JawaPos Radar

Moralitas dan Lemahnya Pendidikan Politik Pemicu Korupsi di Indonesia

05/09/2018, 20:03 WIB | Editor: Budi Warsito
Moralitas dan Lemahnya Pendidikan Politik Pemicu Korupsi di Indonesia
Ilustrasi korupsi (Dok. JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Kasus dugaan suap dan gratifikasi seakan tak ada hentinya. Baru-baru ini, 41 orang anggota DPRD Kota Malang ditetapkan menjadi tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Terkait dengan hal itu, Pengamat Politik asal Sumatera Barat (Sumbar), Najmudin Rasul menyatakan, penyakit korupsi ini tak lepas dari persoalan moralitas dan kualitas anggota parlemen.

"Kasus itu memperkuat alasan, jika Parpol belum melakukan fungsinya dengan baik. Mulai dari rekruitmen, kaderisasi dan pendidikan politik untuk para politisi," kata Najmudin kepada JawaPos.com, Rabu (5/9).

Pengajar Universitas Andalas (Unand) itu menduga, para elit Parpol hanya menggunakan Parpol sebagai "alat" transaksi. "Padahal, Parpol adalah lembaga politik yang seharusnya melahirkan tokoh-tokoh daerah dan Nasional," tegasnya.

Sehingga, tidak ada alasan untuk tidak mengatakan, degradasi mora para politisi adalah dampak kegagalan pembinaan dari Parpol. "Ini akibatnya transaksi Caleg dengan elit tanpa kaderisasi dan pendidikan politik," tegas doktor komunikasi politik lulusan Universitas Kebangsaan Malaysia ini.

Sebelumnya, publik Indonesia kembali dikejutkan kasus korupsi berjamaah yang terjadi di Malang. Tak tanggung-tanggung, 41 dari 45 anggota DPRD Kota Malang ditangkap KPK dan ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap dan gratifikasi penetapan RAPBD-P kota Malang tahun 2015 silam oleh Wali Kota Malang non-aktif Moch Anton.

(rcc/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up