JawaPos Radar

Pelaku Kejahatan Jalanan di Pekanbaru Didominasi Kaum Muda

03/09/2018, 22:45 WIB | Editor: Budi Warsito
Pelaku Kejahatan Jalanan di Pekanbaru Didominasi Kaum Muda
Dua pemuda pelaku kejahatan mengenakan pakaian tahanan setelah diringkus polisi. (Virda Elisya/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Maraknya aksi kejahatan jalanan di Kota Pekanbaru, Riau, membuat masyarakat resah. Keresahan itu sangat dirasakan terutama kaum hawa. Sebab, mayoritas korbannya adalah perempuan. Tapi yang lebih memprihatinkan, para pelaku kejahatan itu didominasi usia muda.

Akhir bulan Agustus 2018 lalu, Polsek Bukitraya mengamankan dua pelaku pencurian dengan kekerasan (Curas) modus jambret. Mereka adalah FA alias Fadil, 21, dan BP, 17. Usia yang masih tergolong remaja. Pengakuan keduanya, aksi jambret itu telah mereka lakukan di 21 Tempat Kejadian Perkara (TKP). 

Kedua tersangka mengaku, mereka memang selalu menyasar perempuan. Alasannya jika dijambret, perempuan tak bisa mengejar. Selain itu, juga akan kalah tenaga jika melawan. "Korbannya cewek semua. Gak pernah yang cowok. Karena kalau cewek kan bawa motornya lambat. Terus kalah tenaga juga," ungkap FA dan BP dihadapam awak media, Senin (3/9).

Pelaku Kejahatan Jalanan di Pekanbaru Didominasi Kaum Muda
Dua pemuda pelaku kejahatan mengenakan pakaian tahanan setelah diringkus polisi. (Virda Elisya/JawaPos.com)

Dalam riwayat pendidikannya, FA dan BP mengaku hanya tamatan Sekolah Dasar (SD). Mereka tak melanjutkan pendidikannya karena faktor ekonomi. Selain itu, latar belakang keluarga yang broken home atau tak harmonis, juga menjadi pemicu sehingga mereka terjerumus dalam kehidupan kelam.

FA mengaku, orang tuanya sudah berpisah sejak ia berumur 4 tahun. "Sudah sejak kecil pisahnya. Saya asal Tapanuli Selatan. Mamak di Payakumbuh. Disini tinggal dengan kakak dan abang ipar," paparnya kepada JawaPos.com.

Sementara BP mengungkap bahwa, ayahnya saat ini tengah mendekam di dalam Lembaga Pemasyarakatan (LP) Klas IIA Pekanbaru. "Ayah di dalam LP. Kena kasus narkoba," sebutnya.

Menanggapi fenomena jambret yang marak di Pekanbaru ini, pakar kriminologi Universitas Islam Riau (UIR), Kasmanto Rinaldi, SH., MSi mengatakan, dalam konteks pelaku kejahatan konvensional seperti kejahatan jalanan memang cenderung dilakukan masyarakat dari kalangan kelas bawah.

"Terkait usia yang masih dini, sesungguhnya peran keluarga sangat dominan dalam memberikan nilai 'kebaikan' pada diri si anak. Dalam konteks ini, keluarga bisa diartikan sebagai lingkungan utama si anak, yang sangat mempengaruhi tumbuh kembangnya, disamping keberadaan lingkungan dan teman pergumulannya," ungkap Kasmanto.

Dijelaskan Kasmanto, dalam dinamika yang terjadi dalam suatu kejahatan, ada tiga faktor yang mendominasi. Pertama, motivasi dari penjahat dan orang yang potensial melakukan kejahatan. Dalam kasus jambret ini, dapat dilihat FA dan BP memiliki motivasi melakukan kejahatan karena faktor ekonomi dan keluarga yang tak lagi harmonis.

Kedua, suitable target atau target yang layak. Perempuan selalu menjadi target yang layak untuk menjadi korban jambret. Karena ketidakhati-hatian mereka saat berkendara.

"Kecendrungan potensial victimology adalah dari kalangan perempuan dan yang menggunakan sepeda motor. Hal ini diasumsikan mereka, bahwa peluang mereka berhasil melakukan aksinya dan potensi tertangkap jauh lebih kecil," tuturnya.

Ketiga, lemahnya penjagaan dan pengawasan. "Dalam konteks ini keberadaan rasa aman melalui penjagaan pihak kepolisian di jalan raya yang 24 jam sangat diperlukan saat ini, meskipun senantiasa berhadapan dengan jumlah anggota kepolisian dan sarana prasarana yang tersedia," kata dia.

Sementara itu, banyaknya kejahatan yang dilakukan di jalan raya disebabkan lokasi itu merupakan urat nadi dari mobilitas masyarakat di perkotaan. Waktu beraktifitas di jalan raya sangat penting untuk dikontrol guna mencegah dan meminimalisir terjadinya peristiwa kejahatan.

"Dalam konteks kejahatan di jalan raya terutama di wilayah perkotaan, mobilitas masyarakat yang menggantungkan hidupnya di jalan raya cukup tinggi. Dinamika aktifitas masyarakat tersebut sangat bervariatif sesuai dengan profesinya masing-masing," jelas Kasmanto yang kini tengah menjalani pendidikan untuk gelar doktor di Universitas Indonesia (UI).

Selain pengawasan, kelayakan jalan dan kondisi jalan yang bergelombang serta penerangan di jalan raya juga sangat berkontribusi untuk membuat pengguna jalan nyaman. Ini akan membuat pelaku sulit untuk beraksi.

"Jika jalanan tidak nyaman bagi masyarakat seperti kurangnya penerangan, banyaknya jalan berlobang dan bergelombang membuat kejahatan akan mudah terjadi. Ini juga bisa terlihat dari beberapa tindakan kejahatan yang terjadi disebabkan oleh ketidaklayakan sarana dan prasarana di jalan raya," tuturnya.

Kasmanto berharap, agar permasalahan kejahatan jalanan ini bisa segera teratasi. Jangan timbul korban dahulu baru akan diselidiki. "Kita berharap persoalan ini bisa teratasi. Sehingga jangan sempat menimbulkan korban dulu baru dilakukan perbaikan," harapnya.

(ica/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up