alexametrics
Derita Kekeringan di Kabupaten Malang

7 Jam Antre di Sungai, Anak Tetangga Mandi Pakai Air Mineral Botol

2 November 2018, 13:58:23 WIB

JawaPos.com- Perjuangan warga enam desa di Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, ini teramat keras. Selama tujuh bulan terakhir mereka harus berlomba-lomba memburu air bersih. Sumber-sumber mata air tak lagi memancar, sungai-sungai menjelma jadi hamparan jalan setapak.

Dian Ayu Antika Hapsari, Malang

Kabupaten Malang Krisis air bersih kekeringan
Salah satu sungai di Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang yang berubah jadi jalan setapak akibat kekeringan. (Tika Hapsari/ JawaPos.com)

Kamis siang (1/11), terik matahari tak sungkan menyengat. Panasnya menjalar dari ubun-ubun, turun membakar kulit. Buliran keringat bercucuran membasahi pakaian. Badan rasanya lengket semua.

Walaupun udara begitu beringsang, puluhan warga Desa Purwodadi, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang tak lantas goyah. Mereka tetap berdiri kokoh. Caping lebar jadi senjata andalan untuk menangkis panas.

Di depan mereka, beragam wadah air berjajar rapi. Mulai dari jeriken, bak air, kaleng, ember hingga tong besar. Benda-benda itu mengular di sepanjang jalan desa.

Sejurus kemudian, apa yang mereka tunggu akhirnya datang juga. Sebuah mobil tangki air berkapasitas 4 ribu liter datang sebagai pahlawan. Mobil itu membawa air bersih.

Ya, setetes harapan warga itu bernama air bersih. Air menjadi kebutuhan yang langka selama tujuh bulan belakangan. Para warga benar-benar terbantu saat anggota Polsek Donomulyo bersama dengan komunitas Donomulyo Trail Community (DTC), datang dengan membawa air bersih. 

Wajah mereka langsung semringah tatkala empat roda mobil itu berhenti. Dengan gembira mereka mengisi wadah-wadah besar dengan air bersih yang dialirkan oleh Kapolsek Donomulyo Kompol Sardikan. Tanpa keributan, tertib, dan saling membantu untuk mendapatkan air. 

Air dari bak besar kemudian mereka pindahkan ke kaleng yang lebih kecil menggunakan gayung. Selanjutnya, diusung ke rumah masing-masing. Kedua tangan mereka penuh dengan ember berisi air bersih. Dengan langkah tertatih, menapak aspal panas, mereka membawa air itu ke rumah.

Ada juga yang memilih untuk mengirit tenaga. Mereka tampak membawa troli. Jadi tak perlu susah-susah memikul air. 

Layaknya barang pecah belah, penduduk desa itu memperlakukan air dengan hati-hati. Seakan-akan dijaga dengan hati. Mereka tak ingin air yang terisi penuh di ember itu tumpah. Air benar-benar mahal pada masa kemarau, seperti sekarang.

“Kami sudah tujuh bulan kekeringan, nggak ada air. Untuk kebutuhan sehari-hari beli air. Satu tangki kapasitas seribu liter harganya sampai Rp 60 ribu,” cerita Sulami, 47, salah satu penduduk sembari membetulkan caping lebar yang dia kenakan. 

Sulami menjelaskan, air satu tangki itu hanya bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga selama satu minggu. Itupun cuma dipakai untuk mandi dan minum. Kalau mencuci lain cerita. “Cuci baju biasanya ke sungai. Tapi sekarang sungai juga sudah kering,” jelasnya. 

Jika tidak ada bantuan air, dirinya terpaksa menghemat kebutuhan air. Misalnya saja dengan mengurangi mandi. Biasanya ketika musim hujan bisa sehari tiga kali. Namun ketika kemarau seperti sekarang, hanya sekali sehari. Itupun jika ada air yang dia anggap cukup. 

“Kalau nggak cukup ya sehari tidak mandi, mau bagaimana lagi. Banyak kebutuhan air yang lebih mendesak. Bahkan ada tetangga yang mandikan anaknya dengan air mineral botol,” bebernya.

Dia bersyukur dengan bantuan air bersih yang diberikan oleh Polsek Donomulyo bersama dengan DTC. Sepanjang ingatan Sulami, sudah dua kali polisi memberikan bantuan air bersih kepada warga di desa itu. “Sangat berterima kasih, kami memang mengharapkan bantuan air. Kami butuh,” ucapnya penuh harap. 

Lain cerita Sulami, lain lagi dengan Tukiyun, 60. Laki-laki yang biasa disapa Mbah Yun ini bercerita, untuk memenuhi kebutuhan air, dia dan beberapa warga desa lainnya akan mengantre air bersih. Bukan menantikan bantuan air dari BPBD atau Polres Malang. Melainkan antre mengambil air langsung dari tengah sungai.

Sungai dan sumber air yang mereka tuju itu jaraknya sekitar 3 km dari pemukiman penduduk. Untuk menuju ke sana, tak jarang mereka jalan kaki. Kalau ada yang lebih beruntung, biasanya mereka menunggangi motor.

Tapi ujung-ujungnya sama saja. Naik motor sekalipun, mereka tetap akan jalan kaki. “Ke sungai itu cuma ada jalan setapak. Jadi ya tetap harus jalan,” tutur Mbah Yun.

Sungai yang dituju warga itu adalah satu-satunya yang masih mengalir. Sampai di sana, Mbah Yun belum bisa langsung dapat air. Pasalnya, di sekitar sungai sudah ada ratusan warga lainnya yang sudah mengantre. Bukan cuma Mbah Yun yang kekeringan. Antean itu bahkan  sudah memanjang sejak pagi buta. 

Mbah Yun harus menunggu giliran.  Jangan dibayangkan hanya satu atau dua jam. Dia harus menanti selama 7 jam! Tiga kali waktu salat dia lalui. “Nunggu sejak duhur sampai isya, baru bisa ambil air. Nunggu lama di kali,” ungkapnya. 

Wilayah Donomulyo memang menjadi langganan kekeringan. Data dari BPBD, selain Donomulyo, ada kecamatan lain yang kerap kekurangan air. Misalnya saja Sumbermanjing Wetan, Jabung, Singosari, Bantur, Pagak, Lawang, Kalipare dan Gedangan.

Sementara khusus di Donomulyo, ada enam desa yang mengalami kekurangan air. Selain Desa Purwodadi, juga ada Sumberoto, Mentaraman, Banjarejo dan Donomulyo.

JawaPos.com menempuh perjalanan 38 km dari pusat Kabupaten Malang menuju Donomulyo. Sepanjang perjalanan menuju ke sana, kondisi kanan-kiri jalan begitu kering. 

Pohon-pohon meranggas, petak-petak sawah mengering, kebun tak lagi ditumbuhi tanaman. Jika ada jagung atau palawija yang ditanam, pasti saat ini dalam kondisi kering. Tanah terlihat tandus, kering dan berdebu. Sungai-sungai juga berhenti mengalir.

Selain bantuan air bersih, saat ini warga juga mengharapkan turunnya hujan. Penantian hujan bagi mereka layaknya oase di tengah padang pasir. Sambil berjuang mendapatkan air, mereka memejamkan mata dan merapal doa tiap malam. ’Semoga besok hujan segera mengguyur!’

 

Editor : Dida Tenola

Reporter : (tik/JPC)



Close Ads
7 Jam Antre di Sungai, Anak Tetangga Mandi Pakai Air Mineral Botol