alexametrics

Bus Cepat Makassar Perlahan Mati

3 April 2019, 16:16:32 WIB

JawaPos.com – Bus Rapid Transit (BRT) atau Bus Trans Mamminasata perlahan mati. Beroperasi sejak 2014, proyek pemerintah pusat itu sempat diharapkan menjadi solusi transportasi mudah sekaligus mengatasi kemacetan lalu lintas di Makassar.

Perum Damri Cabang Makassar yang ditunjuk sebagai operator, perlahan angkat tangan dalam pengelolaan BRT. “Damri itu aset BUMN yang berorientasi keuntungan. Kalau kondisinya merugi, bagaimana mau beroperasi,” kata General Manager (GM) Damri Makassar M Ilyas Haryanto, Rabu (2/4).

BRT perlahan tergerus dengan hadirnya transportasi lain yang lebih memadai. Kini masyarakat cenderung memilih angkutan lain. Kondisi ini sangat terasa sejak kehadiran sarana transportasi dalam jaringan.

“Kami akui masuknya angkutan online sangat berpengaruh. Karena orang bisa bepergian sampai ke rumah, bukan turun di halte seperti jika menggunakan bus,” ungkap Ilyas.

Setelah bertahan 5 tahun, Damri memutuskan untuk menutup sebagian koridor Bus Trans Mamminasata karena tak sanggup menahan kerugian. Pada tahap awal, Perum Damri mengoperasikan Koridor 2 yang melayani rute dari mal ke mal di dalam Kota Makassar.

Menyusul Koridor 3 rute Terminal Daya-Pallangga, Kabupaten Gowa, dan Koridor 1 Bandara Hasanuddin-Jalan Riburane Makassar. Kemudian Koridor 4 melayani rute Terminal Daya-Terminal Maros, dan Koridor 7 Terminal Pallangga-Terminal Pallangga. Semua koridor ditempuh pergi pulang.

Kini yang tersisa hanya Koridor 1 dan 3. Dari 30 armada BRT, Damri hanya mengoperasikan 10 unit secara bergantian. Termasuk untuk satu rute nonkoridor yang melayani rute antarkampus UIN.

“BRT Trans Mamminasata sulit bertahan karena Damri tak punya cukup pemasukan untuk biaya operasional. Selama ini untuk dua koridor tersisa, cara menjalankan BRT dengan subsidi silang dari pendapatan bus reguler antar kota dalam provinsi,” jelas Ilyas.

Terpisah, Manajer Teknik Operasional Damri Makassar Hermanto mengungkapkan bahwa satu armada BRT butuh biaya operasional sekitar Rp 400 ribu per hari. Biaya itu untuk keperluan bahan bakar serta membayar pengemudi dan pengawas. Belum termasuk keperluan lain. Misalnya perawatan oli atau ban.

“Kerugian sangat terasa. Karena selama ini satu armada hanya menghasilkan pendapatan antara Rp 50 ribu hingga Rp 150 per hari. Biaya operasional pun ditutupi dari subsidi silang yang jumlahnya semakin banyak,” terangnya.

Kerugian sudah terjadi sejak awal. Dari 2016 hingga 2018, rata-rata rugi Rp 3 miliar per tahun. Adapun kerugian berasal dari pendapatan reguler yang disubsidi. Saat ini, Damri berupaya untuk terus mengoperasikan BRT yang tersisa.

“Sesuai komitmen, kami operasikan saja semampunya. Kalau tidak, pasti sudah menyerah. Kalau saat ini masih ada yang bisa digerakkan untuk menutupi biaya operasi, kami tutupi,” pungkasnya.

Editor : Sofyan Cahyono

Reporter : Sahrul Ramadan



Close Ads
Bus Cepat Makassar Perlahan Mati