JawaPos Radar

Sumur di Kampung Monggak Batam Mulai Mengering

06/03/2018, 10:28 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Warga Batam
Rais (kanan) ketika menemani istrinya mandi di Gorong-gorong. (Bobi Bani/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Hujan yang tak kunjung turun selama sebulan terakhir, mulai memberi dampak pada ketersediaan air. Terutama warga di kampung-kampung yang masih mengandalkan air sumur untuk memenuhi kebutuhan harian.

Rais, warga Monggak, Kelurahan Rempang Cate, Kecamatan Galang, Batam mengungkapkan, kekurangan air mulai dirasakan sejak pertengahan Februari lalu. Debit air di sumur-sumur warga mulai berkurang seiring dengan tidak adanya hujan. Ditambah lagi dengan cuaca terik yang berlangsung hampir sepanjang hari.

Untuk mengatasi permasalahan air, Rais bersama warga lainnya terpaksa mengambil air dari aliran bukit yang jaraknya cukup jauh. Mata air itu menjadi alternatif meski kualitasnya tidak sebaik air sumur. "Inilah yang ada. Air di kampung sudah kering. Musim kemarau selalu susah air," kata Rais, Selasa (6/3).

Warga terkadang harus mengantre untuk mengambil air di lokasi tersebut. Terlebih ketika sore hari. Karena warga tidak hanya mengambil air saja. Namun ada juga warga yang mandi dan mencuci di tempat tersebut.

Kondisi ini memang sudah sama-sama dimaklumi warga. Sehingga tidak heran kalau hingga malam lokasi yang berjarak lebih dari dua kilometer dari pemukiman itu masih ramai. "Sama-sama saja kami. Ini tempat umum, jadi tak ada yang melarang," ujar Rais.

Hal senada disampaikan warga lainnya, Rusdin. Dia mengaku kemarau kali ini memang cukup mengkhawatirkan. Terlebih belum ada hujan sama sekali dalam sebulan terakhir. Ia harus bangun pagi-pagi untuk bisa mendapatkan air di sumur. Itupun hanya beberapa ember. "Tak cukup kalau cuma ngambil di sumur. Siang pasti mengambil di gorong-gorong (nama lokasi aliran air) lagi," kata Rusdin.

Kondisi yang terjadi di kampung Monggak memang sesuai dengan prediksi Badan Meteorologi Klimatologi Geofiksika (BMKG) Stasiun Meteorologi Klas I Hang Nadim Batam. Kondisi panas dan kemarau dipengaruhi kelembaban udara yang rendah di lapisan atas. Hal itu kurang mendukung proses pertumbuhan awan konvektif yang merupakan cikal bakal kumpulan uap air yang bisa menjadi hujan.

Kondisi ini diperkiraan masih terjadi sampai awal maret 2018. Kepri merupakan daerah dengan tipe hujan equatorial yang memiliki dua puncak hujan. Yakni, pada Mei dan November. Apabila tidak terjadi fenomena alam yang di luar kebiasaan, maka Februari dan Juli merupakan bulan dengan intensitas hujan yang rendah.

(bbi/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up