Pasangan Nikah Muda Disarankan Isbat

04/09/2018, 16:33 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
PERNIKAHAN DINI: Reski, 12, dan Sarmila,17, pasangan suami-istri di Kampung Lannyong, Desa Bonto Lojong, Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng, Sulsel. (IKSAN/FAJAR/Jawa Pos Group)
Share this image

JawaPos.com - Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bantaeng menawarkan solusi kepada pasangan nikah muda. Yakni, laki-laki berinisial R, 11, dan sang perempuan berinisial MA, 17. Mereka tercatat sebagai warga Kecamatan Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Solusi bagi keduanya adalah mengadakan isbat di Pengadilan Agama. Isbat bertujuan untuk mengesahkan pernikahan keduanya sesuai dengan Undang-undang perkawinan di Indonesia.

Namun salah satu dari pasangan tersebut harus bersabar. Mengingat sang lelaki baru berusia 11 tahun. "Nanti setelah cukup umur pihak prianya, baru akan dilakukan isbat di pengadilan. Tapi secara agama sudah dapat dikatakan sah," kata Humas Kemenag Bantaeng Mahdi Bakri saat dikonfirmasi, Selasa (4/9).

Dengan diadakannya isbat nikah, nanti keduanya berstatus sah atau legal secara hukum. Untuk saat ini, Kemenag belum dapat memberikan kelengkapan administrasi seperti surat nikah untuk keduanya.

Mengingat pertimbangan sebelumnya bahwa salah satu dari pasangan masih tergolong belum cukup umur. Ditambah belum melaporkan secara resmi sesuai peraturan perundang-undangan. "Surat nikah tidak akan kami terbitkan karena tidak melapor ke kami," tegasnya.

Sebelumnya, Kepala Kankemenag Bantaeng Muhammad Yunus menyampaikan bahwa kabar pernikahan keduanya diketahui setelah ada kabar di media. "Kami langsung menurunkan penyuluh agama, penghulu, beserta Kepala KUA untuk melakukan penelusuran," tutur Yunus.

Hasilnya ditemukan fakta jika pernikahan dua remaja belia itu dilakukan atas dasar persetujuan orang tua masing-masing. Alasannya sederhana. Kedua orang tua tidak bisa menjamin bila anaknya di kemudian hari berbuat sesuatu yang tidak diinginkan.

"Masyarakat di sini mengenal budaya siri alias malu yang kental dalam adat budaya suku Makassar. Pernikahan itu dilangsungkan dengan dalih upaya menjaga nama baik keluarga agar terhindar dari cerita miring tetangga di kemudian hari," terang Yunus.

Pasangan muda itu sebelumnya pernah ditangani Komisi Perlindungan Anak (KPA). Keduanya didampingi KPA dengan konteks kasus yang sama. Keinginan menikah di usia yang masih sangat muda.

"Sekitar empat bulan lalu sudah dilakukan pendampingan terhadap pasangan ini. Hasil pendampingan saat itu, pernikahan sepakat ditunda hingga usia telah cukup sehingga kasus dianggap selesai. Nah, tiba-tiba terjadi pernikahan itu," imbuhnya.

Yunus berharap kasus ini menjadi pembelajaran dan konsentrasi bersama untuk terus melakukan upaya pengendalian pernikahan dini. "Beberapa bulan lalu kami membahas untuk dikeluarkannya semacam peraturan bupati yang dapat melibatkan seluruh stakeholder untuk meminimalisasi pernikahan dini," pungkasnya.

(ce1/rul/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi