JawaPos Radar

Banyuwangi Segera Punya Taman Keren Dilengkapi Seribu Penari Gandrung

05/10/2018, 19:12 WIB | Editor: Dhimas Ginanjar
Banyuwangi Segera Punya Taman Keren Dilengkapi Seribu Penari Gandrung
Bupati Abdullah Azwar Anas saat melihat seribu visualisasi penari Gandrung Banyuwangi. (Pemkab Banyuwangi for JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com – Banyuwangi menambah destinasi menarik untuk wisata. Namanya, Taman Gandrung Terakota (TGT) di lahan sawah terasering kawasan Jiwa Jawa Ijen Resort di kaki Gunung Ijen. Unggulannya, punya seribu visualisasi penari Gandrung Banyuwangi. Rencananya, bakal diresmikan Sabtu, 20 Oktober mendatang.

Saat ini, taman itu berada dalam tahap finalisasi. Menurut Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, taman itu bakal menjadi ikon baru wisata Banyuwangi. Diinisiasi oleh swasta tanpa APBD. ’’Insya Allah nanti Ibu Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan maupun Menteri Pariwisata berkenan meresmikan,’’ ujar Anas, Jumat (5/10).

Peresmian direncanakan pada 20 Oktober. Bertepatan dengan jadwal pelaksanaan Festival Gandrung Sewu. Parade kolosal ribuan penari di bibir Pantai Marina Boom. Tari Gandrung merupakan kesenian yang telah ditetapkan Warisan Budaya Tak-Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tari itu kerap tampil di berbagai acara Istana Negara sampai kancah internasional.

Banyuwangi Segera Punya Taman Keren Dilengkapi Seribu Penari Gandrung
Taman Gandrung Terakota (TGT) di lahan sawah terasering kawasan Jiwa Jawa Ijen Resort di kaki Gunung Ijen punya visualisasi 1.000 penari Gandrung Banyuwangi (Pemkab Banyuwangi for JawaPos.com)

Terakota sendiri adalah nama lain dari tembikar atau gerabah sebagai bahan dasar visualisasi penari gandrung ini. “Taman ini adalah situs untuk merawat dan meruwat Tari Gandrung sebagai salah satu identitas budaya Banyuwangi,” ujar Sigit Pramono, penggagas Taman Gandrung Terakota yang juga pemilik Jiwa Jawa Resort.

Sigit menambahkan, upaya merawat dan meruwat budaya tersebut sengaja dilakukan dengan pendekatan kawasan, di mana situs budaya ini terhampar di puluhan hektar lahan persawahan yang dibiarkan tetap alami.

“Pada intinya, kesenian Gandrung memang berasal dari tradisi rakyat, yang awalnya adalah wujud syukur atas hasil pertanian yang melimpah. Karena itu, situs rawat-ruwat Tari Gandrung ini pun kita hamparkan berdampingan dengan aktivitas rakyat, yaitu petani yang tetap membajak sawah dengan kerbau, menanam dan memanen padi,” ujar bankir senior mantan direktur utama BNI tersebut.

Berada di taman tersebut, pengunjung bisa menikmati keindahan Gunung Ijen yang memiliki tinggi 2.443 meter di atas permukaan laut (mdpl) di sisi barat. Di Ijen itulah terdapat kawah yang memancarkan api biru (blue flame) yang mendunia. Menengok ke timur, akan terlihat birunya Selat Bali.

Sigit mengatakan, pihaknya sengaja memilih bahan tanah liat yang lebih rentan. Namun, dari kerentanan itulah, ada nilai tersendiri yang akan diusung dalam galeri raksasa terbuka ini. “Justru itulah makna dan nilai yang kita tawarkan, kesenian dan ketidakabadian. Karena, yang abadi adalah proses, makna dan nilai-nilai yang melekat di dalamnya,” terangnya.

Taman Gandrung Terakota terinspirasi dari Terracotta Warrior and Horses di Tiongkok yang dibangun pada masa Kaisar Qin Shi Huang (259-210 SM). Penataannya melibatkan kurator seni rupa dari Galeri Nasional Indonesia sekaligus dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Dr Suwarno Wisetrotomo.

Taman Gandrung Terakota tidak hanya menyajikan deretan patung-patung penari gandrung. Memasuki kawasan ini, pengunjung dipertontonkan bukit hijau dan hamparan sawah, para petani membajak sawah, kebun kopi, pohon durian, beraneka jenis bambu, dan tanaman endemik setempat.

Di tengah hamparan tersebut ditemukan amfiteater terbuka untuk pertunjukan kesenian berjadwal dan perhelatan musik jazz.

(wir/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up