JawaPos Radar

Pajak Sarang Burung Walet Masih di Awang-awang

03/05/2017, 09:22 WIB | Editor: Ilham Safutra
Pajak Sarang Burung Walet Masih di Awang-awang
Ilustrasi (Pixabay.com)
Share this image

JawaPos.com - Kota Pekanbaru memiliki salah satu potensi pendapatan asli daerah (PAD) yang cukup unik, yakni penangkaran sarang burung walet.

Bahkan jumlahnya penangkaran itu di Kota Pekanbaru mencapai ratusan. Namun yang bisa menjadi potensi PAD baru puluhan, sehingga estimasi PAD dari sektor penangkaran sarang burung walet ini belum optimal.

Disinyalir salah satu penyebab belum optimalnya sumber PAD di sektor ini, karena karena Pemilik usaha sarang walet yang menjadi Wajib Pajak sulit ditemui oleh petugas.

Sekretaris Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Pekanbaru, Kendi Harahap menyebutkan, saat ini baru 10 wajib pajak sarang burung walet yang rutin membayarkan pajak. Minimnya jumlah WP yang membayar pajak sarang burung walet karena pemilik tempat penangkaran walet jarang di tempat ketika petugas UPTD Bapenda di kecamatan mendatangi tempat tersebut.

"Petugas kita sudah mendatangi ke tempat itu pemilik tidak pernah dijumpa, terkadang yang ditemui hanya pekerja yang menjaga walet itu," paparnya seperti dilansir Riau Pos (Jawa Pos Group), Rabu (3/5).

Menurut Kendi, kondisi ini membuat realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor tersebut sangat rendah. Padahal pembayaran pajak sarang burung walet ini sudah tertuang di dalam Peraturan Daerah (Perda) nomor 10/2011 tentang pajak sarang burung walet.

Dalam perda itu disebutkan setiap pemilik usaha diwajibkan membayar pajak sebesar 5 persen dari hasil penjualan. "Diwajibkan bayar pajak 5 persen dari hasil penjualan, semua sudah diatur dalam perda," tandasnya. (*3/iil/JPG)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up