alexametrics
Lion Air JT-610 Jatuh

Buku Harian Rika dan Berjuta Kenangan Tentang Christy Artyna Prabowo

2 November 2018, 05:35:59 WIB

JawaPos.com – Jemari Rika perlahan membalik lembar kertas yang dijahit binder. Matanya mengisyaratkan kenangan di setiap foto dan coretan. Belasan tahun lalu di masa-masa sekolah. Buku itu menjadi tempat berbagi asa, persahabatan, dan curahan hati. Sebuah buku harian.

Tak lama sapuannya berhenti. Saat senyum terulas pada foto perempuan muda berambut keriwil. Yang bagian luarnya digambar dengan tangan. Terpampang di pojok atas kiri kertas. Senyum manis itu dibingkai dengan coretan tinta hitam. Wajah sahabatnya, Christy Artyna Prabowo.

“Sejak SMP rambutnya keriwil. Panjang sepinggang. Kalau sekolah biasa dikucir lalu dikepang,” sebut pemilik nama Rika Yuliani Safitri itu,dikutip dari Kaltim Post (Jawa Pos Group), Jumat (2/11).

Buku Harian Rika dan Berjuta Kenangan Tentang Christy Artyna Prabowo
Infografis jatuhnya pesawat Lion Air JT-610. (Kokoh Praba Wardani/JawaPos.com)

Lantas ada gambar rumah untuk tempat tinggal. Ditulis di ‘Swiss’. Nama beken untuk ‘Seputar wilayah Sepinggan’. Dicantumkan pula nomor telepon rumah. Di halaman yang terpasang foto, Christy mengenalkan diri sebagai Ade. Nama sapaan bagi mereka yang dekat.

“Karena dia bungsu. Paling muda di kumpulan kami,” ujar Rika.

Lalu ada hobi, yang digambarkan dengan karakter seorang anak perempuan. Berambut keriting dengan pita kupu-kupu. Mengenakan setelan langsung dan sepatu. Sedang asyik tengkurap dengan posisi tangan di dagu. Menikmati bacaan. Di bawahnya, Ade menonton televisi ditemani penganan kecil.

Di halaman lain, sosok Ade mendengarkan musik dengan mata terpejam sambil tersenyum. Lalu ada yang sedang bernyanyi. Sebuah kutipan dalam bahasa Inggris ditulis, yang artinya, Tuhan menciptakan telinga untuk mendengarkan musik, terima kasih Tuhan.

Dari buku harian itu diketahui warna kesukaannya adalah biru. Doyan es teh, jus alpukat, dan air putih. Semua juga ditulis dengan bahasa Inggris.

“Dia (Ade) anak yang pintar. Nilainya selalu bagus. Sejak SMP selalu masuk ranking 10 besar,” kata Rika.

Ditemui di kediamannya di kawasan Jalan Praja Bakti, Ringroad, Balikpapan Selatan, Rika membagikan kisah selama mengenal Christy. Dimulai pada 1999 di jenjang SMP saat pertama kali keduanya bertemu. Namun, baru di kelas tiga mereka sekelas. Sejak itu mereka sering bersama.

“Dia rapi sekali orangnya,” kesan Rika saat pertama kali mengenal Christy. Dia mengusap bulir air di balik kacamatanya.

Berbeda dengan Rika, Christy tak suka ekstrakurikuler yang membuatnya lelah secara fisik. Kegiatan yang bersifat akademik lebih disukai. Hal ini berlanjut hingga SMA pada 2002. Ketika keduanya berjanji untuk bisa satu sekolah lagi. Dengan alasan jarak.

“Sama-sama mau sekolah di SMA 5 Balikpapan. Kalau dia (Ade) enak. Nilainya bagus. Sedangkan saya pas-pasan,” kata Rika terkekeh.

Mimpi bisa bersekolah bersama terwujud. Rika dan Ade meneruskan persahabatan mereka di SMA. Bahkan selama dua tahun, yakni kelas I-5 dan kelas II-5, keduanya duduk dalam kelas yang sama.

Mengisi meja yang sama. Membuat hari-hari sekolah diisi dengan jalan dan bermain bersama. Termasuk sering foto bareng di photo box yang sedang booming kala itu. Sering Ade berkunjung ke rumah yang ditinggali Rika saat ini.

“Dia dulu kalau menunggu jemputan pulang selalu main ke sini. Jalan kaki. Dan selain kami ada Desti dan Renny,” kata Rika yang rumahnya berjarak 600 meter dari SMA 5.

Ade disebutnya sangat menyukai apa saja yang berhubungan dengan stroberi. Mulai dari makanan, buku hingga aksesorinya dikoleksi. Bahkan tak jarang, Ade membuat karya yang dihadiahkan kepada teman-temannya. Seperti gantungan kunci.

“Jadi buat dari kertas. Ditulis bagus. Diwarnai. Terus digunting dan dilaminating. Jadi gantungan,” ungkap Rika.

Hingga lulus di 2005, keduanya berpisah. Ade memilih kuliah di Jogjakarta. Sejak saat itu, hubungan hanya dilakukan di media sosial.

Media berbagi Path jadi salah satu cara mereka tetap berkomunikasi. Hingga Path tutup September lalu, Ade menyebut menggunakan Instagram.

“Sayangnya saya enggak sempat follow akun IG-nya,” sesal Rika.

Sebelumnya pada 2013 lalu, Rika dan Ade sempat bertemu di Jogjakarta. Saat itu, Rika tengah mempersiapkan diri untuk menikah. Ade membantu berburu suvenir. Menemani mendatangi tempat-tempat murah. Ikut menawar harga. Ketika menikah pun Ade datang.

“Ade paling rajin datang ke pernikahan teman,” sebutnya.

Pertama kali mendengar sahabatnya jadi korban jatuhnya Lion Air JT610, Rika menyebut baru tahu Minggu (28/10) sekira pukul 15.00 Wita. Saat dia membeli makan bersama anaknya. Pesan WhatsApp dari suami membuatnya buru-buru mengecek pesan di grup alumni SMA.

“Begitu saya baca ada namanya di manifes pesawat, terus tanggal lahirnya sama, 21 Januari 1988, saya langsung enggak karuan. Lemas. Merinding,” ucapnya.

Setelah memastikan Christy menjadi korban, Rika dan teman-teman dekat dan mengenal datang ke rumah duka pada Selasa (30/10) malam. Mereka hanya bisa bertemu dengan kakak Ade, Satya. Sementara orangtua Ade masih menunggu di crisis center di Jakarta.

“Kami semua berharap yang terbaik,” harapnya.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : (jpg/est/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Buku Harian Rika dan Berjuta Kenangan Tentang Christy Artyna Prabowo