alexametrics

Meski KRL Sering Gangguan dan Anjlok, Warga Ibu Kota Sulit Berpaling

6 April 2019, 18:20:48 WIB

JawaPos.com – Kereta Rel Listrik (KRL) sudah menjadi transportasi yang paling favorit digunakan masyarakat sejak 2008. Bahkan hingga saat ini, sekitar 1 juta penumpang KRL terus memadati puluhan stasiun di Jabodetabek setiap harinya.

Walau rentan mengalami gangguan teknis, menariknya penumpang tetap setia untuk menggunakan kereta. Ketika dikonfirmasi kepada beberapa penumpang yang selalu aktif menggunakan KRL, alasannya bermacam-macam.

“Kenapa gue masih menggunakan, ya karena KRL transportasi satu-satunya akses paling mudah buat gue dari Cakung ke kantor di Pejaten. Udah gitu murah, cepat, lebih aman dari transportasi lain,” ucap karyawan swasta Fitri, 24, di Stasiun Manggarai, Sabtu (6/4).

Menurutnya, bagi pengguna KRL sejati, gangguan teknis memang adalah masalah yang pastinya membuat kesal. Namun karena pilihan transportasi yang nyaman sangat sedikit maka tidak memungkinkan berpindah ke moda lain.

“Pastinya gangguan sangat merugikan dan mengganggu banget apalagi kalau penanganannya lama. Sarannya lebih cepat saja penanganannya,” tegasnya.

Begitu pula dengan salah satu wiraswasta Theo, 31, yang selalu melintasi rute Tanah Abang-Parung Panjang. Menurutnya, gangguan memang menyita waktu saat melakukan aktivitas.

“Bukan ganggu lagi, kadang ya pernah sampai ngomelin petugas karena kan jam kerja, bisa telat dong. Cuma kalau nggak pakai KRL bingung dan kalau nyambung-nyambung ribet,” ungkap Theo.

Lain dengan mahasiswi, Yunita, 22 yang mengaku tidak terlalu masalah dengan gangguan yang terjadi di rute Manggarai-Bogor. Menurutnya, hal itu wajar terjadi terlebih kereta tersebut berbasis listrik.

“Kecewa sih pasti, yang namanya listrik kalau gangguan ya ada saja kan. Cuma selama ini nggak lama, cepat kok ditangani. Ke depannya lebih baik saja dalam jadwal gitu. Soalnya KRL sudah jadi kebutuhan banyak orang,” ujar Yunita.

Pemeliharaan Sarana dan Prasarana

Ilustrasi KRL. (Ismail Pohan/ IndoPos/ Jawa Pos Group).

Pengamat Transportasi Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Aditya Dwilaksana pun sepaham dengan PT KCI. Dirinya melihat gangguan yang terjadi tidaklah berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Gangguan akan naik manakala sudah masuk dalam musim hujan. Peralatan sarana prasarana KRL seperti persinyalan, pemindah jalur, untuk listrik aliran atas itu memang infrastruktur yang rentan untuk curah hujan dan intensitas petirnya tinggi,” kata Aditya.

Menurutnya, adapun secara geografis rute KRL perjalanan Manggarai-Bogor memiliki tren gangguan yang sering karena petir dan hujan lebih aktif dibanding daerah lain. Berbeda dengan daerah yang Serpong yang lebih rentan punya gangguan listrik aliran atas.

“Sebetulnya kalau daerah Depok, Bogor, itu memang karena intensitas petir dan curah hujannya relatif lebih tinggi. Jadi kalau ke arah Tangerang sama Bekasi itu sebenarnya gangguan ada tapi cukup relatif kecil,” tuturnya.

Aditya melihat kondisi cuaca sangat berpengaruh kepada persinyalan daripada kereta. Hal ini seringkali dianggap sepele, namun nyatanya KRL yang diimpor dari Jepang terbiasa untuk adaptif dengan negara 4 musim bukannya negara tropis.

“Persinyalan yang sekarang kita adopsi itu belum sepenuhnya sesuai dengan keadaan negara tropis, sehingga memang sistem prasarana persinyalan terutama itu masih sangat rentan untuk digunakan di negara tropis,” ungkap Aditya.

Antisipasi Gangguan

Ilustrasi KRL. (Dok JawaPos.com)

VP Komunikasi PT KCI Ernie Sylviane Purba menjelaskan, ada beberapa garis besar yang dilakukan pihaknya dengan PT KAI Daop 1. Seperti, melakukan rekayasa pola operasi KRL agar pengguna sebisa mungkin tetap dapat sampai ke tujuannya.

“Jadi sekurangnya kita dapat melayani sedekat mungkin ke stasiun yang tidak terdampak gangguan. Bentuk rekayasa operasi antara lain, jika ada kendala di salah satu jalur rel double track, maka diupayakan KRL melintas bergantian di satu jalur yang masih dapat dilalui,” kata Eva.

Begitu pula yang dilakukan saat gangguan pada gangguan di lintasan Bekasi beberapa hari yang lalu. Ernie menyatakan, ketika kedua jalur double track tidak dapat dilalui maka Stasiun Cakung menjadi stasiun akhir sekaligus stasiun pemberangkatan.

Tidak hanya penanganan, Ernie menyatakan, penyampaian informasi kepada pengguna secara terus-menerus adalah hal yang amat penting. Apa pun kendala yang sedang terjadi perlu disampaikan melalui berbagai jalur komunikasi.

“Ya kita ada aplikasi KRL Acces, TV KRL, pengumuman di stasiun dan di dalam KRL, juga berbagai platform media sosial. Kita beritahu informasi imbauan juga alternatif moda transportasi lain, dan perkiraan waktu penanganan kendala yang terjadi,” terang Ernie.

Hal yang biasa dilakukan pada saat stasiun dalam satu jalur apabila sama sekali tidak dapat dilayani KRL untuk sementara waktu adalah diberikannya kesempatan kepada pengguna untuk melakukan refund tiket.

“Kedua hal tersebut dilakukan bersamaan dengan berbagai upaya memperbaiki kendala sarana maupun prasarana yang terjadi,” tandasnya.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Reyn Gloria

Copy Editor : Fersita Felicia Facette