alexametrics
Banyak yang Tinggalkan Ajaran Nenek Moyang

Pecinan Sepi Saat Imlek, Tradisi Tionghoa di Surabaya Terancam Punah

5 Februari 2019, 17:23:09 WIB

JawaPos.com- Perayaan Tahun Baru Imlek 2570 di Surabaya cenderung sepi. Gemerlap lampion berwarna merah yang biasa menyemarakkan Imlek seolah tenggelam di tengah-tengah lengangnya jalanan. Tidak ada euforia Imlek di kawasan Pecinan Kota Pahlawan.

Dari pantauan JawaPos.com, Selasa siang (5/2), kawasan Pecinan mulai  Jalan Kembang Jepun (Kya-Kya), Jalan Karet, Jalan Slompretan, Jalan Coklat, hingga Jalan Dukuh tampak sepi. Hanya, terlihat aktivitas warga di Jalan Jagalan dan Jalan Kapasan. Itupun karena dua jalan itu merupakan akses jalan besar. Selain itu, jalanan tersebut ramai hanya karena ada kegiatan sembahyang di Kelenteng Pak Kik Bio dan Kelenteng Boen Bio.

Banyak warga Tionghoa di Surabaya yang melaksanakan ritual sembahyang kedua setelah malam Imlek kemarin malam (4/1). Ada juga warga sekitar yang hanya sekadar berjualan di depan kelenteng.

Ahli Sejarah Perkotaan Universitas Airlangga (Unair) Purnawan Basundoro mengatakan, ada sejumlah faktor yang menyebabkan matinya kehidupan dan euforia Imlek di Pecinan Surabaya. Pertama, karena faktor pergeseran simbol kultural. Pecinan saat ini hanya dijadikan wadah perniagaan.

“Pecinan di Surabaya, sepi. Yang paling berubah itu simbol kultural Tiongkoknya. Di Surabaya, warna ke-Tiongkokannya sudah luntur. Karena kawasan Pecinan lebih banyak untuk aktivitas bisnis,” kata Purnawan kepada JAwaPos.com, Selasa (5/2).

Purnawan menambahkan, mayoritas area Pecinan di Surabaya bukan kawasan pemukiman. Meski dimiliki warga Tionghoa, banyak bangunan yang berfungsi sebagai toko atau bangunan nontempat tinggal.

Sedangkan tempat tinggal warga Tionghoa tersebar di seluruh Surabaya. Khususnya, warga Tionghoa yang berprofesi sebagai pedagang. Mereka banyak menempati sejumlah pemukiman elite di Surabaya Barat.

“Masyarakat yang di kawasan Pecinan itu tidak menggunakan bangunan sebagai tempat tinggal. Itu yang menyebabkan, warna dan simbol Tionghoa di Pecinan luntur,” tambahnya.

Kedua karena faktor budayanya sendiri. Purnawan menjelaskan, budaya warga Tionghoa mulai luntur sejak Orde Baru (Orba) melarang segala hal yang berbau Tiongkok. Dampaknya mendarah daging hingga kini. Generasi muda Tionghoa seoalah apatis.

Purnawan mengatakan, banyak anak muda Tionghoa yang tidak begitu tahu tentang tradisi nenek moyangnya. Sehingga hanya golongan orang tua yang mendominasi kegiatan sembahyang di kelenteng.

“Saya kira mereka (anak-anak muda Tionghoa) sudah tidak lagi menganut tradisi Tionghoa. Mereka sudah ikut arus dengan tradisi modern yang lebih kental budaya barat,” kata Purnawan.

Ketiga, soal arsitektur. Bangunan berarsitektur Tiongkok di kawasan Pecinan Surabaya sudah hampir tidak ada. Banyak warga Tionghoa yang lebih senang dengan bentuk bangunan yang modern dan praktis.

Arsitektur Tiongkok memang tergolong rumit. Terbukti, banyak gedung berarsitektur khas Belanda yang masih tampak di kawasan Pecinan Surabaya.

Kecuali kelenteng, nyaris seluruh bangunan di Pecinan itu kurang terawat. “Itu (kelenteng) benteng terakhir Tiongkok atau ornamen Tionghoa di Surabaya. Saya prediksi kalau kondisinya begini terus, 5 tahun lagi tradisi Tionghoa bisa punah,” tuturnya.

Senada dengan itu, Pakar Tata Kota Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Johan Silas menerangkan, Pecinan di Surabaya memang area perdagangan. Selain itu, mayoritas warga Tionghoa yang punya toko di kawasan Pecinan hanya beraktivitas hingga pukul 14.00 WIB.

Ditanya soal arsitektur bangunan, dia mengatakan, memang sudah tidak ada gedung yang bergaya Tiongkok. Terutama di sepanjang Jalan Kembang Jepun. Menurutnya, pelebaran jalan oleh Pemerintah Kota (pemkot) Surabaya pada era 1970an menyebabkan berkurangnya bangunan berarsitektur Tiongkok.

Meski tidak terlalu lebar, pemilik gedung terpaksa merelakan sedikit bagian depan bangunannya untuk trotoar. Itulah yang akhirnya mendorong warga Tionghoa merombak gedungnya dengan arsitektur bangunan yang modern dan praktis.

“Sebetulnya mereka (warga Tionghoa) terpaksa melakukan itu, karena mencari efisiensi. Selain itu, warga Tionghoa tempat tinggalnya juga di Jalan Kapasan sejak dahulu. Bukan di Jalan Kembang Jepun,” jelas Johan.

Oleh sebab itu, Johan berpendapat, kondisi seperti itu merupakan celah bagi pemkot untuk merevitalisasi kawasan Pecinan menjadi cagar budaya. Sehingga, nuansa Pecinannya dapat kembali hidup dan dipertahankan.

“Sekarang pembangunan di Surabaya meluas ke Selatan, Barat, dan Timur. Jadi mengurangi beban (kepadatan penduduk) di kota lama. Sehingga, pemkot dapat memugar bangunannya jadi cagar budaya,” tegas Johan.

Editor : Dida Tenola

Reporter : Aryo Mahendro

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Pecinan Sepi Saat Imlek, Tradisi Tionghoa di Surabaya Terancam Punah