alexametrics

Risma Siap Perang Lawan Teroris

6 Juli 2018, 19:50:14 WIB

JawaPos.com – Insiden peledakan bom masih menjadi ancaman di Jawa Timur (Jatim). Seperti yang terjadi pada Kamis (6/7) kemarin. Ledakan bom terjadi di Desa Pogar, Bangil, Pasuruan, Jatim. Peristiwa tersebut cukup menjadi bukti bahwa pelaku teror ternyata masih bersembunyi di pemukiman-pemukiman penduduk.

Perlu pengawasan dari seluruh pihak. Tidak hanya di Bangil, tetapi juga di lokasi lain. Termasuk Surabaya yang juga pernah mendapat serangan teror bom di gereja dan Mapolrestabes.

Tidak ingin kecolongan lagi, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menggelar rapat koordinasi dengan tiga pilar di Graha Sawunggaling. Poin yang dibahas adalah keamanan dan ketertiban Kota Pahlawan.

Risma mengundang Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan, Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak AKBP Antonius Agus Rahmanto, serta para Danrem, camat dan lurah se-Surabaya. Dia meminta kepada aparat untuk terus menggalakkan pencegahan terorisme dan radikalisme.

Meskipun selama ini, jajaran tiga pilar di Kota Surabaya tidak henti-hentinya berkeliling. Entah sekadar melakukan pencegahan maupun sosialisasi pencegahan terorisme dan radikalisme.

Sinergitas tiga pilar sangat penting. Kekompakan menjadi ujung tombak dalam pencegahan terorisme dan radikalisme. Terutama setelah terjadinya ledakan di Bangil.

“Semua saya kumpulkan di sini karena ternyata kami masih dekat dengan hal-hal yang mungkin mengganggu. Kalau naik bus dari Bangil ke Surabaya, paling hanya 30 menit. Jadi marilah sama-sama menjaga Kota Surabaya,” ajak Risma.

Salah satu pencegahan terorisme dan radikalisme bisa dilakukan dengan menggalakkan operasi yustisi di berbagai titik. Operasi yustisi tidak hanya menyasar perkampungan, namun juga perumahan-perumahan.

“Saya juga tidak mau operasi yustisi itu hanya dilakukan di kos-kosan. Tapi juga harus dilakukan di pinggir rel kereta api dan pinggir-pinggir sungai,” imbuh perempuan kelahiran Kediri.

Selain itu, Risma meminta kepada lurah dan camat serta Babinsa dan Bhabinkamtibmas untuk berkoordinasi dalam menggelar pertemuan bersama warga. “Tolong dipetakan kecamatan-kecamatan yang perlu didatangi terlebih dahulu. Terutama kecamatan yang padat penduduknya. Tolong kalau bisa, pertemuan itu malam hari. Karena belajar dari pengalaman, kalau acara pertemuan malam hari biasanya penuh,” lanjutnya.

Alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu menilai, sudah waktunya untuk maju atau menyerang. Tidak mungkin terus siaga dan bertahan terhadap ancaman terorisme.

Sebab bila terus bertahan akan tetap berada di bawah kendali para pelaku teror. “Kalau kita terus siaga, sampai kapan bisa bertahan? Sudah saatnya kita maju supaya mereka juga mikir kalau mau masuk ke Surabaya. Menyerang tidak harus dengan senjata,” tutur Risma.

Risma meminta supaya seluruh jajarannya tidak lengah terhadap ancaman terorisme. Orang-orang yang dicurigai harus terus diawasi untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Sementara itu, Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan sangat mengapresiasi langkah cepat yang dilakukan Risma dalam mengumpulkan tiga pilar. Risma dinilai sangat peka terhadap tanggung jawab keamanan di Surabaya. “Begitu melihat di Bangil, Pasuruan, beliau langsung berpikir apa yang harus dilakukan di Surabaya,” sebut Rudi.

Jika dianalogikan dalam hitungan perlawanan, kekuatan dan kewenangan jajaran tiga pilar di Surabaya lebih besar dibanding para pelaku teror. Apalagi Surabaya merupakan Kota Pahlawan yang mewarisi jiwa-jiwa pejuang.

“Jadi jiwa-jiwa pejuang harus terus dikobarkan di Surabaya. Keamanan di Surabaya adalah tanggung jawab kita bersama dan tiga pilar ini harus selalu menjadi pelopor dalam menjaga keamanan dan ketertiban,” tandas alumnus Akademi Kepolisian (Akpol) 1993 itu.

Editor : Sofyan Cahyono

Reporter : (did/JPC)


Close Ads
Risma Siap Perang Lawan Teroris