Ma'ruf Sebut Izin dan Persetujuan Jadi Cawapres Datang dari Mbah Moen

04/09/2018, 22:34 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Bakal calon wakil presiden (Bacawapres) KH. Ma'ruf Amin melanjutkan safarinya ke kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, Surabaya, Senin, (3/9) malam. (Moh Mukit/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Bakal calon wakil presiden (cawapres) KH Ma'ruf Amin mengungkap peran KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) dalam terpilihnya dirinya menjadi pendamping Joko Widodo pada Pilpres 2019 mendatang. Menurut Ma'ruf, pemilik Pondok Pesantren Al Anwar sekaligus Ketua Majlis Syariah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu merupakan sosok penentu.

Pada agenda silaturahminya menemui para kiai NU dan seluruh jajaran Ponpes Al Anwar, Selasa (4/9), Ma'ruf sedianya bercerita bahwa namanya diusulkan menjadi cawapres oleh Ketua Umum PPP M. Romahurmuziy.

"Kebetulan yang dipilih menjadi cawapres sesuai usulannya Pak Rommy (Romahurmuziy), saya sendiri. Yang kata Pak Rommy sesuai persetujuan, izin kiai Romo Maimoen Zubaer. Berarti yang ngajuin saya ini Kiai Romo Maimoen Zubaer," ujarnya di Rembang, Jawa Tengah, Selasa (4/9).

Ia juga menyebut sejatinya dirinya tak pernah meminta untuk mendapat posisi sebagai cawapres, begitu pula NU. "Tapi NU memang menyiapkan orang-orangnya kalau itu dibutuhkan," sambungnya.

Soal kunjungannya ke Ponpes Al Anwar dan bersilaturahmi dengan Mbah Moen, sapaan Maimoen Zubair, Ma'ruf mengatakan hal itu bak menjadi kewajibannya sebagai santri. Terutama dalam hal memohon doa dan restu soal dirinya yang menjadi cawapres pada Pilpres tahun depan.

"Lalu kepada Kiai Romo Maimoen Zubair, kebetulan saya Rais Aam, dan beliau itu di atasnya Rais Aam, mustasyar. Mustasyar nomor satu. Oleh karena itu saya sekalian mohon pamit, mohon doanya," imbuhnya lagi.

Pada kesempatan ini, Ma'ruf pun turut mengungkap soal jabatan sebagai Rais Aam yang harus ia tanggalkan sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) dan aturan yang berlaku di PBNU. Ulama asal Tangerang itu menyebut tak masalah asal demi pengabdiannya kepada negara.

"Mungkin saya harus melepaskan diri dari jabatan saya dari Rais Aam PBNU. Tapi demi untuk mengabdi, melaksanakan tugas-tugas, tanggungjawab selain tanggungjawab keagaamaan, keumatan, tapi juga tanggungjawab kebangsaan dan kenegaraan," tandasnya.

(gul/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi