JawaPos Radar

Ribuan Nelayan Sumut Gelar Aksi Damai di Gedung DPRD

05/02/2018, 15:13 WIB | Editor: Soejatmiko
Ribuan Nelayan Sumut Gelar Aksi Damai di Gedung DPRD
Ribuan nelayan Sumatera Utara meneriakkan yel-yel di depan gedung DPRD Sumut,Senin (5/2) (prayugo Utomo/jawapos.com)
Share this

JawaPos.com -- Ribuan nelayan tradisionil Sumatera Utara melakukan aksi unjuk rasa di depan gedung DPRD, Senin (5/2). Mereka berasal dari aliansi Nelayan Tradisional Sumatera Utara yang datang  dari tujuh kabupaten/kota yakni, Tanjung Balai, Asahan, Batubara, Serdang Bedagai, Deli Serdang, Langkat dan kawasan Belawan.

Dalam aksinya mereka membawa spanduk, banner, plakat yang memprotes penggunaan kapal cantrang dan crawls. Sejumlah tulisan itu diantaranya, Stop Cantrang/Crawls di perairan Indonesia, Nelayan Tradisionil Sumatera Utara Tolak Cantrang/Trawls, Permen KPP NO 71 Tahun 2016 Harus Ditegakkan Kami Dukung Bu Susi Pudjiastuti. Sementara ratusan polisi terlihat siaga di depan pintu gerbang gedung DPRD Sumut.

 

Ribuan Nelayan Sumut Gelar Aksi Damai di Gedung DPRD
STOP penggunaan cantrang dan Trawl (prayugo utama/jawapos.com)

Dalam orasinya, salah seorang koordinator lapangan (korlap) menyampaikan  ada permainan dalam penindakan pukat cantrang di wilayah Laut Sumatera Utara.

Syawaluddin Pane, Nelayan asal Batubara mengatakan, mereka pernah menangkap enam boat cantrang yang beroperasi di wilayah Batubara. Setelah diserahkan ke Dinas perikanan, kapal itu malah bisa beroperasi kembali.

 

"Kami serahkan kapal ke Ditpolair. Kemudian Ditpolair menyerahkan kepada Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi. Tapi kami heran, kenapa pukat tangkap itu bisa kembali ke Batubara. Kami menduga ada permainan uang di sana. Sehingga mereka bisa bebas kembali," kata Syawaluddin disela aksi.

 

Syawaluddin meminta agar pemerintah bisa tegas menindak pukat cantrang. Mereka tidak mau sampai ada korban antara nelayan tradisional dengan modern karena terlibat bentrok di lapangan.

Penggunaan pukat cantran juga merusak ekosistem laut di Sumut. Syawaluddin menjelaskan, pukat sering beroperasi di daerah tepi laut tempat dimana ikan paling banyak berkembang biak.

 

Kini, kondisi daerah pinghitan laut sudah banyak yang rusak. Karena pukat cantrang menggunakam papan yang menangkap ikan sampai ke dasar.

"Kalau daerah pinggir laut itu sudah rusak mau bagaimana lagi kami nelayan tradisional ini mencari ikan. Kami semaoin miskin karena tidak ada ikan di laut," tukasnya.

(pra/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up