alexametrics

Imlek, 100 Burung Pipit Terjual Dalam Sehari

5 Februari 2019, 15:28:51 WIB

JawaPos.com – Beragam cara dilakukan warga keturunan Tionghoa dalam merayakan Imlek. Seperti di kawasan Kelengteng Xian Ma, Jalan Sulawesi, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Di sana, etnis Tionghoa melaksanakan tradisi pelepasan burung pipit.

Humas Kelenteng Xian Ma Robbyanto Rusli mengatakan, pelepasan burung pipit saat perayaan Imlek memiliki arti tersendiri bagi etnis Tionghoa. “Melepas burung pipit memiliki arti tersendiri dalam kepercayaan kami. Sebagai bentuk bentuk memohon pengampunan kepada yang kuasa,” kata Rubbyanto, Selasa (5/2).

Pelepasan burung pipit biasanya dilakukan setelah sembahyang. Berdasarkan kisah yang ditulis dalam kitab Lie zi, tradisi membeli dan melepaskan binatang dikenal dengan sebutan Fang Sheng.

Tradisi tersebut sudah dilakukan di Tiongkok sejak 2.300 tahun silam. “Melepas hewan ke alam liar bisa memberikan pengaruh kepada peruntungan dan kehidupan. Harus dilakukan dengan sikap belas kasih untuk menjaga keseimbangan alam,” jelasnya.

Burung pipit yang dilepaskan didapat dari pedagang yang berjualan di sepanjang Jalan Sulawesi. Kawasan itu dikenal sebagai pusat pecinan. Mayoritas penghuninya warga keturunan Tionghoa.

Wihara dan kelenteng bahkan dipusatkan di sepanjang Jalan Sulawesi. “Jadi ini dimanfaatkan menjual (burung pipit) di sekitar wihara dan kelenteng untuk keperluan ritual Fang Sheng,” tutur Rubbyanto.

Salah satu pedagang burung pipit Daeng Unjung mengaku selalu berjualan di depan Kelenteng Xian Ma saat perayaan Imlek. Lokasi itu di pilih karena padatnya etnis Tionghoa yang melaksanakan ibadah sepanjang hari.

“Iya, sudah berapa tahun pasti kalau Imlek begini. Kami jualan lagi di sini. Kami tahu pasti. Karena pasti ada tradisi beli burung, baru langsung dilepaskan lagi,” terang pedagang asal Jalan Minasaupa, Makassar ini.

Ratusan burung pipit yang dijual merupakan hasil tangkapan. Biasanya seminggu sebelum perayaan Imlek, Unjung mulai mencari burung di area persawahan di luar Kota Makassar.

Penangkapan dilakukan dengan cara tradisional menggunakan jaring. Jadi proses penangkapan burung pipit tak sampai merusak area persawahan atau kebun warga.

“Sampai di Kabupaten Takalar dan Kabupaten Jeneponto. Di sana banyak sawah-sawah. Kami tangkap pakai jaring. Satu kali biasa terkumpul banyak, puluhan ekor,” terang Unjung.

Untuk setiap ekornya, burung pipit dijual Rp 2.000. Omzet yang didapatkan cukup untuk memenuhi keperluan sehari-hari. “Harganya sudah segitu. Karena kami tidak sendiri (jualan) di sini. Ada yang lain juga. Kalau pendapatan pasti ada. Biasa sampai habis hampir seratus ekor satu hari. Kalau selesai Imlek masih ada sisa, kami jual di tempat lain,” ulas Unjung.

Editor : Sofyan Cahyono

Reporter : Sahrul Ramadan

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Imlek, 100 Burung Pipit Terjual Dalam Sehari