alexametrics

Tahun Babi Tanah, Alam Belum Bersahabat

3 Februari 2019, 20:10:42 WIB

JawaPos.com – Tahun Baru Imlek pada 2019 ini memasuki tahun Babi Tanah. Memiliki makna yang tidak terlalu berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, hanya saja alam masih tak bersahabat dengan manusia.

“Kalau maknanya sama seperti tahun-tahun biasanya, sama saja. Hanya kalau untuk kesuburan masih belum, alam belum bersahabat,” kata Margo Mulyo, pengurus dari Kelenteng Poncowinatan, kepada JawaPos.com, Minggu (3/2).

Pada tahun Babi Tanah ini, lanjutnya, masih akan ada peristiwa bencana. Untuk itu perlu menjadi kewaspadaan bagi masyarakat. “Bencana masih banyak,” katanya.

Selain itu beberapa Shio juga harus lebih berhati-hati dalam menjalani langkah kehidupannya. Seperti pemilik Shio Babi, Ular, Kera, dan Macan. “Hanya untuk 4 Shio itu saja,” ucapnya.

Dalam perayaan Imlek di Kelenteng Poncowinatan ini, sebatas digelar doa bersama pada Minggu (3/2). Selanjutnya warga keturunan Tionghoa yang merayakannya, lebih pada berkumpul dengan kerabatnya.

Terpisah, Humas dan Publikasi Panitia Pekan Budaya Tionghoa Jogjakarta 2019, Ng Liong Ho mengatakan, perayaan Imlek yang digelar oleh Jogja Chinese Art and Culture Centre (JCACC) atau Pusat Seni dan Budaya Tionghoa Jogjakarta tak berbeda jauh dengan tahun sebelumnya.

“Perayaan nanti akan dipusatkan di Kampoeng Ketandan dan untuk karnaval budaya di sepanjang Jalan Malioboro sampai dengan Alun-alun Utara,” katanya.

Ia juga menjelaskan, Imlek berasal dari bahasa Hokkien yang merupakan salah satu bahasa daerah di Tiongkok bagian Tenggara. Im yang berarti bulan dan liek merupajan penanggalan.

Tahun Baru Imlek merupakan perayaan dalam menyambut datangnya musim semi, waktu dimulainya bercocok tanam. Rakyat Tiongkok yang mayoritas berprofesi sebagai petani menyambut dengan gembira datangnya musim semi.

Itulah mengapa penanggalan bulan pada Imlek disebut juga Nong Li dalam bahasa Mandarin yang berarti penanggalan petani. Masyarakat Tiongkok, lanjutnya, merayakan tahun baru Imlek selama 15 hari dengan perayaan Cap Go Meh sebagai puncak atau akhir. Cap artinya sepuluh, sementara ‘go‘ artinya 5, dan ‘meh‘ berarti malam.

Dalam masyarakat Tiongkok juga dikenal adanya ‘cap li shio‘ untuk melambangkan tahun. Terdapat 12 hewan untuk mewakili masing-masing 1 tahun dalam siklus 12 tahunan.

Selain itu, dikenal juga 5 elemen yaitu logam, air, kayu, api dan tanah. Setiap elemen muncul 2 tahun dalam siklus 12 tahunan shio. Sehingga dibutuhkan 60 tahun untuk kembali ke tahun dengan shio dan elemen yang sama. “Tahun 2019 jatuh pada tahun Babi tanah,” ucapnya.

Editor : Sari Hardiyanto

Reporter : Ridho Hidayat

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Tahun Babi Tanah, Alam Belum Bersahabat