JawaPos Radar

MNP Diyakini Mampu Memperlancar Ekspor

03/05/2018, 11:46 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Pelindo IV
Dialog PT Pelindo IV terkait progres Program Konektivitas di KTI di Makassar, Kamis (3/5). (Sahrul Ramadan/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV tercatat sukses membangun konektivitas di Indonesia Timur. Terbukti dengan penurunan harga barang kebutuhan karena kelancaran suplai sejumlah komoditas.

Kesuksesan ekspor langsung komoditas unggulan dari beberapa daerah di Indonesia Timur juga menjadi tolak ukur. Hal itu menunjukkan bahwa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kepelabuhanan ini memang fokus dan serius dalam upaya membangun konektivitas di wilayah Timur Indonesia.

Di sisi lain, pembangunan Makassar New Port (MNP) sudah dikerjakan sejak 2015. Mega proyek yang menjadi salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) itu digadang-gadang menjadi pelabuhan utama. Keberadaanya akan menopang konektivitas dari wilayah-wilayah di Kawasan Timur Indonesia (KTI).

Direktur Utama PT Pelindo IV Doso Agung mengatakan, sejak akhir 2015 pihaknya sudah berupaya membangun konektivitas di Indonesia Timur. Yakni dengan melakukan direct call dan direct export ke luar negeri. Program itu bekerja sama dengan perusahaan pelayaran internasional asal Hongkong, SITC.

Kedua kegiatan tersebut hingga kini intens dilakukan perseroan dari beberapa pelabuhan besar di KTI. Di antaranya Pelabuhan Makassar, Pelabuhan Pantoloan, Pelabuhan Ambon, Pelabuhan Balikpapan dan Pelabuhan Jayapura.

"Semua itu merupakan upaya yang dilakukan untuk meningkatkan konektivitas domestik dan menekan disparitas harga. Sebelumnya begitu tinggi antara wilayah Barat dan Timur Indonesia," kata Doso Agung dalam dialog terkait progres Program Konektivitas KTI di Makassar, di Kantor PT Pelindo IV, Jalan Nusantara, Makasar, Kamis (3/5).

Selama ini cukup banyak bukti keberhasilan konektivitas di Indonesia Timur. Tterutama dalam menekan disparitas harga barang kebutuhan dan membuat Sulawesi Selatan (Sulsel) pernah mengalami deflasi. Tepatnya pada Ramadan dan jelang Lebaran Idul Fitri 2017.

Menurut Doso, konektivitas sangat erat hubungannya dengan pengendalian harga komoditas di Indonesia Timur. Sebap utamanya karena terbangunnya konektivitas laut.

"Otomatis membuat suplai sejumlah komoditas ke wilayah ini lebih terbuka. Alhasil, disparitas harga antara Timur dan Barat perlahan menyusut. Disusul dengan harga barang di tingkat konsumen yang juga menurun. Muaranya yakni menggairahkan kembali daya beli masyarakat," sebut Doso.

Tercatat untuk harga semen di Wamena, Papua, yang semula Rp500.000 per sak, kini bisa dinikmati dengan harga Rp300.000 per sak. Atau mengalami penurunan harga sebesar 40 persen. Begitu juga dengan harga beras di Sorong yang semula Rp13.000 per kg. Kini tinggal Rp10.500 per kg. Atau turun harga sebesar 20 persen.

Doso menyatakan, direct call dan direct export juga membuka peluang bagi daerah di Indonesia Timur untuk menambah pendapatan. KTI diketahui kaya komoditas unggulan yang selama ini diminati negara asing. Namun negara asing hanya mengetahui komoditas itu berasal dari Surabaya atau Jakarta. Sebab pengirimannya melalui Tanjung Perak atau Tanjung Priok.

Tapi sejak Desember 2015, produk unggulan dari Indonesia Timur sudah bisa dikirim langsung ke luar negeri dari Makassar. "Tentunya itu bisa menambah pendapatan daerah dari berbagai biaya yang ditimbulkan," ujarnya.

Doso optimistis dengan beroperasinya MNP yang ditarget rampung Oktober tahun ini, konektivitas di wilayah Indonesia Timur dan kegiatan direct call serta direct export yang dilakukan selama ini akan semakin lancar.

(rul/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up