alexametrics

14 Ribu TKA Serbu Jateng, Apindo: Ongkosnya Mahal

4 Agustus 2018, 11:29:49 WIB

JawaPos.com – Tenaga kerja asing (TKA) yang masuk Jawa Tengah (Jateng) awal semester 2018 melonjak tajam. Yakni, sebanyak 14.148 orang atau tujuh kali lipat dari tahun lalu. Meski dinilai wajar, akan tetapi mengurusi para TKA lebih berat dibanding pekerja lokal.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng Frans Kongi mengatakan, kenaikan jumlah TKA menjadi lumrah jika menilik dari investasi dari penanaman modal asing (PMA) yang juga menanjak. “Masih wajar kalau melihat peningkatan investasi di sini. Kami yakin, para pengusaha itu tidak asal merekrut TKA,” tutur Frans, Sabtu (4/8).

Naiknya PMA secara otomatis membuat datangnya TKA. Terutama untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan khusus yang belum bisa digarap tenaga kerja lokal. Walaupun terdengar positif untuk perkembangan usaha, situasi ini memunculkan efek samping. Yakni, dari segi ongkos.

Diterangkan Frans, mempekerjakan TKA butuh biaya lebih. Sebab selain standar upah yang berbeda dengan tenaga kerja lokal, juga harus mengurus akomodasi. Minimal, pelaku usaha harus merogoh kocek untuk pajak sebesar US$ 1.200 per kepala setahunnya.

“Pengusaha mempekerjakan TKA itu sebenarnya kalau memang benar-benar butuh, ongkosnya mahal. Ibaratnya TKI kalau kerja di Indonesia, upahnya Rp 2 juta. Tapi kalau di luar negeri, bisa sampai tiga kali lipatnya,” terangnya.

Dalam artian, TKA tak akan direkrut jika memang tak dijadikan pemain inti dalam perusahaan. Sebagai contoh, tenaga asing di bagian pemasaran perusahaan tekstil akan lebih paham tren di negara mereka sendiri. Ketimbang pekerja lokal saat mengincar pasar ekspor.

“Bayangkan kalau pakai tenaga kerja lokal. Selain keterbatasan komunikasi, mereka juga belum tentu paham soal budaya negara yang jadi incaran ekspor. Kalau pakai tenaga asing akan lebih cepat merebut pasar. Gampangnya seperti itu,” terangnya.

Soal pekerjaan yang dikerjakan TKA walau bisa dilakukan tenaga lokal seperti menjahit, Frans meminta untuk tidak lekas disalahartikan. Menurutnya, bisa saja ada bagian-bagian khusus yang cuma dikuasai TKA.

“Intinya, mereka harus didorong untuk mentrasfer ilmu kepada tenaga kerja lokal. Agar perusahaan bisa melepas TKA untuk digantikan tenaga kerja lokal yang ongkosnya lebih murah,” tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jateng Wika Bintang menyebutkan, ada lonjakan sangat besar pada jumlah TKA yang masuk dibanding tahun-tahun sebelumnya. Yakni, 14.148 orang atau tujuh kali lipat dibanding tahun lalu.

Meski demikian, keberadaan mereka belum diketahui secara pasti. Karena datangnya para TKA diperoleh dari informasi data awal di Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker).

Dari sekian banyak para TKA, Tiongkok menjadi pemasok terbesar dengan mengirimkan 4.219 orang. Disusul Jepang 1.744 orang, Korea Selatan 1.598 orang, India 1.430 orang. Kemudian negara-negara lain di Asia Tenggara dan Eropa yang masing-masing jumlahnya tak melebihi seribu orang.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo juga sempat meperintahkan jajarannya untuk berkoordinasi dengan Kementerian Tenaga Kerja. Agar mendapatkan data keberadaan TKA yang ada di Jateng menjadi jelas dan tak jadi polemik tersendiri.

“Saya sudah mengirim petugas dari Dinas Ketenagakerjaan untuk menanyakan Kemenaker. Agar kami dikasih tahu dan diberikan data yang sama. Kalau mendaftarnya di pusat daerah juga dikasih tahu, sebaliknya daftar di daerah pusat juga akan dilaporkan secara detail hingga tempat kerjanya,” ulas Ganjar saat di Wisma Perdamaian, Semarang, Jumat (3/8).

Editor : Sofyan Cahyono

Reporter : (gul/JPC)


Close Ads
14 Ribu TKA Serbu Jateng, Apindo: Ongkosnya Mahal