JawaPos Radar

Mensos: Persoalan KLB di Agats, Papua Kompleks

06/02/2018, 01:07 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Mensos
Mensos Idrus Marham saat memberikan keterangan soal fenomena KLB, gizi buruk dan campak usai meresmikan pemberangkatan tim medis Unhas, Makassar untuk Asmat, Senin (5/2) (Syahrul Ramadan/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Fenomena kejadian luar biasa (KLB) gizi buruk dan campak yang melanda sebagian besar masyarakat di Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Papua, menjadi perhatian serius Pemerintah.

Upaya untuk meminimalisir hingga mengobati dampak dari mengakarnya pernyakit itu di tengah-tengah masyarakat, terus ditindaklanjuti agar terciptanya solusi. Hal itu diungkapkan Menteri Sosial (Mensos) Idrus Marham sewaktu ditemui di Unhas, Makassar, Senin (5/2). 

"Pada pemerintahan Jokowi-JK itu sudah mengawali dan melihat bahwa yang paling mendasar di sana itu adalah karena Kabupaten, masyarakat ini terisolasi. Sehingga melakukan komunikasi antar mereka itu sangat sulit," kata dia.

Menurut Idrus, pemerintah saat ini telah memulai dan juga mencari suatu cara dalam konteks solusi untuk meretas bahkan memutus jika kawasan atau zona Asmat yang dianggap selama ini tersisolasi. 

"Pak Jokowi sudah memulai dengan satu cara untuk memutus kawasan yang selama ini terisolasi. Itu adalah dengan pembangunan infrastruktur. Karena itu telah dimulai dengan pembangunan jalur trans Papua," kata Idrus. 

Rencana itu katanya, merupakan bentuk solusi yang bisa menjamin dan merambah ke segala sektor. Baik, kesehatan, pendidikan hingga pemberdayaan masyarakat di Asmat. 

"Saya juga sudah kesana. Saya sampaikan kalau memperhatikan, kondisi dan lingkungan termasuk budaya Asmat yang ada sekarang ini, yang melahirkan KLB, campak dan gizi buruk itu perlu pendekatan secara terpadu, menyeluruh dan berkesinambungan," ucapnya. 

Faktor penyebaran penyakit itu disebut Idrus bukanlah sesuatu yang tunggal tanpa sebab. Persoalan asupan makanan, hingga kondisi lingkunganlah yang kemudian paling mempengaruhi dan menjadi faktor utama timbulnya kasus tersebut. 

"Makanya pemerintah telah menentukan bahwa pendekatan pembangunan yang kita lakukan di sana. Karena kita tidak ingin kalau selesai campak, gizi buruk bisa diatasi jadi terhenti. Tapi ini terus menerus kita lakukan bersama-sama," imbuh dia. 

Pemerintah ditambahkan Idrus juga meyakini dengan pembangunan infrastruktur khususnya trans Papua, bisa menjadi pintu masuk keberlangsungan hidup masyarakat khususnya Asmat menjadi berkembang. 

"Dengan pembangunan infrastruktur itu akan membwa implikasi terhadap kehidupan masyarakat Papua yang sangat positif. Kita juga dapat memutus isolasi," tutupnya. 

(rul/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up