JawaPos Radar

28 Desa di Sragen Dilanda Kekeringan

04/07/2018, 10:58 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Kekeringan di Sragen
KEKERINGAN : Warga Sragen terlihat tengah membawa air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. (Ari Purnomo/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Musim kemarau mulai menimbulkan bencana kekeringan. Salah satunya di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah (Jateng). Setidaknya ada 28 desa di tujuh kecamatan yang mulai dilanda kekeringan. Bahkan, warga di sejumlah desa sudah mengajukan permohonan droping air bersih.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen Sugeng Priyono mengatakan, data tersebut didapatkan dari hasil pemetaan yang sudah dilakukan. Data itu juga sesuai dengan evaluasi penanganan kekeringan yang dilakukan pada 2017 lalu.

"Wilayah yang dilanda kekeringan kebanyakan di Utara Sungai Bengawan Solo. Hal ini karena sumber air yang ada sudah mulai mengering, sehingga membutuhkan droping air bersih," ungkap Sugeng dalam keterangannya, Rabu (4/7).

Tujuh kecamatan yang masuk daerah rawan kekeringan adalah Jenar, Miri, Sumberlawang, Gesi, Mondokan, Tangen dan juga Kecamatan Sukodono. Dari tujuh wilayah tersebut, ada tiga desa yang mendesak untuk didroping air bersih. Seperti di Ngargotirto, Kecamatan Sumberlawang; Gebang, Kecamatan Sukodono; Desa Banyuurip, Kecamatan Jenar.

"Sedangkan untuk desa yang lain baru didroping air bersih akhir Juli. Karena untuk saat ini persediaan air bersih masih ada. Kalau yang tiga desa itu sudah meminta sejak sepekan yang lalu," ucap Sugeng.

Wilayah tersebut memang sudah langganan kekeringan. Setiap musim kemarau tiba, desa-desa itu pasti kekurangan air bersih. Sehingga perlu dilakukan droping. Tahun ini, BPBD sudah mengalokasikan anggaran mencapai Rp 44,5 juta untuk penyediaan air bersih. Dana tersebut setara dengan 150 tangki air bersih.

(apl/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up