JawaPos Radar | Iklan Jitu

Darurat Listrik Kalteng, 'Siksaan' di Tengah Kegelapan

04 November 2018, 05:30:59 WIB | Editor: Estu Suryowati
Darurat Listrik Kalteng, 'Siksaan' di Tengah Kegelapan
ILUSTRASI Perusahaan Listrik Negara (PLN). Robohnya tower transmisi saluran udara tegangan tinggi (SUTT) di Palangka Raya mengganggu pasokan listrik Kalteng. (Basri/Luwuk Post/Jawa Pos Group)
Share this

JawaPos.com - Mita sudah siap-siap tidur malam itu, Jumat (2/11). Baru saja naik ke tempat tidur bersama dua anaknya, tiba-tiba sekelilingnya gelap gulita. Listrik padam mendadak. Padahal, baru beberapa jam dia bisa bernapas lega karena sore hari listrik menyala setelah belasan jam rumahnya tanpa penerangan.

"Listrik hidup sebentar saja. Saat saya ingin istirahat, tiba-tiba listrik mati. Sampai pukul 21.00 malam, listrik tak hidup. Saya gelisah karena kesulitan tidur dan mulai merasakan sesak napas," keluh Mita dikutip dari Radar Sampit (Jawa Pos Group), Minggu (4/11).

Di tengah minimnya penerangan di rumah itu, anak Mita yang masih kecil langsung rewel. Mita berusaha menenangkannya. Namun, tetap saja anaknya merengek.

"Anak saya terus-terusan merengek. Saya harus terjaga mengipasi anak-anak agar bisa tidur pulas, tetapi tetap saja merengek," tuturnya.

Menurut Mita, anaknya gampang alergi dalam keadaan pengap. "Kalau mati listrik, anak-anak pasti kegerahan dan pengap. Banyak nyamuk. Pagi-pagi telinga dan badan anak saya sudah bentol-bentol merah karena memang dia gampang alergian," ujarnya.

Tak ingin anaknya kian tersiksa, Mita dan suaminya memutuskan mencari penginapan malam itu juga. Dia rela mengeluarkan uang ratusan ribu untuk bermalam di sebuah hotel di Kota Sampit agar tidur malamnya bersama keluarga lebih tenang.

"Saya diskusikan ke suami saya untuk menginap di hotel daripada tidak bisa beristirahat. Tapi hanya semalam. Kalau berhari-hari bisa tekor saya," katanya sambil terkekeh.

Niat 'mengungsi' ternyata tak hanya ada dalam pikiran Mita. Sebagian warga lainnya memilih langkah serupa. Dia sempat kesulitan mendapatkan hotel. Rata-rata penuh. Dia akhirnya bisa mendapatkan sebuah hotel di Jalan Suprapto.

Padamnya listrik juga membuat Mita dan keluarganya kesulitan mendapatkan air. "Saya pakai sumur bor, tetapi kalau listriknya lama padam, gimana mau isi ke tandon air? Kami sekeluarga kesulitan mandi. Untuk berwudhu pun kesulitan mencari air," ujarnya.

Keluhan serupa dengan Mita juga disuarakan sebagian besar warga di Sampit dan Palangka Raya. Media sosial dalam dua hari belakangan penuh dengan kekesalan terhadap listrik yang tak kunjung hidup. Bahkan, ada yang mengaku mengalami pemadaman 43 jam lebih di Palangka Raya.

Ada pula yang mengajak publik untuk memahami kondisi itu karena alam dan petugas PLN tengah bekerja keras agar listrik kembali normal. Namun, sebagian besar rata-rata mengeluhkan lamanya durasi pemadaman.

Jaya, warga Palangka Raya, menyoroti buruknya kinerja PLN. Menurutnya, kejadian semacam itu sudah pernah terjadi November 2015 silam. Saat itu, tower PLN juga roboh karena diterjang hujan dan angin kencang.

"Saya sangat kecewa dengan petinggi-petinggi PLN, khususnya untuk wilayah Kalimantan Selatan dan Tengah, yang seolah tak belajar dari pengalaman. Masih sangat jelas di ingatan saya, robohnya tower SUTT bukan pertama kali terjadi di Palangka Raya," katanya.

Sebelumnya, kata Jaya, SUTT roboh di Jalan Tingang, sekarang di Kalampangan. Menurutnya, tidak ada perbedaan cara menangani permasalahan robohnya tower SUTT itu. Staf lapangan diperintahkan bekerja 24 jam nonstop membangun SUTT darurat. Lalu minta maaf kepada pelanggan dan akan berupaya membuat normal paling lambat seminggu.

"Kemudian melakukan pemadaman bergilir. Pelanggan dipaksa menikmati listrik tidak lebih dari 3 jam dalam waktu 24 jam. Itu cara yang dilakukan PLN dalam menangani robohnya SUTT di Jalan Tingang tahun 2015 lalu," katanya.

Jaya menyesalkan, cara itu pula yang dilakukan dalam menangani robohnya SUTT di Kalampangan yang roboh Jumat (2/11) lalu. Menurutnya, PLN terjebak masalah yang sama untuk kedua kalinya. Padahal, seharusnya kejadian tiga tahun silam jadi bahan evaluasi.

"Namanya angin, petir, dan hujan, pasti akan terjadi di bumi ini. Saya tekankan sekali lagi, pasti! Kualitas Tower atau SUTT pun pasti akan berkurang seiring berjalannya waktu. Mau bilang SUTT yang roboh itu baru dibangun? Wah, lebih parah lagi itu. Dipertanyakan kualitas SUTT-nya," katanya.

Apabila robohnya SUTT merupakan kejadian pertama, menurut Jaya, hal itu bisa dimaklumi. Namun, apabila kembali terulang, tentu tak bisa lagi dimaklumi. "Seharusnya, PLN bisa belajar dari kejadian yang sudah pernah terjadi. Istilahnya itu, evaluasi," tegasnya.

Menurut Jaya, PLN seharusnya mengecek tower-tower yang ada, apakah masih mampu bertahan ketika dihantam angin dengan kecepatan tertentu. "Atau tersambar petir, apakah masih kuat?" ujarnya.

Apabila dirasa tidak kuat, lanjutnya, perlu ada langkah-langkah strategis. Misalnya, menyimpan daya listrik di masing-masing kota. "Bukan seperti sekarang yang penyimpanannya terpusat di Kalimantan Selatan. Atau, mempersiapkan tower cadangan di dekat tower yang dirasa rawan roboh ketika angin kencang," katanya.

"Kalau hal-hal beginian tidak bisa dipikirkan petinggi-petinggi PLN, mending arah kiri saja sekalian. Mundur dari jabatannya. Kasih yang mampu dan bisa memikirkan hal-hal begituan," tegasnya lagi.

Seperti diberitakan, padamnya listrik disebabkan salah satu tower transmisi saluran udara tegangan tinggi (SUTT) 150 kilo Volt di Jalan Mahir Mahar, arah Kelampangan, Palangka Raya, roboh karena hujan dan angin kencang. Hal itu membuat pasokan listrik terputus.

Musibah membuat sistem interkoneksi Kalsel dan Kalteng terputus. Beberapa Gardu Induk (GI), yakni GI Palangka Raya, GI Kasongan, GI Sampit, dan GI Bagendang, padam karena suplai listrik terhenti.

(jpg/est/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up