alexametrics

Serba-serbi Transportasi Masal Joglosemar, Kini Dulu dan Akan Datang

4 November 2018, 12:54:00 WIB

JawaPos.com – Sejumlah upaya mengurai kepadatan lalu lintas terus diupayakan oleh pemerintah setempat, seperti halnya di Joglosemar (Jogja, Solo dan Semarang). Selain rekayasa lalu lintas, mereka juga berupaya mengoptimalkan angkutan publik yang dimiliki.

Di Semarang hadir Trans Semarang, Jogja dengan Trans Jogja dan Kota Solo dengan Batik Solo Trans.

Trans Semarang merupakan sebuah layanan angkutan massal berbasis BRT (Bus Rapid Transit) yang dioperasikan perdana tahun 2008 silam. Memiliki tujuan agar ada penguraian kemacetan di Kota Semarang serta mengakomodir para penglaju menuju pusat kota, apakah benar layanan ini yang membuat punahnya angkutan kota di Kota Lunpia?

Serba-serbi Transportasi Publik Joglosemar
INFOGRAFIS: Serba-serbi Transportasi Publik Joglosemar (Kokoh Praba/JawaPos.com)

Untuk diketahui, Trans Semarang melayani sebagian besar trayek utama yang dulunya dilalui oleh angkutan kota berupa bus berukuran sedang. Dimana kini, area melintasnya dibagi ke dalam tujuh koridor utama.

Koridor I jurusan Terminal Mangkang-Terminal Penggaron, Koridor II jurusan Terminal Terboyo-Terminal Sisemut Ungaran, Koridor III jurusan Pelabuhan Tanjung Emas-Akademi Kepolisian. Kemudian Koridor IV Terminal Cangkiran-Bandara Ahmad Yani-Stasiun Tawang, Koridor V jurusan Meteseh-PRPP, dan Koridor VI jurusan Undip Tembalang-Unnes Sekaran. 

Tahun 2018, Koridor VIII dibuka dengan jurusan Terminal Terboyo-Pemuda Balai Kota. Rencananya, pemerintah setempat bakal me-launching koridor VIII serta feeder atau pengumpan di beberapa titik yang tak bisa dijamah oleh bus tahun depan.

Lalu, ke mana angkutan kota yang dulunya melayani rute-rute tersebut?

Dede Bambang Hartono, selaku Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan Kota Semarang mengatakan, angkutan kota yang sudah sejak lama melayani trayek utama, perlahan mulai punah. Tapi, bukan dalam artian mati atau menghilang, karena mereka hanya berganti rupa.

“Kecuali koridor satu yang armadanya dari pemerintah kota meskipun dari pemerintah pusat. Kemudian koridor II, III, dan IV, kita mencoba armadanya dari pengusaha. Jadi pengusaha bus kita gabungkan. Bus-bus yang jelek, kita scrapping. Mereka bergabung dalam konsorsium guna membantu Trans Semarang,” katanya saat dijumpai di kantornya, baru-baru ini.

Dari sekitar 20an lebih operator atau lebih dikenal dengan perusahaan otobus (PO) yang dulunya beroperasi di trayek utama Kota Semarang, kini tinggal setengahnya saja. “Dulu itu ada P.O. Rata Kencana, Daya Upaya, Dana Perkasa. Sudah ada beberapa gabung konsorsium. Sedangkan yang belum, karena jalurnya tak dilewati BRT,” ujarnya.

Dengan pola scrapping atau dilebur macam ini, jelas armada angkutan kota yang biasa melintas di trayek utama menjadi berkurang. “Contoh, di koridor IV tinggal beberapa saja. Berganti dengan BRT yang sekarang jumlahnya seratus lebih,” sambungnya.

Kendati demikian, diakuinya pula bahwa belum bisa seluruhnya semua jalur pada trayek utama bisa dilintasi Trans Semarang. Masih ada sejumlah jurusan yang masih lowong.

Penambahan Armada

Selain trayek utama, menurut Dede, ada pula trayek cabang serta ranting yang saat ini masih memertahankan angkutan kota berukuran kecil. “Tapi armadanya ya hidup segan, mati pun tak mau. Karena mereka mengelola sendiri, belum ada campur tangan pemerintah,” terangnya lagi.

Sebenarnya, dari pemerintah juga ada upaya menggandeng mereka. Dengan meng-scrapping angkutan-angkutan yang biasa melewati trayek cabang juga ranting. Seperti pada Koridor VIII yang diluncurkan tahun depan nanti. Sebagaimana Dede sebutkan bakal ada feeder di sana.

“Armadanya tidak sebesar bus sedang. Seperti mobil jenis elf yang bisa menampung lumayan, 12 orang,” imbuhnya. Berdasarkan data dari Dishub Kota Semarang, untuk rute cabang diketahui jumlahnya ada 13. Sedangkan rantingnya, ada 54.

Sementara itu, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Trans Jogja Sumaryoto mengatakan, untuk pelayanan bus Trans Jogja dibandingkan tahun lalu cenderung stagnan. Masih melayani 17 jalur, yaitu 1a,1b, 2a, 2b, 3a, 3b, 4a, 4b, 5a, 5b, 6a, 6b.

“Untuk jumlah bus, ada 128 armada. Bus yang beroperasi ada 116, sedangkan cadangan ada 12,” ucapnya.

Terpisah di Kota Solo, sejauh ini sedikitnya sudah ada tiga koridor Batik Solo Trans (BST) yang terlayani dengan armada tersebut. Koridor ini tidak hanya melintas wilayah Solo saja. Tetapi juga melintas di wilayah Boyolali, Karanganyar dan juga Sukoharjo.

“Kami berharap dalam waktu dekat ini bisa mengoperasikan untuk koridor empat. Sekarang masih dalam proses pengajuan pengelolaan kepada DAMRI,” terang Kepala Dishub Hari Prihatno, kepada JawaPos.com, baru-baru ini.

Pengajuan kepastian pengelolaan ini, lanjut Hari, perlu dilakukan. Lantaran sesuai perjanjian sebelumnya bahwa pengelola koridor satu juga akan mengelola koridor empat. Sedangkan untuk koridor satu selama ini dikelola oleh Perum Damri. Akan tetapi, Perum Damri mengajukan syarat kepada Pemkot Solo sebelum mengelola BST koridor empat.

“Syaratnya adalah Perum Damri meminta keringanan atau subsidi kepada Pemkot. Karena selama ini Perum Damri tidak mampu menutup biaya operasionalnya,” ungkapnya.

Editor : Sari Hardiyanto

Reporter : (apl/dho/gul/JPC)

Serba-serbi Transportasi Masal Joglosemar, Kini Dulu dan Akan Datang