alexametrics

39 SD di Banjarmasin Tak Punya Kepsek, Disdik Kehabisan Stok

2 Agustus 2019, 07:30:41 WIB

JawaPos.com – Sebanyak 72 kepala sekolah dilantik wali kota pada Senin (29/7) sore. Terbagi pada sembilan kepsek untuk TK, 42 kepsek untuk SD, dan 21 kepsek untuk SMP.

Ternyata, masih ada 39 SD di Banjarmasin yang belum mempunyai kepsek. Dinas Pendidikan rupanya kehabisan stok calon kepsek yang memenuhi standar sesuai Peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan No 6 Tahun 2018.

“Kalau TK dan SMP sudah aman. Sedangkan untuk SD kami memang kehabisan stok. Kalau melihat aturan itu, calon kepsek harus mengikuti seleksi Calon Kepala Sekolah (Cakap),” jelas Kabid PTK Dinas Pendidikan Banjarmasin Hendro, dikutip dari Radar Banjarmasin (Jawa Pos Group), Jumat (2/8).

Demi memenuhi posisi kepsek yang masih lowong, 21 Agustus mendatang digelar seleksi Cakap. “Mereka yang lulus seleksi akan langsung dilantik. Rencananya ada 40 guru yang mengikuti Cakap,” tambahnya.

Hendro menambahkan, kepsek kini diikat masa pengabdian. Hanya boleh menjabat sebanyak empat kali. Satu periode selama empat tahun. Tak ada lagi istilah kepsek seumur hidup.

Tentu dengan sejumlah syarat. Setelah delapan tahun, melanjutkan ke-12 tahun harus menjalani tes kompetensi. Lalu menuju ke-16 tahun harus mengantongi persetujuan kementerian.

“Jika sudah menjabat selama 16 tahun, maka harus diturunkan. Boleh menjadi guru biasa dan dibebaskan memilih sekolah mana yang dihendaki,” jelasnya.

Dari 72 kepsek yang dilantik kemarin, lima kepsek merupakan hasil promosi. Selebihnya 67 kepsek adalah hasil rolling.

“Tahun ini ada empat kepsek yang diturunkan menjadi guru biasa. Tiga kepsek ternyata sudah melewati masa 16 tahun. Satu kepsek diturunkan karena terbukti melanggar aturan,” tegasnya.

Terkait pemilihan sekolah untuk penempatan kepsek, sepenuhnya merupakan wewenang Disdik. Tak semua kepsek legawa atas penempatan itu. Beberapa kepsek mengeluhkan penetapan sekolah yang ditugaskan kepadanya.

“Saya kira wajar. Saya akan mendengarkan keluhan mereka. Anehnya, ada mantan kepsek di sekolah pinggiran, setelah dipindahkan ke sekolah favorit malah memprotes. Padahal yang terjadi biasanya sebaliknya,” pungkas Hendro.

Editor : Estu Suryowati



Close Ads