JawaPos Radar

Sidak E-KTP, Emosi Risma Memuncak Dapati Panjangnya Antrean Pemohon

05/07/2018, 14:43 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengarahkan anak buahnya untuk mencari cara memangkas prosedur perekaman hingga pencetakan e-KTP karena panjangnya antrean.  (Aryo Mahendro/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini melakukan inspeksi mendadak di Gedung Siola. Tepatnya, di kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Surabaya, Kamis (5/7).

Di hadapan pegawai Dispendukcapil, emosi Risma memuncak melihat lamban dan panjangnya antrean proses e-KTP. Hal itu terjadi menyeluruh, mulai dari perekaman hingga pencetakan e-KTP. Risma pun mengaku heran lantaran membludaknya antrean sudah terjadi sejak Rabu (4/7) kemarin.

Usut punya usut panjangnya antrean tersebut terjadi lantaran pemohon proses biometrik (sidik jari) pada tahap perekaman yang tidak bermasalah juga diminta untuk mengantre. Atreannya pun digabung bersama pemohon lain yang tidak bermasalah. Akibatnya antrean menjadi cukup panjang.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini
Risma berencana melakukan pengadaan beberapa alat secara swadaya. Antara lain, peralatan finger print, scan retina, dan mesin printer. (Aryo Mahendro/JawaPos.com)

"Yang bermasalah biarin saja. Itu masalah dia (pemohon E-KTP). Yang nggak ada masalah langsung diarahkan ke loket perekaman. Jangan disuruh ikut antre. Nggak fair itu," kata Risma di Gedung Siola, Kamis (5/7). 

Menurutnya, memang ada sejumlah kendala pada peralatan perekaman e-KTP. Salah satunya keterbatasan peralatan yang dimiliki. Sehingga, pihaknya perlu mengambil alat dari sejumlah wilayah kecamatan yang masih berfungsi. 

Selain itu, guna meminimalisir antrean, Risma berencana melakukan pengadaan beberapa alat secara swadaya. Antara lain, peralatan finger print, scan retina, dan mesin printer. Pengadaan blanko juga akan dilakukan. Mengingat, jumlah pemohon e-KTP dan blanko tidak seimbang. 

"Saya juga sudah surati Ditjen Dukcapil Kemendagri untuk pengadaan alat card reader," kata Risma. 

Sementara itu, Kepala Dispendukcapil Surabaya Suharto Wardoyo mengatakan, antrean didominasi warga yang wilayah kecamatannya mengalami kerusakan alat rekam. "Sehingga, hanya alat rekam di kantor Dispendukcapil yang masih dapat digunakan," kata Suharto. 
 
Selain itu, diantara antrean, ada juga warga yang belum mencetak e-KTP. Padahal sudah melakukan perekaman berkali-kali. Mayoritas, adalah warga 17 tahun ke atas (siswa sekolah) yang baru sempat mengurus e-KTP saat libur sekolah. 

"Sehingga harus dilakukan perekaman ulang sebelum dicetak. Kalau masih tidak bisa juga, kami akan lakukan proses biometri (scan sidik jari dan retina)," jelasnya.

(HDR/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up