservasi, yakni mengenai budidaya bunga edelweis atau biasa disebut bunga abadi, yang ada di kedua desa tersebut.

Sebagaimana diketahui, salah satu jenis edelweis atau dengan nama lokal Kembang Tana Layu, yaitu Anaphalis Javanica telah ditetapkan sebagai tanaman yang dilindungi. Hal itu sesuai dengan Peraturan Menteri Ligkungan HIdup dan Kehutanan Republik Indonesia nomor P.92/MenLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang perubahan atas peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor P.20/MenLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi.

“Kenapa dilindungi, karena memang tahan lama. Setelah dipetik masih bisa berbunga lagi,” ujarnya saat konferensi pers di kantor Balai Besar TNBTS Kota Malang, Selasa (6/11).

John menambahkan, bunga edelweis merupakan bunga abadi yang sangat  berguna bagi masyarakat suku Tengger. Apalagi saat acara sakral. “Pada saat acara sakral selalu menggunakan bunga edelweis. Selain itu anak-anak muda juga suka memetik itu, konon supaya cintanya abadi,” jelasnya.

Pihaknya khawatir bunga edelweis akan punah bila terus dipetik. Oleh karena itu, BB TNBTS melakukan konservasi dengan mengedukasi masyarakat untuk membudidayakan bunga edelweis ini. 

Hal itu pun telah dilakukan sejak tahun 2010 lalu. Bunga edelweis yang tumbuh saat ini sudah memasuki generasi kedua. “Kami sudah ajukan ijin penangkaran ke BKSDA Jatim Surabaya. SK (surat keputusan)-nya akan diserahkan pada saat festival,” terangnya.

Setelah mendapat SK tersebut, mereka akan mendapat legalitas. Artinya, meskipun bunga tersebut dilindungi, tapi bisa diperjual belikan. “Bisa dijual, bisa ditanam. Jadi tidak mengambil dari kawasan taman nasional,” jelasnya.

Pada kesempatan itu, Desa Ngadisari juga akan dikukuhkan oleh bupati sebagai desa wisata edelweis. “Nanti apakah bentuknya SK, masih belum tahu,” imbuhnya.

Dengan dikukuhkannya desa edelweis, kedepannya wisatawan lokal maupun mancanegara tidak hanya bisa menikmati Gunung Bromo, tapi juga bisa berwisata tanaman edelweis. 

John mengungkapkan, Festival Land of Edelweis merupakan langkah awal dalam upaya melestarikan edelweis, melestarikan kearifan lokal budaya Tengger, sekaligus memberikan peluang peningkatan ekonomi masyarakat. “Harapan kedepan konsep memadukan konservasi, religi, dan ekonomi melalui ikon edelweis di  TNBTS bisa menjadi contoh keberhasilan pengelolaan taman nasional di daerah lain,” paparnnya.

Festival tersebut juga akan dimeriahkan dengan acara Festival Pawon Tengger, Festival Seni dan Budaya Tengger, Pameran Produk Kerajinan Edelweis, Pameran Produk Desa Penyangga, Pemilihan Duta Edelweis, serta talk show

 

Editor : Dida Tenola

Reporter : (fis/JPC)

Copy Editor :

Perdana, Festival Land of Edelweis Bakal Dihelat 10 November