JawaPos Radar

Wahyuni, Pengidap Pembengkakan Pembuluh Darah

Kulit Kepala Terkelupas, Tidur Dialasi Daun Pisang

03/09/2018, 14:29 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Bayu Sakit
Kondisi Wahyuni, bayi yang menderita pembengkakan pembuluh darah di bagian kepala. (Istimewa)
Share this

Tubuh mungil Wahyuni Aritonang hanya bisa terbaring lemas. Bayi yang baru berusia beberapa bulan itu harus menahan sakit atas pembengkakan pembuluh darah.

Prayugo Utomo, Sumatera Utara

---

Bayi Sakit
Kondisi Wahyuni, bayi yang menderita pembengkakan pembuluh darah di bagian kepala. (Istimewa)

6 Juli 2018 menjadi hari bahagia bagi pasangan Frengki Aritonang, 32, dan Dewi Sartika Boru Hutauruk, 28. Biduk rumah tangganya kembali dikaruniai seorang bidadari kecil.

Bayi itu dinamai Wahyuni Aritonang. Bayi mungil itu merupakan anak keempat. Di awal kelahiran, Wahyuni tampak sehat seperti bayi pada umumnya. Petaka mulai datang dua minggu setelah kelahiran Wahyuni. Dia divonis mengidap pembengkakan pembuluh darah. Frengki dan Dewi sempat panik. Mereka bingung mau membawa buah hatinya berobat.

Di usianya yang masih dua bulan, Wahyuni harus menahan sakit. Dia terus menangis. Mulanya, Wahyuni mengalami demam tinggi. Lalu terjadi pembengkakan di bagian kepala belakang. Bahkan kini, kulit kepalanya mulai terkelupas hingga bagian leher. Bagian tubuhnya itu mengeluarkan darah dan nanah.

Saat kondisinya makin memburuk, Frengki dan Dewi membawa Wahyuni ke Puskesmas di kawasan Sibabangun. Pihak Puskesmas kemudian merujuk Wahyuni ke RSUD Pandan. Satu minggu dirawat, kondisi Wahyuni tak kunjung membaik. Hanya terjadi penyusutan pmbengkakan.

"Kami semakin khawatir. Cuma ingin anak kami sembuh," kata Frengki sambil berlinang air mata di rumahnya, Dusun III, Desa Mombang Boru, Kecamatan Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara (Sumut).

Kulit kepala dan leher Wahuni melepuh. Pihak Rumah Sakit menyarankan agar anak mereka dibawa ke rumah sakit di Medan. Frengki terkendala biaya. Selama ini, mereka memang hidup seadanya. Penghasilannya sebagai buruh harian lepas (BHL) hanya cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. BPJS juga tidak ada.

Di RSUD Pandan, Frengki hanya bermodalkan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Karena terkendala biaya, Wahyuni dipulangkan ke rumah dan dirawat seadanya. Kepalanya yang luka hanya dialasi daun pisang agar tak menempel di kain bantal.

Semangat keluarga Frengki menurun. Mereka mulai pasrah dengan kondisi Wahyuni. Frengki hanya berharap bantuan dari para dermawan dan pemerintah untuk pengobatan anaknya. "Semoga pemerintah maupun para dermawan berkenan membantu biaya pengobatan putri saya ini," harap Frengki.

(ce1/pra/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up