alexametrics

Intoleransi di Bantul, AHY: Semua Warga Negara Punya Hak Sama

4 April 2019, 21:38:55 WIB

JawaPos.com – Kasus intoleransi terhadap seorang seniman di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) turut menjadi perhatian Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Putra dari Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono itu menyebut semua warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama.

“Negara kita adalah milik semuanya. Semua warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama di negeri ini, tidak boleh ada satu pun yang dirugikan secara konstitusional. Termasuk juga apalagi karena perbedaan identitas, agama, suku, ras, etnis,” ujar Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat itu, usai kampanye terbuka di Grha Sarina Vidi, Jalan Magelang, Kabupaten Sleman, DIJ, Kamis (4/4) sore.

Dikatakannya, negara ini sangat majemuk. Untuk itu jangan pernah sampai bertentangan antara 1 dengan yang lainnya karena perbedaan identitas. “Saya menyerukan kepada semua, mari sama-sama kita hidup bertenggang rasa, toleransi, saling menghargai perbedaan, saling menghormati satu sama lain,” ucapnya.

AHY juga mengatakan, negara harus hadir untuk menjamin seluruh warga negaranya hidup aman, damai, tenang dan nyaman di pekarangannya sendiri. Jangan sampai ada yang merasa terusik karena merasa tidak tenang dan nyaman. “Politisi juga harus menjadi contoh. Jangan mudah menggunakan isu identitas untuk mendapatkan keuntungan politik,” ucapnya.

Sebelumnya, seorang seniman lukis berma Slamet Jumiarto, 42, warga asli Semarang, Jawa Tengah mengalami kasus intoleransi. Ia bersama istri dan kedua anaknya tak boleh mengontrak rumah di Padukuhan Karet RT 8, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, DIJ.

Alasannya karena sudah ada aturan berupa kesepakatan warga di tingkat padukuhan berupa tak diperbolehkan ada orang nonmuslim tinggal di kampung tersebut. Slamet yang telah membayar uang kontrakan untuk setahun kemudian mengadu ke pejabat daerah.

Masalah itu kemudian pada Selasa (2/4) dipastikan selesai secara damai. Slamet mengaku sementara juga akan tetap tinggal di rumah kontrakan, meski tak menampik ke depan akan mencari tempat tinggal di daerah lain. “Mungkin suatu hari pindah dari sini, tetap saya akan jalin hubungan silaturahmi.  karena saya pribadi suka sosial. Meski tak punya uang, kalau saya pikiran tenaga rela (menyumbangkan ke padukuhan ini),” kata Slamet.

Editor : Sari Hardiyanto

Reporter : Ridho Hidayat



Close Ads