JawaPos Radar

Seren Taun, Simbol Harmoni Warga Cigugur Kuningan

03/09/2018, 18:20 WIB | Editor: Budi Warsito
Seren Taun, Simbol Harmoni Warga Cigugur Kuningan
Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko menghadiri upacara adat Seren Taun, Senin (3/9). (Wildan Ibnu Walid/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Ratusan masyarakat Desa Cigugur, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan berbondong-bondong mendatangi komplek Pendopo Paseban Tri Panca Tunggal, Senin (3/9). Mereka membawa hasil panen padi dan hasil bumi lainnya untuk melakukan prosesi upacara adat Seren Taun.

Tampak warga yang hadir menumbuk padi di lumpang panjang. Tak hanya itu saja, mereka juga membuat hiasan payung janur bersusun tiga. Hiasan itu, merupakan simbol kecintaan kepada alam semesta. Sementara itu sebagian warga lainnya mengalunkan musik gamelan. Alunan musik itu mengandung makna perayaan Seren Taun sudah dimulai.

Upacara adat yang digelar setiap tanggal 22 Rayagung atau bulan terakhir di kalender Sunda itu, dihadiri oleh pimpinan daerah, perwakilan pemerintah pusat, sesepuh dan tokoh adat setempat dan penduduk desa di sekitar Desa Cigugur.

Seren Taun, Simbol Harmoni Warga Cigugur Kuningan
Warga Desa Cigugur merayakan Seren Taun dengan menumbuk bersama hasil panen padi, Senin (3/9). (Wildan Ibnu Walid/JawaPos.com)

Upacara adat yang sudah berlangsung ratusan tahun itu juga dihadiri oleh Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko. Dalam sambutannya, mantan Panglima TNI itu mengatakan, upacara adat semacam perlu dilestarikan karena mampu mempererat rasa kebersamaan dan persatuan masyarakat.

Meski masyarakat Desa Cigugur memiliki latar belakang agama berbeda-beda, akan tetapi kehidupan sehari-hari bisa saling menjaga kerukunan dalam bingkai budaya.

Upacara adat Seren Taun, kata Moeldoko, mengikat rasa kebersamaan masyarakat Desa Cigugur dengan ungkapan rasa sukur persembahan hasil padi dan panen hasil bumi lainnya.

"Upacara adat Seren tahun ini sangat mendukung ketahanan pangan, dan bermanfaat bagi masyarakat secara langsung," katanya usai menghadiri Seren Tahun di Pendopo Paseban Tri Panca Tunggal, Desa Cigugur, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Senin (3/9).

Upacara adat Seren tahun itu, kata Moeldoko, mendukung program ketahanan pangan yang sedang dijalankan pemerintah. Kepada masyarakat Sunda Wiwitan Desa Cigugur, dia berharap masyarakat setempat tetap menggarap sawah dan tidak menjual sawah untuk kepentingan lain.

Dia menyebutkan, selama ini Jawa Barat dan Jawa Timur merupakan daerah penghasil padi terbanyak. Sehingga pemerintah berharap kepada petani untuk meningkatkan produktifitas hasil panennya. Dengan cara penggunaan bibit unggul dan pupuk organik.

Di tempat yang sama, tokoh adat Sunda Wiwitan Cigugur, Gumirat Barna Alam mengatakan, peringatan Seren Taun ini sebagai wujud rasa sukur kepada sang pencipta atas hasil panen yang sudah dilimpahkan.

Upacara Adat Seren Taun ini tidak lain dimaksudkan agar warga Desa Cigugur memberikan perlindungan di musim tanam mendatang. Dia pun berharap melalui peringatan Seren Taun ini, warga Cigugur tetap kokoh dalam melestarikan adat demi kedaulatan bangsa dan negara.

Gumirat menyampaikan upacara adat Seren Taun pun sebagai refleksi Bhineka Tunggal Ika. Di mana warga Desa Cigugur sangat rukun meski latar belakang agama sangat majemuk. Namun begitu, semua warga tetap berpegang teguh pada upacara adat istiadat Seren Taun.

"Warga Desa Cigugur adalah masyarakat yang majemuk, memiliki latar agama yang berbeda-beda. Melalui Seren Taun ini diharapkan Indonesia semakin kuat," katanya.

(wiw/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up