JawaPos Radar | Iklan Jitu

Kapolda: Tidak Ada Kaitannya dengan Ekonomi

4 Pembunuhan Sadis Gemparkan Sumsel Selama Sebulan, Ini Daftarnya

04 Februari 2019, 14:51:56 WIB
4 Pembunuhan Sadis Gemparkan Sumsel Selama Sebulan, Ini Daftarnya
Ilustrasi pembunuhan. (Dokumen JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - 2019 baru berjalan sebulan, namun sudah ada empat kasus pembunuhan sadis yang terjadi Sumatera Selatan. Para pelaku menghabisi nyawa korban secara keji.

Berdasarkan analisis polisi, para pelaku membunuh karena faktor emosional. Sama sekali bukan karena motif ekonomi.

"Ya, ini cenderung kepada emosional para pelaku. Tidak ada kaitannya dengan ekonomi," jelas Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara saat ditemui JawaPos.com di Mapolda Sumsel, Senin (4/2).

4 Pembunuhan Sadis Gemparkan Sumsel Selama Sebulan, Ini Daftarnya
Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara (dua dari kiri) menjelaskan bahwa empat kasus pembunuhan sadis yang berhasil terungkap dilandasi karena faktor emosional para pelaku. (Alwi Alim/ JawaPos.com)

Analisis itu cukup kuat untuk dijadikan alasan. Zulkarnain menjabarkan, biasanya pelaku kejahatan yang terdesak kebutuhan ekonomi masih dapat menahan kesabaran. Mereka tidak akan gegabah untuk membunuh. Sebab yang disasar adalah harta. Kecenderungannya, selama pelaku bisa menguasai harta korban, mereka tidak perlu membunuhnya.

Berbeda jika pelaku sudah emosional. Mereka tidak bisa mengontrolnya. Seolah-olah emosi pelaku sudah di ubun-ubun kepala. Jika ada masalah sedikit, mereka akan menyelesaikannya dengan cara kekerasan.

Hal itu terjadi pada kasus pemerkosaan disertai pembunuhan dan pembakaran yang menewaskan Inah Antimurti. Kasus tersebut sebenarnya berawal dari utang korban. Namun karena sudah tak mampu mengontrol emosinya, pelaku kemudian memerkosa dan membunuh Inah.

"Kami harap masyarakat lebih mengontrol emosi, sehingga tindak pidana dapat ditekan," tambah Zulkarnain.

Berikut JawaPos.com rangkum empat kasus pembunuhan yang sudah berhasil diungkap Polda Sumsel selama sebulan terakhir.

1. Pembunuhan Ibu dan Anak di Pagaralam

Ponia, 39, dan putrinya Selfia, 13, dihabisi tiga pelaku. Mereka adalah Tika Herli, 31; Riko Apriadi, 20; dan M Jefri Ilto Saputra, 17. Tika merupakan teman dekat Ponia. Pembunuhan itu berawal saat Tika menipu Ponia. Tika meminjam ATM milik Ponia. Korban yang gaptek merasa tidak curiga sama sekali. Sampai akhirnya dia tahu bahwa saldonya dikuras oleh Tika sebesar Rp 45 juta.

Ponia lantas menagih uang itu kepada Tika. Namun, Tika justru kesal ditagih. Emosinya membuncah. Dia lantas mengajak dua temannya untuk membunuh Ponia dan anaknya.


2. Pembunuhan Sadis Ogan Ilir, Inah Diperkosa dan Dibakar

Kasus pembunuhan yang kedua menewaskan Inah Antimurti. Motif pembunuhan tersebut juga berawal dari masalah utang. Inah punya utang sebesar Rp 5 juta kepada tersangka yang bernama Asri Marli.

Asri kemudian menyuruh Inah untuk datang ke rumah kontrakannya. Asri tidak sendiri di rumah itu. Sudah ada empat orang lain yakni Feri, 30; FB, 16; Abdul Malik, 22; dan DP, 16. Di sana, Inah diperkosa. Dia sempat melawan, namun kemudian dipukul balok kayu hingga tewas. Meski nyawanya sudah melayang, para pelaku kembali memerkosa Inah. Setelah itu, jasad Inah dinaikkan pikap dan dibuang di Ogan Ilir. Tak sekadar dibuang, jasad Inah juga dibakar oleh pelaku.

3. Anggota TNI AD Tewas Ditusuk di Martapura

Pembunuhan terhadap anggota Pusat Latihan Temput (Puslatpur) TNI AD Kopda Zeni Erwanta di Martapura juga dilatarbelakangi masalah utang. Korban berutang Rp 150 juta kepada tersangka Sumarlin.

Sumarlin nekat menusuk Erwanta karena kesal. Berkali-kali dia menagih utang, namun tak digubris. Emosinya muntab. Dia menusuk kepala, dada, dan tangan Erwanta secara membabi buta. Erwanta tewas dalam perjalanan ke rumah sakit.

4. Mahasiswi UIN Palembang Tewas Tanpa Busana di Kebun Kepala Desa

Kasus pembunuhan sadis di Sumsel yang terakhir menewaskan mahasiswi Palembang, Fatmi Rohanayanti. Fatmi ditemukan tewas tanpa busana di kebun milik kepala desa, di Muara Enim. Fatmi tewas di tangan residivis kelas kakap bernama Upuzan alias Sairun.

Fatmi yang dalam perjalanan pulang usai mengantar ibunya dihadang oleh Sairun. Pelaku sempat memerkosa Fatmi. Setelah itu, Fatmi dicekik hingga tewas. Sairun lantas kabur membawa kabur motor Fatmi. Lelaki yang pernah mendekam di Nusakambangan itu akhirnya dapat ditangkap polisi.

Editor           : Dida Tenola
Reporter      : Alwi Alim
Copy Editor : Fersita Felicia Facette

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini