alexametrics

Masjid-Masjid yang Terdampak Lumpur Panas di Porong

Baitulhamdi Hanya untuk Salat Jumat dan Id
6 Juni 2019, 09:37:51 WIB

Bencana lumpur panas meninggalkan luka yang tidak dapat dilupakan. Bagaimana tidak, semburan lumpur melahap habis kawasan permukiman dan pertanian. Ribuan rumah ditinggalkan. Meski begitu, masih tersisa masjid yang tetap aktif. Namanya Masjid Baitulhamdi, tepatnya di Desa Besuki, Kecamatan Jabon.

MEI 2006, lumpur panas meluluhlantakkan semua di sekitarnya. Hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun, ancaman lumpur panas meluas. Warga Desa Besuki tak luput menjadi korban. Sebagian orang masih sempat membawa barang berharga. Sebagian lain tidak. Ketika lumpur menyerbu, ada warga yang memilih berlindung ke Masjid Baitulhamdi. Mengungsi ke sana.

Mereka merasa aman. Alasannya, posisi bangunan masjid lebih tinggi daripada bangunan lain. Mereka hanya bisa pasrah. Yang terpenting, nyawa berhasil selamat.

Cerita tersebut disampaikan Ghozwan. Kepala takmir Masjid Baitulhamdi itu mengaku baru tahu sehari setelah kejadian. Dia yang tinggal di sebelah timur jalan tol tidak terdampak sedikitpun. Nah, saat mengunjungi masjid sorenya, permukiman sudah kebanjiran lumpur. “Semua warga mengungsi ke masjid,” katanya.

Di lokasi, Ghozwan melihat berlembar-lembar ijazah terendam lumpur. Mulai SD hingga perguruan tinggi. Setelah mengecek kembali, dia mengenali ijazah tersebut. Pemiliknya bernama Efendi. Remaja 23 tahun itu ikut mengungsi bersama warga lain. Ketika ditanya apa yang hilang, Efendi menjawab tidak ada.

Saking pusing dan paniknya, dia lupa segalanya. Efendi hanya ingin dirinya selamat. Namun, dia meninggal 2 sampai 3 tahun setelah peristiwa itu.

Tragedi luapan lumpur tidak dapat dilupakan warga Desa Besuki. Terutama wilayah terdampak di Dusun Besuki, Ginonjo, dan Bubutan. Warga tiga dusun tersebut harus pindah. “Tersebar di wilayah Jabon dan perbatasan Pasuruan,” lanjutnya.

Ghozwan menjelaskan, masjid itu berdiri sejak 1945. Bangunan tersebut tetap kukuh sejak renovasi pada 2001. Lantai dasarnya ditinggikan hingga beberapa sentimeter. Luas bangunan juga ditambah. Daya tampung mencapai ratusan jamaah.

Dalam perjalanannya, renovasi terhambat hingga sekarang. Sebab, pada 2006, masjid itu terdampak lumpur. Walau terdampak, bangunannya masih utuh. ”Jarak dengan permukiman memang lumayan jauh. Tapi, saat salat Jumat bersama, jamaahnya penuh,” ucap pria 69 tahun tersebut.

Menurut Ghozwan, kegiatan masjid hanya salat Jumat dan Id. Walau hanya jam tertentu, jamaah tetap ramai. “Saya diberi nasihat oleh ayah. Daripada mencari 20 murid ngaji, lebih baik menghidupkan masjid dengan salat berjamaah walau jamaahnya sedikit,” tuturnya.

Masjid Baitus Sholihin Tinggalkan Benda Bersejarah

TAK jauh dari Masjid Baitulhamdi. Ada masjid lain di Desa Kedungcangkring, Jabon. Namanya Masjid Baitus Sholihin. Lokasinya juga dekat tanggul lumpur. Masjid itu termasuk bangunan tua dan saksi bisu perkembangan bencana tersebut.

Nuansa kota lama melekat erat. Berarsitektur Belanda disertai rumah pondok. Sebelum azan berkumandang, pengelola masjid memukul beduk kuno yang terbuat dari bambu. Suaranya begitu menggelegar. Tak jauh dari lokasi, ada jam matahari untuk menunjukkan waktu salat.

BERSEJARAH: Masjid Baitus Sholikhin Kedungcangkrin. (Boy Slamet/Jawa Pos)

Ketua Takmir Masjid Baitus Sholihin Muzakkir mengatakan, jam tersebut hanya bisa digunakan setiap duhur dan asar. Penyesuaian waktunya tepat. “Selain jam matahari dan beduk lama, ada sumur tua,” tuturnya.

Hingga sekarang, sumur itu tetap digunakan untuk air wudu. Airnya tidak sebersih dulu. Sering terkontaminasi resapan lumpur yang terbuang ke sungai. “Baunya banger,” katanya.

Kata Muzakkir, sejak terjadi semburan lumpur, permukiman dekat masjid semakin hilang. Banyak warga yang meninggalkan rumahnya ke tempat baru. Dia memilih tetap tinggal. Warga Kedungcangkring itu lebih memilih menetap karena ingin mempertahankan masjid. “Kalau saya pindah, masjid ini bagaimana,” terangnya.

Selama Ramadan, Muzakkir bersyukur karena pengunjung masjid masih banyak. Terutama warga asli. “Mereka tidak bisa lepas dengan masjid ini karena hatinya itu ya di sini. Bukan di rumah yang baru,” ujarnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : oby/c18/c10/roz

Saksikan video menarik berikut ini: