alexametrics

Potret Suram Transportasi Joglosemar

2 November 2018, 13:00:11 WIB

JawaPos.com – Tingginya pertumbuhan kendaraan yang tidak diimbangi dengan penambahan ruas jalan, membuat kondisi lalu lintas semakin padat. Belum optimalnya keberadaan transportasi umum, mengakibatkan warga lebih memilih kendaraan pribadi untuk aktivitas sehari-hari.

Tak ayal kemacetan pun kian tahun bertambah parah. Seperti halnya terjadi di Jogja, Solo dan Semarang (Joglosemar). Kasatlantas Polrestabes Semarang AKBP Yuswanto Ardi mengatakan peningkatan jumlah kendaraan pribadi di wilayahnya setiap tahunnya meningkat sekitar 10-15 persen. 

Jika diprosentase dalam tiap bulannya sekitar 5.000-8.000 unit kendaraan, baik roda 2 dan 4. “Totalnya sekarang pada angka 1,6 dan 1,7 juta,” ujarnya kepada JawaPos.com, baru-baru ini.

Potret Suram Transportasi Joglosemar
INFOGRAFIS: Potret Suram Transportasi Joglosemar (Kokoh Praba/JawaPos.com)

Titik-titik padat yang timbul akibat membeludaknya jumlah angkutan pribadi, antara lain di Simpang Gatot Subroto ke arah kawasan industri Candi sampai dengan Simpang Krapyak untuk area Semarang Barat, tepatnya sepanjang Jalan Siliwangi dan Walisongo. Kemudian, di jalur timur ada Jalan Kaligawe.

“Karena di situ juga banyak hambatan-hambatan samping. Ditambah kegiatan perbaikan jalan yang masih berlangsung karena di sana sering rob dan harus diperbaiki secara berkala,” lanjutnya.

Guna mengatasi persoalan transportasi tersebut, tentunya dibutuhkan koordinasi dari seluruh pihak. Mulai dari rekayasa lalu lintas hingga pengaturan keberadaan transportasi umum. “Kita membutuhkan manajemen pengaturan lalu lintas yang lebih baik lagi. Mulai dari pengaturan jam keberangkatan, dari jam keberangkatan anak sekolah dan orang bekerja,” ujarnya.

Terkait keberadaan transportasi umum, menurutnya vital karena mampu mengurangi kepadatan di jalan raya. Oleh karena itu, transportasi umum yang dimiliki tentunya harusnya terintegrasi seluruhnya dan efektif untuk masyarakat. Karena itu, memerlukan pemetaan dan perencanaan yang matang. “Sehingga mereka tak selalu menggunakan kendaraan pribadi,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dishub Solo, Hari Prihatno mengatakan kemacetan juga menjadi momok bersama di Kota Solo. Pasalnya, pertumbuhan kendaraan kian membuat jalanan semakin macet.

Menurut catatan Dishub, kemacetan kerap terjadi di i wilayah Purwosari, Gilingan, Tugu Wisnu Manahan. Selain itu, titik rawan macet yang lainnya berada di simpang tiga Kerten, Pasar Nongko, simpang tujuh Joglo. Kemacetan sering terjadi pada jam-jam tertentu. Seperti saat jam kerja dan masuk sekolah. Kemudian juga saat jam pulang kerja.

“Kemacetan yang terjadi ini semakin diperparah dengan adanya pembangunan. Seperti overpas dan pembangunan yang lainnya,” terang Hari kepada JawaPos.com.

Hari menambahkan, sampai saat ini belum ada solusi yang tepat untuk mengatasi kepadatan dan ancaman kemacetan yang terjadi di Kota Solo. Sedangkan pembangunan overpas Manahan dan keberadaan jalan tol, dinilai tidak begitu ampuh untuk mengurai kemacetan yang terjadi hampir merata di Solo.

Selain itu, Pemkot Solo juga tidak bisa melakukan pelebaran atau pun penambahan jalan. “Jalan kampung juga sempit, ini semakin memperparah kepadatan lalu lintas. Sedangkan adanya overpas itu hanya untuk mengurai kemacetan di satu titik saja,” ungkapnya. 

Hari menyebut, sampai saat ini jumlah kendaraan pribadi di Solo sudah lebih dari 700 ribu. Jumlah ini akan meningkat hingga tiga kali lipat saat jam kerja. Dan jumlahnya bisa mencapai 2 juta. Hal ini karena, banyak warga dari luar Solo yang bekerja di Solo atau melintas di Solo. 

Peningkatan jumlah kendaraan pribadi ini salah satunya disebabkan mudahnya untuk mendapatkan kendaraan. Mulai dari proses dan uang muka ringan menjadi promosi yang tepat untuk menarik konsumen agar membeli kendaraan. Padahal, jumlah kendaraan yang ada sudah sangat banyak. Kondisi ini jika tidak segera diatasi maka, dalam beberapa tahun ke depan kondisi kota Solo semakin macet.

Kondisi yang sama juga terjadi di Kota Gudeg. Sebagai kota yang menjual pariwisata, persoalan kemacetan menjadi persoalan serius yang harus cepat ditangani. Titik-titik kemacetan di Kota Jogjakarta, terjadi di Jalan Mataram, Jalan Jogja-Solo, Jalan Margo Utomo, Jalan Affandi, Jalan Kusumanegara, Lempuyangan.

Terpisah, Sekretaris Organisasi Angkutan Darat (Organda) Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ), Adi Didit Prasetyo mengatakan setiap tahun keberadaan transportasi umum di Jogja menurun. Selain turunnya minat masyarakat menggunakan angkutan umum, kondisi ini semakin diperparah dengan persaingan usaha yang muncul layanan angkutan berbasis online.

Untuk menjaga eksistensi angkutan umum ini, menurut Didit, seyogyanya perlu ada campur tangan dari pemerintah. Baru-baru ini pihaknya pun telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah dalam hal ini dinas perhubungan supaya ada solusi.

Usulannya yaitu bus AKDP agar bisa terkoneksi dengan layanan Trans Jogja. Baik itu AKDP dari Wonosari ke Jogja, Bantul, Sleman, maupun Kulon Progo yang menuju ke Kota Jogjakarta. “Nanti silakan dibeli layanannya per kilometer. Ini sedang berproses, kan masih membutuhkan koordinasi dan sosialisasi,” ucapnya.

Data yang dimilikinya, keberadaan untuk bus khusus pariwisata ada 800 unit. Kemudian untuk taksi ada sekitar 900 armada. “Itu yang plat AB, artinya yang memang dari Jogja dan sudah terdaftar,” katanya, Jumat (19/10).

Lalu untuk bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) ada sekitar 120 armada. Sedangkan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) ia tak mengetahui secara pasti, hanya data di Kabupaten Gunungkidul ada sebanyak 50 armada AKDP.

Editor : Sari Hardiyanto

Reporter : (apl/dho/gul/JPC)

Potret Suram Transportasi Joglosemar