Tragedi Kanjuruhan, Jaringan GUSDURian Kecam Penembakan Gas Air Mata

3 Oktober 2022, 11:49:33 WIB

JawaPos.com- Di antara ratusan korban meninggal dunia dalam tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, terungkap tidak sedikit adalah para santri atau alumni pondok pesantren (Ponpes). Sejatinya, mereka menonton sepak bola untuk hiburan. Namun, justru menjadi kuburan bagi mereka.

Data yang didapat Jawa Pos, beberapa korban meninggal dari santri atau alumni santri antara lain Hidayatus Tsaniyah, alumnus Ponpes Mambaul Ikhsan, Ujungpangkah, Gresik; Muhammad Nailul Autho, santri Ponpes Al Falah, Ploso, Kediri; Bahrul dan Fillah Aziz, Ponpes Raudlatul Ulum 2, Malang.

Salat Gaib dan doa bersama untuk para korban tragedi Kanjuruhan itupun telah tergelar di mana-mana. Termasuk di Ponpes Mambaul Ikhsan, Ujungpangkah, Gresik. Ratusan santri pada Minggu (2/10) larut dalam khidmat untuk mendoakan para almarhum dan almarhumah. ‘’Semoga semua husnul khatimah. Dan, kita juga berdoa semoga kejadian ini yang terakhir,’’ kata KH Nafisul Athok, pengasuh Ponpes Mambaul Ikhsan.

Instruksi untuk salat Gaib dan tahlil bagi para korban meninggal dunia tragedi Kanjuruhan itu juga sudah disampaikan banyak kalangan. Termasuk dari PCNU Malang. Melalui surat bernomor: 094/PC/A.II/L-2/X/2022, tertanggal 2 Oktober 2022, instruksi itu ditujukan kepada seluruh lembaga NU dan warga nahdliyyin.

NU juga akan menyelenggarakan doa bersama dan santunan kepada para keluarga korban. Kegiatan itu akan dipusatkan di kantor PCNU Kabupaten Malang, pada Selasa (4/10) siang, mulai pukul 13.00 WIB. Rencananya, kegiatan itu akan langsung dipimpin Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf.

Wakil Ketua PWNU Jatim KH Abdussalam Shohib turut prihatin dengan kejadian tersebut. Dia juga turut berduka cita sedalam-dalamnya atas meninggalnya ratusan korban dalam tragedi memilukan itu. Dia juga meminta agar dalam kejadian itu para pengurus PSSI dan Polri bertanggung jawab.

“Kalau menurut saya, semua pengurus PSSI harus mundur. Itu sebagai bentuk respek terhadap korban dan keluarganya,’’ tegas Gus Salam, panggilan akrab KH Abdussalam Shohib, dalam rilis yang diterima Jawa Pos.

Selain itu, lanjut dia, Kapolri juga harus tegas. Gus Salam menyatakan, Kapolri wajib mencopot Kapolda Jatim dan Kapolres Malang. ’’Itu sebagai bentuk pertanggungjawaban pimpinan,” tandasnya.

Gus Salam juga minta Presiden Jokowi menghentikan kompetisi sepak bola di tanah air ini. Kebijakan itu mesti diambil sampai kondisi benar-benar kondusif dan dilakukan evaluasi total. Termasuk menunggu kebijakan dari FIFA. Mencegah kemudaratan harus didahulukan. “Harus tegas. Segera bentuk tim investigasi. Pemerintah harus mengungkap tragedi kemanusiaan ini sampai tuntas hingga akar masalahnya,” tegas Gus Salam.

Kecaman dari Jaringan GUSDURian

Sementara itu, Direktur Jaringan GUSDURian Alissa Wahid menyatakan, Sabtu (1/10) publik dikejutkan peristiwa chaos di Stadion Kanjuruhan. Peristiwa itu terjadi seusai pertandingan Liga 1 antara Arema Malang vs Persebaya Surabaya.

Lalu, pada Minggu (2/10) dini hari muncul berbagai kabar yang menyebutkan ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Hingga Minggu malam, angka resmi menyebut 125 jiwa telah meninggal dunia. ‘’Dengan jumlah korban sebanyak ini Tragedi Kanjuruhan menjadi tragedi terbesar kedua dalam sejarah sepak bola dunia,’’ kata Alissa dalam rilis yang diterima JawaPos.com (3/10).

Kejadian itu, lanjut dia, tentu menjadi pertanyaan mengingat tidak ada potensi bentrok antarsuporter. Sebab, hanya pendukung Arema yang diperbolehkan masuk ke stadion. Berbagai spekulasi pun muncul. Salah satunya mengenai penyebab meninggalnya ratusan korban adalah sesak napas akibat gas air mata yang ditembakkan aparat kepolisian ke kerumunan penonton di berbagai titik.

Padahal, FIFA melalui FIFA Stadium Safety and Security Regulations dengan tegas melarang penggunaan gas air mata untuk mengendalikan massa. Pada pasal 19 b) tertulis: No firearms or crowd control gas shall be carried or used. Tragedi paling dahsyat yakni di Estadio Nacional, Peru, pada 1964. Peristiwa itu juga terjadi karena penembakan gas air mata di dalam stadion.

Dari berbagai sumber juga didapat informasi, kepolisian setempat dan panitia pelaksana sudah meminta untuk mengubah jadwal pertandingan menjadi sore hari. Namun, permintaan ini ditolak PT Liga Indonesia Baru sebagai penyelenggara kompetisi. Diinformasikan pula, panitia mencetak tiket melebihi kapasitas tempat duduk di stadion.

Karena itu, lanjut Alissa, jaringan GUSDURian turut menyatakan sikap. Pertama, berduka cita kepada korban dan keluarganya atas tragedi kemanusiaan yang terjadi. Kedua, mengecam dan menyesalkan tindakan aparat yang represif dan menembakkan gas air mata ke tribun penonton.

’’Diduga ratusan korban meninggal dunia karena tindakan tersebut. Kepolisian harus melakukan evaluasi total terhadap protap keamanan pertandingan sepak bola,’’ papar salah seorang putri KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu.

Ketiga, meminta Pemerintah Indonesia untuk mengusut tuntas tragedi kemanusiaan ini dengan membentuk tim investigasi independen dan menghukum siapa pun yang bersalah. Keempat, meminta Komnas HAM untuk mengusut dugaan pelanggaran HAM yang dilakukan aparat dalam penanganan keamanan di stadion.

Kelima, mendesak PSSI untuk membekukan segala aktivitas sepak bola sampai ada evaluasi yang menyeluruh terhadap penyelenggaraan pertandingan sepak bola. Keenam, mengimbau kepada masyarakat untuk memperkuat solidaritas dan melawan segala bentuk fanatisme buta. ’’Tidak ada sepak bola yang lebih berharga daripada nyawa,’’ pungkasnya.

Editor : M. Sholahuddin

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads