JawaPos Radar

Sengketa Lahan, TNI AU Robohkan Rumah Warga

06/09/2018, 18:14 WIB | Editor: Yusuf Asyari
Sengketa Lahan, TNI AU Robohkan Rumah Warga
Kondisi rumah yang dilakukan penertiban (Alwi Alim/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Warga Jalan Santosa, Kelurahan Sukodadi, Kecamatan Sukarami, Palembang dikejutkan dengan kedatangan personel TNI AU Landasan Udara Sri Mulyono Herlambang, Palembang, Kamis (6/9). Ratusan personel TNI AU tersebut langsung merobohkan rumah milik warga yakni Rubahuddin warga Jalan Sentosa, RT 32 RW 09, Kelurahan Sukodadi, Palembang.

Mereka berbekal dua unit truk, satu unit mobil, ratusan sepeda motor dan peralatan lengkap. Rumah yang dirobohkan itu dinilai lahan  sengketa dan harus dipertahankan status quo nya.

Ditemui di lokasi kejadian, Ketua RT 32, Mustakim mengatakan dirinya mendapatkan laporan dari warga dan pekerja bahwa ada sekitar 200 an tentara yang datang untuk merobohkan rumah milik warga. Karena itu, dirinya pun langsung mendatangi lokasi.

Namun saat datang, ia sudah melihat ratusan personel tersebut menghancurkan genting, tembok dan beberapa bagian lainnya menggunakan peralatan dan palu. Bahkan, beberapa diantaranya memasang sling ditambok dan kolom rumah yang diikat ke dua unit truk untuk ditarik hingga roboh.

"Saya datang untuk mencegah tapi malah dikeroyok dan akibatnya saya pun benjol di dahi ini," katanya saat temui, Kamis (6/9).

Menurutnya, warga ini sudah bermukim di kawasan tersebut sejak 60 tahun lalu, sehingga memikiki hak untuk tinggal ditempat tersebut. Bahkan, dikawasan tersebut sudah ada sekitar 20 ribu kepala keluarga, dimana 1.834 diantaranya memiliki surat tanah baik sertifikat maupun akte camat.

Karena itu, jika memang lahan ini milik TNI AU, maka warga terbuka untuk penyelesaiannya. Namun, bukan dengan tindak arogansi dan intimidasi.

"Warga juga tidak mau sengketa terus, jadi kami terbuka untuk penyelesaiannya," ujarnya.

Dalam proses pembongkaran tadi juga warga dilarang mendekat, bahkan diduga ada yang diintimidasi oleh TNI AU agar tidak mendokumentasikannya. "Kami tidak boleh foto maupun merekam video, bahkan ditodong menggunakan senjata laras panjang," singkatnya.

Sementara itu, Kepala Penerangan (Kapen) Lanud Sri Mulyono Herlambang, Lettu Semadi mengatakan pembongkaran tersebut dilakukan karena lahan yang dibangun warga tersebut merupakan aset milik negara yang merupakan milik TNI AU.

Pihaknya juga telah memperingati warga untuk tidak membangun di lahan tersebut semenjak Juli lalu baik secara lisan maupun tertulis. Namun, tetap tak diindahkan.

"Karena itu kami terpaksa melakukan pengamanan dan penertiban di wilayah tersebut," katanya saat dihubungi JawaPos.com, Kamis (6/9).

Ia mengaku jika sejak Mei lalu sudah melakukan penertiban sebanyak tiga rumah. Sejak saat itu, pihaknya bersama perangkat daerah serta warga untuk tidak melakukan pembangunan. Meskipun begitu, dirinya tidak melarang bagi warga yang memang memiliki sertifikat.

"Karena itu, nantinya ini akan dibawa ke meja hijau untuk melihat apakah surat ini sesuai secara hukum atau tidak," terangnya.

Disinggung soal kekerasan, ia menambahkan bahwa hal tersebut merupakan persenggolan antara petugas pengamanan dan warga dan menurutnya, ini tidak terlalu membahayakan.

"Mungkin tadi tersenggol sehingga dibilang dipukul," tutupnya. 

(lim/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up