alexametrics
Perayaan Imlek di Pesisir Kepri

Berharap Keberuntungan dengan Sajikan Ikan Dingkis

5 Februari 2019, 05:30:38 WIB

JawaPos.com – Masyarakat Tionghoa di Tanah Air memiliki tradisi sendiri-sendiri dalam merayakan Imlek. Mulai dari merias tempat ibadah hingga menyajikan kuliner khusus.

Seperti di pesisir Batam, Kepulauan Riau. Warga Tionghoa di sana wajib menghadirkan ikan Dingkis dan jeruk dalam merayakan Imlek. Ikan Dingkis diyakini membawa keberuntungan. Jadi keberadaannya selalu diwajibkan. Meski terkadang warga Tionghoa harus mengeluarkan biaya banyak untuk menyajikan ikan Dingkis.

“Walaupun cuma satu ekor, ikan dingkis wajib ada. Karena itu ikan pembawa keberuntungan,” kata Laiki, 28, warga Tionghoa di Kampung Sembulang, Kelurahan Sembulang, Kecamatan Galang, Batam.

Ikan Baronang
Ikan Dingkis. (Istimewa)

Dalam prosesi sembahyang, ikan Dingkis menjadi makanan yang memiliki posisi tertinggi bersama jeruk. Mengalahkan daging ayam dan makanan lainnya. Ini yang menjadikannya sebagai salah satu fenomena dalam setiap perayaan Imlek.

Bagi warga Tionghoa, ikan Dingkis dikenal dengan sebutan Phaicia atau ikan Imlek. Ikan biasanya disajikan utuh satu ekor dengan cara dibakar. Selain itu, ikan juga dimasak dengan campuran sayur daun bawang untuk hidangan kepada tamu yang datang.

Laiki lantas menjelaskan alasan ikan Dingkis disebut membawa keberuntungan. Ikan yang umum dikenal dengan nama Baronang itu hanya ada di pesisir Kepri saat tahun baru Imlek. Selain itu, momen tahun baru Imlek juga menjadi waktu ikan Dingkis bertelur.

“Ikan Dingkis paling banyak waktu Imlek. Dia bertelur juga pas Imlek. Jadi memang ada untuk perayaan Imlek. Membawa kebaikan untuk kami,” ungkap Laiki.

Beberapa hari menjelang perayaan Imlek, masyarakat Tionghoa pasti sudah bergerilya mencari ikan Dingkis. Biasanya mereka akan memesan terlebih dahulu agar bisa mendapatkan ikan keberuntungan tersebut untuk keperluan sembahyang.

Sementara itu, Humas Maha Vihara Duta Maitreya Bukit Beruntung Alfin Oyolanda menambahkan, menyajikan ikan Dingkis bagi masyarakat Tionghoa di pesisir Batam sejatinya tidak menjadi kewajiban dalam ajaran Budha. Hal tersebut lebih kepada budaya yang kemudian dianggap memberikan dampak bagi kehidupan masyarakat Tionghoa di pesisir.

Masyarakat Tionghoa memang memiliki kecenderungan menggunakan kearifan budaya sesuai dengan daerah masing-masing. Di daerah Kepri dan Batam, warga Tionghoa menjadikan ikan Dingkis sebagai pembawa keberuntungan. Bagi masyarakat Tionghoa di daerah lain, ada jenis makanan lain yang dianggap berdampak pada kehidupan di masa mendatang.

“Itu hanya budaya saja. Tetapi memang orang Tionghoa suka dengan hal-hal seperti itu. Memang terjadi juga di daerah lain. Seperti di jakarta ada yang menganggap buah Srikaya itu membawa rezeki yang membuat kaya,” terang Alfin.

Editor : Sofyan Cahyono

Reporter : Bobi Bani

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Berharap Keberuntungan dengan Sajikan Ikan Dingkis