Wisata Masjid Berpadu Sejarah Sedang Digodok

06/04/2018, 18:32 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
PERESMIAN: Wakil Ketua Dewan Masjid Indonesia Komjen Pol Syafruddin (empat dari kanan) saat meresmikan masjid Radden Patah Universitas Brawijaya (UB), Jumat (6/4). (Fisca Tanjung/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Program wisata religi berbasis masjid sedang digodok. Dewan Masjid Indonesia (DMI) akan mengkombinasikannya dengan aspek sejarah.

Wakil Ketua DMI Komjen Pol Syafruddin mengatakan, saat ini pihaknya sudah melakukan riset mengenai program tersebut. Bahkan ada dua wilayah yang tengah difokuskan untuk menjalankan program wisata religi berbasis masjid.

"Yang kami utamakan Cirebon dan Jawa Timur. Kalau di Jawa Timur, utamanya Surabaya dan Malang," ujar Syafruddin saat menghadiri peresmian Masjid Radden Patah Universitas Brawijaya (UB), Kota Malang, Jawa Timur, Jumat (6/4).

Sebagai permulaan, DMI membidik wisata makam Wali Songo. "Pertama difokuskan di makam Wali Songo. Wali Songo itu jualannya cepat sekali karena terkenal di seluruh dunia. Kalau di Surabaya kan ada sunan ampel," jelasnya.

Syafruddin menerangkan, perkembangan islam secara global sangat maju pesat. Terutama perkembangan masjidnya. Di Indonesia sendiri sudah ada sebanyak 800 ribu masjid. Oleh karena itu, DMI ingin membuat wisata religi berbasis masjid.

Nantinya, masjid tidak semata untuk beribadah. Tetapi multifungsi. "Bisa dimanfaatkan apa saja. Seperti syiar Islam, kajian Islam, semua akan bertumpu di masjid," tandasnya.

Seperti halnya di Masjid Radden Patah UB. Bangunan seluas 7.000 meter persegi itu akan menjalankan beberapa program sesuai DMI. Salah satunya sebagai ruang lembaga zakat dan infaq. "Nanti ada cafetaria syariah, ruang lembaga zakat dan infaq sodakoh. Program itu sangat sejalan dengan program Dewan Masjid," ungkap Syafruddin.

Usai peresmian, Syafruddin sempat berkeliling untuk melihat tiap sudut bangunan masjid. Dia pun mengagumi keindahan arsitekturnya. "Arsitektur sangat indah. Campuran tradisional tapi modern," tuturnya.

Sementara itu, Rektor UB Prof Bisri menerangkan, masjid ini menghabiskan biaya sebesar Rp 39 miliar. Padahal biaya yang sudah dianggarkan sebesar Rp 43 miliar. Sehingga ada efisiensi Rp 4 miliar. "Dananya murni dari kami, bukan berasal dari pihak lain," imbuh Bisri.

(fis/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi