alexametrics

Tujuh Pelajar Asal Papua di Blitar Pulang Kampung

Pemkot Lakukan Pemantauan dan Pendataan
2 Oktober 2019, 18:58:32 WIB

JawaPos.com – Sebagian pelajar asal Papua yang bersekolah di Kota Blitar memutuskan pulang kampung. Mereka pulang ke kampung halaman sejak terjadi konflik sosial di Papua beberapa waktu lalu.

Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Blitar membenarkan adanya pelajar asal Papua yang pulang ke kampung halaman. Informasi menyebutkan, ada tujuh pelajar asal Papua yang pulang kampung.

Bakesbangpol kini memantau dan mendata lagi pelajar asal Papua yang masih bertahan dan yang sudah pulang. Kepala Bakesbangpol Kota Blitar Hakim Sisworo menyatakan, sebagian pelajar asal Papua pulang sejak terjadi konflik di Papua hingga kini.

’’Sebagian ada yang kembali ke luar Blitar. Entah itu balik ke Papua atau ke daerah lain di luar Kota Blitar. Ada juga yang kembali lagi, melanjutkan pendidikan,’’ jelasnya.

Sejak terjadi konflik di Papua, bakesbangpol intensif berkomunikasi dengan cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur dan sekolah yang terdapat pelajar asal Papua. ’’Ada tiga sekolah di sini, yaitu SMAK Diponegoro, SMKN 1 Blitar, dan SMAN 2 Blitar,’’ jelasnya.

Bakesbangpol Kota Blitar menyebutkan, jumlah pelajar asal Papua di Kota Blitar mencapai 21 orang. Mereka menempuh pendidikan di SMA dan SMK negeri maupun swasta. Sebanyak 15 siswa di antaranya belajar di SMAK Diponegoro. Sisanya, empat siswa belajar di SMKN 1 Blitar dan dua siswa di SMAN 2 Blitar. Para pelajar asal Papua tersebut mengikuti program Afirmasi Pendidikan Menengah (Adem) di Kota Blitar.

’’Ada 15 anak yang sekolah di sini. Sekarang tinggal sembilan anak. Enam anak pulang kampung,’’ kata Wakil Kepala SMAK Diponegoro Bidang Kesiswaan Eko Hariyanto.

Dia menambahkan, satu di antara siswa yang pulang kampung itu pulang karena sakit. Siswa itu sempat dirawat di rumah sakit di Kota Blitar. Namun, karena pertimbangan kesehatan, siswa tersebut akhirnya dipulangkan ke kampung halaman. ’’Satu siswa itu pulang sebelum terjadi kerusuhan,’’ ujarnya.

Sementara itu, lima siswa lainnya, lanjut dia, pulang sejak terjadi konflik sosial di Papua. Mereka pulang tanpa izin ke sekolah dan baru memberi tahu setelah tiba di kampung halaman lewat sambungan telepon. ’’Mereka mengaku dijemput kakak dan orang tua mereka, lalu diajak pulang,’’ terangnya.

Lima siswa tersebut pulang secara bergantian sejak Agustus lalu. Sebenarnya, sekolah juga sudah meminta para siswa agar tidak pulang dan tetap belajar di Kota Blitar. ’’Kami sudah meminta pelajar untuk tetap tenang karena di sini aman. Dan tetap belajar. Tetapi, orang tua menyuruh mereka pulang,’’ terang Eko.

Ellion T. Tumana, salah seorang pelajar asal Papua SMAK Diponegoro, menyatakan memilih tetap bertahan belajar di Kota Blitar. Sebab, pelajar asal Kaimana, Papua Barat, itu ingin menyelesaikan pendidikannya. ’’Saya tetap bertahan belajar di sini. Sebentar lagi saya sudah lulus. Sekarang saya sudah kelas XII,’’ tuturnya.

Sebenarnya, lanjut dia, dirinya juga disuruh pulang oleh orang tuanya. Terutama oleh ibunya. Tetapi, sang ayah meyakinkan Ellion agar tidak pulang dan tetap belajar di Kota Blitar. ’’Ibu menyuruh pulang, tapi ayah meyakinkan saya agar tetap bertahan belajar dulu. Saya juga ingin menyelesaikan pendidikan dulu di sini (Kota Blitar),’’ ungkapnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : sub/din/c22/end



Close Ads