Pembakaran Satu Keluarga Bermotif Utang Sabu

04/09/2018, 15:52 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Satreskrim Polrestabes Makassar menggelar rekonstruksi pembakaran satu keluarga, Selasa (4/9). (Sahrul Ramadan/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Satreskrim Polrestabes Makassar melakukan rekonstruksi kasus pembunuhan yang menewaskan satu keluarga di Jalan Tinumbu, Lorong 166B, Kecamatan Tallo, kota Makassar, beberapa waktu lalu. Rekonstruksi digelar di Jalan Serui atau di belakang Mapolrestabes Makassar, Selasa (4/9).

Dua dari enam tersangka dihadirkan dalam rekonstruksi. Adalah Andi Muhammad Ilham, 23, dan Zulkifli Amir alias Ramma, 22.

Pelaksana Kepala Satreskrim Polrestabes Makassar Kompol Diari mengungkapkan, kedua tersangka berperan langsung sebagai eksekutor. Mereka memerankan adegan demi adegan saat melakukan pembakaran yang berujung hilangnya enam jiwa.

"Jadi ada 36 adegan yang mereka peragakan. Kedua tersangka ini sebagai eksekutor. Sebagaimana fakta-fakta yang ada dalam kasus pembakaran satu keluarga ini," jelas Diari usai proses rekonstruksi di Mapolrestabes Makassar, Jalan Ahmad Yani, Selasa (4/9).

Rekonstruksi diperankan tersangka secara sistematis. Awalnya, kedua tersangka menerima perintah lewat telepon dari otak pembunuhan bernama Akbar Daeng Ampu di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 1A Makassar.

Hingga proses penyiraman bensin dari luar mengitari sekeliling rumah korban. "Jadi proses ini menunjukkan bagaimana mereka berkerja sesuai dengan yang terjadi di tempat kejadian perkara (TKP)," jelas Diari.

Akbar Ampu tak dihadirkan dalam proses rekonstruksi. Mengingat aktor utama tersebut berperan sebagai dalang yang memberi instruksi sekaligus mengontrol dua anggotanya untuk melakukan eksekusi pembakaran.

"Dia tidak ada di TKP. Dia aktif dalam berkomunikasi saja. Dia yang menyuruh untuk melakukan pembakaran. Ide untuk melaksanakan perintah pembakaran juga dari Akbar Ampu," jelasnya.

Satu keluarga yang menjadi korban adalah pasangan suami-istri Sanusi, 70, dan Bondeng, 65. Kemudian anaknya bernama Musdalifa, 30. Cucu Sanusi dan Bondeng, Fahri, 24, Namira, 24, dan Hijas yang masih berusia 2,5 tahun.

Motif di balik pembakaran yang menemaskan enam jiwa itu dilatarbelakangi utang narkoba. Fahri berutang sebanyak 9 paket sabu-sabu kepada Akbar Daeng Ampu. Sabu didapatkan melalui perantara dari dalam Lapas Kelas 1A Makassar.

Setelah beberapa lama dijanjikan untuk melunasi utang, Akbar Daeng Ampu mendapatkan kabar bahwa Fahri hendak kabur. Puncaknya, Akbar Daeng Ampu menginstruksikan kepada tersangka lain untuk melalukan penganiayaan yang berhujung tewasnya Fahri dan keluarga.

Sebelum melakukan pembakaran pada Senin (6/8) sekitar pukul 04.00 WITA, para tersangka lebih dulu mengonsumsi minuman keras dan sabu-sabu. Barang haram tersebut diakui Ramma adalah milik dari Akbar Daeng Ampu.

Seluruh tersangka masih ditangani Satreskrimsus Polrestabes Makassar. Mereka dijerat pasal 170 ayat 1 dan 2, pasal pasal 351 ayat 2 juncto pasal 333 ayat 1 dan 2 KUHP dengan ancaman minimal 5 tahun penjara.

Sementara Daeng Ampu yang menjadi aktor utama, disangkakan melanggar pasal 340 KUHP subsidaer 187 KUHP juncto Pasal 55 KUHP. Ancamannya hukuman mati atau penjara seumur hidup.

(rul/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi