alexametrics

Lalu Lintas Jogja Dituding Semrawut, Pembenahan Dianggap Salah Sasaran

2 November 2018, 14:15:03 WIB

JawaPos.com – Meski penerapan program kerja dari instansi terkait sudah dilaksanakan, namun pada kenyataannya lalu lintas di Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ), terutama di wilayah perkotaan dinilai masih semrawut. Hal tersebut, salah satunya terjadi lantaran perbaikan yang disasar belumlah tepat sasaran.

Lilik Wachid Budi Susilo, peneliti dari Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta mengatakan, permasalahan lalu lintas saling berkaitan. Seperti masalah jalan macet, infrastruktur trotoar, dan sebagainya.

“Tapi Dinas Perhubungan sudah melakukan rekayasa lalu lintas, polisi juga sudah programnya. Kenapa masih (semrawut), artinya kurang optimal dan yang kedua kemungkinan salah sasaran (perbaikan),” katanya kepada JawaPos.com, baru-baru ini.

Potrem Suram Transportasi Joglosemar
INFOGRAFIS: Potret Suram Transportasi Joglosemar (Kokoh Praba/JawaPos.com)

Salah sasaran yang dimaksudkannya adalah karena menganggap akar masalahnya adalah kemacetan. Namun yang paling utama bukanlah itu. “Kota yang bagus itu mempunyai transportasi bagus. Ketika transportasi bagus, maka angkutan umumnya bagus,” katanya.

Dimisalkannya Trans Jogja yang dimiliki Jogja saat ini, masih dirasa belum optimal. Sebab tidak masuk dalam prioritas utama dalam pembangunan kota. Seharusnya ketika memang serius menggarap transportasinya, angkutan umum atau Trans Jogja memiliki jalur khusus. Dicontohkannya ketika diterapkan di Jalan Kaliurang yang memiliki 2 jalur. 1 jalur khusus untuk Trans Jogja, kemudian 1 jalur untuk kendaraan pribadi, sepeda, maupun pejalan kaki.

Dengan begitu angkutan umum akan berjalan dengan baik. Tepat waktu, dan diminati oleh masyarakat untuk memakai jasanya. “Indikator keberhasilan angkutan umum itu salah satunya jumlah orang yang bisa diantarkan. Bus bisa mengantarkan 40 orang, kalau orang naik kendaraan pribadi butuh 40 mobil,” kata dia.

Selain itu pula, diperlukan pembangunan infrastruktur penunjang. Terutama trotoar jalan untuk memberikan fasilitas kepada pejalan kaki. “Pembangunan trotoar jalan tidak hanya di perkotaan saja. Tapi harus dimulai dari perumahan. Orang mulai beraktivitas dari rumah, tapi tidak ada trotoar. Jadi malas jalan kaki, karena panas,” ucapnya.

Sementara itu di Solo, upaya penggunaan transportasi umum terus didorong oleh Pemerintah setempat. Salah satunya dengan menghadirkan bus Batik Solo Trans atau yang biasa dikenal dengan BST.

Sampai saat ini sedikitnya sudah ada tiga koridor yang terlayani dengan armada tersebut. Koridor ini tidak hanya melintas wilayah Solo saja. Tetapi juga melintas di wilayah Boyolali, Karanganyar dan juga Sukoharjo. “Kami berharap dalam waktu dekat ini bisa mengoperasikan untuk koridor empat. Sekarang masih dalam proses pengajuan pengelolaan kepada DAMRI,” terang Kepala Dishub Hari Prihatno, kepada JawaPos.com, baru-baru ini.

Hari menyebut, sampai saat ini jumlah kendaraan pribadi di Solo sudah lebih dari 700 ribu. Jumlah ini akan meningkat hingga tiga kali lipat saat jam kerja. Dan jumlahnya bisa mencapai 2 juta. Hal ini karena, banyak warga dari luar Solo yang bekerja di Solo atau melintas di Solo.

Peningkatan jumlah kendaraan pribadi ini salah satunya disebabkan mudahnya untuk mendapatkan kendaraan. Mulai dari proses dan uang muka ringan menjadi promosi yang tepat untuk menarik konsumen agar membeli kendaraan. Padahal, jumlah kendaraan yang ada sudah sangat banyak. Kondisi ini jika tidak segera diatasi maka, dalam beberapa tahun ke depan kondisi kota Solo semakin macet.

Editor : Sari Hardiyanto

Reporter : (apl/dho/gul/JPC)



Close Ads
Lalu Lintas Jogja Dituding Semrawut, Pembenahan Dianggap Salah Sasaran