Pernikahan Dini di Bantaeng Tidak Tercatat KUA

04/09/2018, 13:08 WIB | Editor: Dida Tenola
Ilustrasi Pernikahan Dini (Dokumen JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Bantaeng, Sulawesi Selatan (Sulsel) memastikan bahwa pernikahan dua remaja belia di kecamatan Ulu Ere, Bantaeng, tidak resmi. Pasangan muda itu tidak tercatat di Kantor Urusan Agama (KUA) setempat.

Kepala Kanwil Kemenag Bantaeng Muhammad Yunus mengatakan, kabar pernikahan keduanya diketahui pihak Kementerian Agama setempat setelah kabar tersebut muncul di media. "Kami langsung menurunkan penyuluh agama, penghulu, beserta Kepala KUA untuk melakukan penelusuran," kata Yunus, saat dikonfirmasi JawaPos.com, Selasa (4/9).

Berdasarkan hasil penelusuran yang dilakukan Kementerian Agama, ditemukan fakta jika pernikahan dua remaja belia ini dilakukan atas persetujuan orang tua masing-masing. "Orang tuanya yang menikahkan, alasannya mereka tidak bisa menjamin bila anaknya dikemudian hari tidak berzina," ujarnya. 

Kekhawatiran ini muncul karena dua remaja belia ini sudah saling suka satu sama lain. "Masyarakat di sini pun mengenal budaya siri dan budaya malu yang kental dalam adat budaya suku Makassar. Pernikahan itu dilangsungkan dengan dalih supaya menjaga nama baik  keluarga agar terhindar dari cerita miring tetangga," terang Yunus.

Menanggapi fakta adanya masyarakat di Bantaeng yang melakukan pernikahan dini, Yunus menyatakan, Kemenag dan pemerintah kabupaten telah melakukan upaya preventif. "Tidak hanya Kemenag saja, tapi juga stakeholder lainnya. Di sini cukup masif kok sosialisasi serta mengedukasi masyarakat untuk meminimalisasi pernikahan dini," ucapnya. 

Upaya pencegahan, lanjutnya, tak henti-hentinya dilakukan bahkan melibatkan Kesbangpol (Kesatuan Bangsa dan Politik), Dinas Kesehatan, Dinas Perlindungan Anak, Kementerian Pemberdayaan Perempuan, serta Keluarga Berencana Kabupaten Bantaeng. 

Pasangan ABG tersebut sebelumnya pernah ditangani Komisi Perlindungan Anak (KPA). Keduanya saat itu didampingi KPA, dengan konteks motif yang sama. Yakni, keinginan menikah di usia yang masih sangat muda. "Sekitar empat bulan lalu sudah dilakukan pendampingan terhadap pasangan ini. Hasil pendampingan saat itu pernikahan sepakat ditunda hingga usia telah cukup. Sehingga kasus dianggap selesai, nah tiba-tiba ternyata terjadi pernikahan itu," imbuhnya. 

Yunus berharap kasus ini menjadi pembelajaran dan konsentrasi bersama untuk terus melakukan upaya pengendalian pernikahan dini. "Beberapa bulan lalu kami pun membahas untuk dikeluarkannya semacam peraturan bupati, yang dapat melibatkan seluruh stakeholder untuk meminimalisasi pernikahan dini," paparnya.

Pernikahan dua remaja belia, R, 13, dan MA, 17, yang terjadi di kecamatan Ulu Ere, Bantaeng, pada Kamis (30/8) lalu, menggemparkan banyak orang. Tidak sedikit yang menganggap mereka terlalu muda untuk membangun mahligai rumah tangga.

(ce1/rul/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi