JawaPos Radar

Ketika Para PSK Bikin Betah Wisatawan Timur Tengah

06/08/2017, 12:28 WIB | Editor: Yusuf Asyari
Ketika Para PSK Bikin Betah Wisatawan Timur Tengah
Ilustrasi (Imam Husein/Jawa Pos)
Share this

JawaPos.com – Kehadiran Warga Negara Asing (WNA) asal Timur Tengah tak semua positif. Seperti yang dirasakan masyarakat Desa Sukanagalih, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur. Alasannya, banyak PSK yang menawarkan jasa esek-esek kepada para WNA tersebut.

Sekretaris Desa Sukanagalih, Wawan Buldan mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Menurutnya, Cianjur sebagai daerah santri jangan sampai banyak PSK berkeliaran.

"Wisatawan Timteng di negaranya itu kan sulit dengan urusan perempuan, namun saat datang ke sini gampang jadi mereka betah ke sini,” papar Wawan.

Dia mengatakan, tidak tahu dari mana para PSK itu datang. Namun yang jelas bukan berasal dari Desa Sukanagalih.

“Kami juga terus swepping dengan MUI untuk menjaga hal itu, hasilnya setelah diperiksa ternyata bukan orang sini,” katanya kepada Radar Cianjur (Jawa Pos Group).

Pihak desa menanggapi budaya wisatawan Timteng tidak terlalu meresahkan, sebab ada untung dan ruginya. Tinggal bagaimana menyikapinya. Namun, terkadang warga negara Timur Tengah ketika tiba di Indonesia, berperilaku seperti di kampungnya sendiri.

“Makanya butuh pembinaan terhadap mereka,” katanya.

Saat ini pihak desa sama sekali tidak pernah menerima laporan berapa banyak WNA asal Timur Tengah yang masuk ke Kota Bunga. Terlebih, siapa yang berwenang untuk melaporkannya. Alhasil, ketika ada masalah pihak desa baru tahu.

“Kecamatan dan desa memang sudah membentuk tim pengawasan ke luar masuk orang asing di daerah Puncak Pass, tapi tidak semua yang melapor, hanya beberapa saja,” ujarnya.

Dikatakannya, pihak desa hanya akan melaksanakan pengawasan ketika ada koordinasi. Karena mereka sudah merupakan tanggungjawab pihak imigrasi dan memiliki perwakilan di Indonesia.

“Jika memang ingin memperketat pengawasan, desa juga harus dilibatkan, jangan sampai hanya imigrasi saja yang mengetahui mereka,” katanya.

Dia menegaskan, keberadaan warga Timur Tengah di Kota Bunga sebenarnya kebanyakan bermukim di wilayah yang masuk dalam kawasan Desa Batulawang, Kecamatan Cipanas.

“Bukan Sukanagalih semua sebenarnya, karena ada juga masuk ke wilayah Batulawang. Khususnya bagi mereka yang menginap di sekitar danau, jadi harusnya antara dua desa juga ikut mengawasi kalau memang ada tugasnya dan diberikan kewenangan,” pungkasnya.

(yuz/jpg/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up