JawaPos Radar

Empat Orangutan Dilepasliarkan di Bukit Raya

04/04/2018, 20:06 WIB | Editor: Ilham Safutra
Empat Orangutan Dilepasliarkan di Bukit Raya
DILEPASKAN: Wakapolda Kombes Pol Dedy Prasetyo ikut menyaksikan pelepasan empat orangutan, Selasa (3/4). (JAMIL/KALTENG POS/Jawa Pos Group)
Share this image

JawaPos.com - Empat orangutan yang sempat menjalani rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng, akhirnya dilepasliarkan ke Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), Kabupaten Katingan, Selasa (3/4).

Menurut CEO BOSF Jamartin Sihite, pelepasan orangutan di TNBBBR itu merupakan yang ke-22. Orangutan yang dilepaskan terdiri dari individu jantan bernama Meong, 13, dan tiga betina bernama Hayley, 13; Nabima, 18; dan Tari, 5. Rata-rata yang dilepaskan merupakan orangutan korban konflik.

"Harapannya, bisa sukses di habitatnya," kata Jamartin saat ditemui di Quarantine Release BOSF Nyaru Menteng 3, Jalan Tjilik Riwut Km 28, Jalan Karya Gadung, kemarin.

Empat Orangutan Dilepasliarkan di Bukit Raya
Pengasuh orangutan begitu telaten membersihkan mulut bayi orangutan, di tempat rehabilitasi Yayasan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Nyaru Menteng, Palangka Raya, beberapa waktu lalu. ((AGUS PRAMONO/KALTENG POS/Jawa Pos Group))

Dijelaskan Jamartin, ada sekitar 400 orangutan lagi yang masih antre untuk dilepasliarkan. Tahun ini, pihaknya punya target 200 individu orangutan yang dilepasliarkan. Selain melepaskan orangutan, BOSF juga berharap masyarakat bisa menjaga kelestarian orangutan. Demikian juga dengan pemerintah dan perusahaan, agar bisa menjaga habitat orangutan.

"Orangutan ini semuanya dewasa. Kami berpacu dengan waktu, kami ingin hutan terjaga dan melepaskan orangutan. Orangutan di alam harus dijaga. Hutannya juga. Karena yang mengancam orangutan itu didominasi oleh konversi lahan dan perdagangan gelap orangutan," ungkapnya.

Di sisi lain, Wakapolda Kalteng Kombes Dedi Prasetyo mengatakan, polisi juga fokus menjaga dan melindungi kelestarian satwa liar ini. "Kami konsen untuk melindungi satwa liar yang dilindungi. Kami terus bekerja sama dengan BOSF. Tiap temuan kami selalu kerja sama. Selama 2017-2018, ada dua kasus. Semuanya proses hukum," bebernya.

Menurut wakapolda, menjaga Pongo Pygmaeus juga tidak hanya melalui penindakan hukum. Melainkan juga dengan memberikan penyadaran hukum terkait pentingnya menjaga kelestarian orangutan. "Kami lakukan melalui kapolsek dan bhabinkamtibmas, agar mereka mensosialisasikan kepada masyarakat. Terutama yang daerahnya lebih dekat dengan habitat hidup orangutan," tegasnya.

Dedi juga menjelaskan, pihak perusahaan sawit juga diimbau agar ikut menjaga kelestarian orangutan. Terlebih, konversi lahan dan perdagangan gelap menjadi ancaman bagi keberlangsungan hidup satwa yang dilindungi ini. Untuk itu, ia mengharapkan agar orangutan tidaklah dianggap sebagai hama. "Sebagian besar, karena mereka merasa lahannya dirusak dan persepsi dianggap hama," pungkasnya.

Saat pelepasan kemarin, selain dihadiri BOSF, BKSDA, dan Polda Kalteng, juga dihadiri oleh Richard Kyle sebagai Campaigner Awareness, serta artis Sophia Latjuba dan Kay. 

(ami/ce/ens)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up