alexametrics
Kecelakaan Pesawat Lion Air JT-610

Harusnya Terbang ke Surabaya, Pramugari Magang Ini Pindah Jadwal

5 November 2018, 06:50:34 WIB

JawaPos.com – Menjadi seorang pramugari menjadi salah satu cita-cita anak-anak perempuan di masa kecil. Tak terkecuali Endang Sri Bagusnita, 20. Salah satu korban nahas tragedi jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 tersebut sudah menyimpan cita-cita sebagai pramugari sejak dulu.

Impiannya terwujud sekitar empat bulan silam. Dia diberi kesempatan magang oleh perusahaan maskapai penerbangan Lion Air. Meski statusnya masih menjalani masa training, di mata keluarga dan rekan-rekannya, Endang sudah berhasil mewujudkan cita-cita yang diimpikannya sejak kecil.

Anak pertama dari pasangan Yuli dan Sutejo itu dikenal cerdas dan memiliki banyak penghargaan. Kesaksian itu pun disampaikan sahabat ayahnya, Rusdi, 45. Warga yang bertempat tinggal di Mess B PT IKAD Perum Kedaung, Kelurahan Kutajaya, Kecamatan Pasar Kemis, Tangerang, itu sudah mengenal Endang sejak kecil.

“Saya sudah bertahun-tahun bersama Pak Tejo, bapak Nita. Saya tahu banget dari kecilnya. Memang dari kecil mau jadi pramugari. Anaknya pintar sering dapat penghargaan,” ujarnya saat di tempat tinggalnya, Minggu (4/11).

Kebahagiaan Endang diterima menjadi pramugari pun diungkapkan melalui akun Instagram-nya pada 23 September lalu. Endang mem-posting gambar berupa seragam resmi pramugari Lion Air, kartu identitas pramugari, sepatu pramugari, sebuah tas, dan jam tangan. Melalui foto itu, Endang menulis caption: see you on board.

Hal serupa disampaikan rekan satu mess di Perum Kedaung PT IKAD, Rian, 26. Ia tidak menyangka jika penerbangan Endang ke Pangkalpinang menjadi mimpi buruk bagi keluarga dan rekan-rekannya.

Sebelum penerbangan ke Pangkalpinang, Endang sudah terbang dengan rute Soekarno Hatta-Makassar. Seharusnya Endang pun tak ada dalam pesawat nahas itu. Namun takdir berkata lain, Endang ternyata menumpang di pesawat itu.

Pada hari itu, Endang dijadwalkan terbang menuju Surabaya. Akan tetapi, karena ada perubahan pembagian jadwal pramugari, Endang harus menggantikan rekannya dan terbang ke Pangkalpinang dengan Lion Air JT-610.

“Seharusnya, Minggu pagi itu Endang terbang ke Surabaya, bukan ke Pangkalpinang. Karena ada perubahan jadwal pramugari, Endang terbang ke Pangkalpinang,” kata Rian.

Terakhir kali warga mess bertemu Endang pada Jumat (28/10). Setiap Jumat dan Sabtu, kata Rian, Endang menyempatkan waktu bertemu dengan kedua orang tuanya yang menempati Perum Kedaung Mess B tempat ayahnya bekerja. Sebab, sejak diterima sebagai siswa magang pramugari, Endang tinggal di Talaga Bestari, Sindang Jaya, Kabupaten Tangerang.

“Hari Jumat sempat ketemu. Bahkan, Sabtu sempat ngerujak sama teman-teman mess sekitar 10 orang. Karena saya harus pulang, saya nggak ikut. Teman-teman mengabari, nggak nyesel lu, nggak ikut ngerujak?” ujar mengingat kenangan Endang.

Keluarga korban juga sempat menyangka Endang tidak masuk dalam manifes pesawat. Namun pihak maskapai menginformasikan kepada keluarga melalui sambungan telepon bahwa Endang tardaftar dalam menifes pesawat nahas itu.

Diketahui, jasad almarhumah Endang merupakan salah satu penumpang yang berhasil diketahui identitasnya melalui sidik jari pada Sabtu (3/11) oleh tim Disaster Victim Identification Kepolisian Republik Indonesia (DVI POLRI).

Informasi tersebut diumumkan setelah adanya kecocokan hasil tes forensik dan antemortem dengan data DNA yang sebelumnya sudah diberikan pihak keluarga kepada tim DVI Polri.

Editor : Fersita Felicia Facette

Reporter : (ce1/wiw/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Harusnya Terbang ke Surabaya, Pramugari Magang Ini Pindah Jadwal