Tim Ahli Gedung Nilai Kelaikan Gedung Paska Gempa Lombok

Begini Rekomendasinya

03/09/2018, 16:03 WIB | Editor: Mohamad Nur Asikin
Ilustrasi kondisi gedung setelah terkena gempa di Lombok, NTB (Dok.JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Bencana gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) telah menimbulkan banyak korban jiwa maupun kerusakan bangunan. Pemerintah berencana melakukan rehabilitasi rumah penduduk secara masif maupun perbaikan gedung-gedung perkantoran serta  fasilitas penunjang lainnya.

Dinas Cipta Karya Provinsi NTB dibantu sejumlah ahli melakukan penaksiran (assessment) terhadap kondisi bangunan gedung di Lombok NTB akibat gempa.

Ahli struktur, Ir Moch. Arif Toto R, M-Eng mengungkapkan gempa di Lombok ini ada yang gerakannya horisontal, tetapi ada juga gerakannya vertikal.

Ilustrasi pembangunan pondasi sarang laba-laba (Istimewa)

"Jadi guncangannya selain horisontal juga vertikal, yang merusak itu vertikal ditambah akselerasi, terutama pada elemen-elemen arsitektural seperti penggunaan atap bangunan bermaterial berat seperti genteng yang saat terjadi gempa jatuh menimpa plafon," ujar Toto dalam keterangannya mengenai kondisi bangunan di Lombok, Senin (3/9).

Toto mengatakan, proses assessment merupakan forensik bangunan untuk nantinya dikeluarkan rekomendasi laik fungsi atau tidak, kalau tidak laik berarti ada tindak lanjut apakah cukup diperkuat atau harus diganti, sedangkan yang laik fungsi segera diterbitkan sertfikat laik fungsi.

Dari hasil penelaahan sementara, ia merekomendasikan untuk bangunan di daerah rawan gempa sebaiknya selain ditunjang pondasi anti gempa juga menggunakan atap ringan.

Dari hasil pengamatannya, Rumah Sakit Umum Provinsi di Mataram yang menggunakan konstruksi sarang laba-laba, tidak mengalami kerusakan yang berarti meski berkali-kali diguncang gempa.

"Sifat dan karakter konstruksi sarang laba-laba yang kaku dan stabil serta responsif membuat bangunan di atasnya tidak mengalami kerusakan struktur meskipun diguncang gempa beberapa kali," jelas Toto.

Karakter konstruksi seperti ini akan mengikat bangunan di atasnya saat terjadi gempa, ini yang membuatnya tidak mengalami kerusakan.

Menurutnya, penggunakan konstruksi tahan gempa seperti konstruksi sarang laba-laba seharusnya diwajibkan untuk bangunan fasilitas publik seperti rumah sakit untuk daerah-daerah seperti Nusa Tenggara Barat.

"Kerusakan yang saya lihat sifatnya non struktural seperti genteng jatuh dan dinding retak," ujar dia.

Gedung lain yang tidak mengalami kerusakan adalah Balai Kesehatan Mata Provinsi di Lombok dan gedung Balai Kepegawaian Daerah karena bangunan tua peninggalan Belanda yang menggunakan satu batu yang sangat tebal sebagai dinding, jelas Toto.

Bangunan lain yang juga tidak mengalami kerusakan karena menggunakan konstruksi sarang laba-laba adalah gedung Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Kantor Perwakilan NTB di Mataram.

Berdasarkan survei ditambah data-data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Badan Meteorologi dan Geofisika setempat maka diputuskan untuk menggunakan konstruksi tahan gempa kontruksi sarang laba-laba.

(nas/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi