alexametrics

Di Lokasi Tambang Liar yang Runtuh Mulai Tercium Bau Jenazah

2 Maret 2019, 12:53:09 WIB

JawaPos.com – Puluhan penambang diperkirakan masih terperangkap di lubang tambang emas di Desa Bakan, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Sulawesi Utara.

Namun, hingga kemarin atau tiga hari setelah tambang tersebut runtuh, tim evakuasi belum mampu mengeluarkan mereka dari reruntuhan. Karena itu, petugas gabungan mulai mengerahkan alat berat.

Kemarin tim evakuasi berfokus membuat jalur menuju lokasi kejadian yang berada di tebing dengan kemiringan hampir 90 derajat tersebut. Pantauan wartawan Jawa Pos Ahmad Didin Khoiruddin di lokasi tambang, sudah tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan dalam lubang maut tersebut. Kondisi lubang sudah sunyi. Bahkan, bau anyir diduga dari jasad korban mulai tercium hingga mulut lubang.

Di Lokasi Tambang Liar yang Runtuh Mulai Tercium Bau Jenazah
Warga saat mengevakuasi korban runtuhnya lokasi tambang emas liar di Bolaang Mongondow, Sulut. (DEWI MUNTIA/MANADO POST)

Kepala Basarnas Marsekal Madya Bagus Puruhito mengatakan, kecil kemungkinan masih ada penambang yang hidup dalam lubang tersebut. “Tapi, kita tetap optimistis saja,” katanya. Evakuasi dengan cara manual sudah tidak mungkin dilakukan petugas. Sebab, beberapa korban terlihat terjepit bongkahan batu besar. Dinding gua yang terbuat dari batu pun mudah runtuh. Cara satu-satunya untuk mengevakuasi jenazah korban adalah menggunakan alat berat.

Ada dua alat berat yang mulai dikerahkan kemarin. Namun, alat tersebut tidak bisa langsung menuju lokasi. Jarak dari jalan ke lokasi kejadian sekitar 500 meter. Ditambah adanya lubang di tengah tebing, aksesnya pun makin sulit. Hingga tadi malam, petugas baru menyelesaikan akses sekitar separo jarak. Jika sudah rampung, rencananya hari ini proses evakuasi diteruskan. Terutama untuk menggali area timbunan. “Tanah akan dikeruk dengan alat berat untuk mengeluarkan korban dari dalam lubang,” ujar Bagus.

Sebagaimana diberitakan, tambang emas ilegal di Desa Bakan runtuh pada Selasa (26/2). Penye­babnya diduga proses penambangan yang tidak sesuai prosedur. Para penambang disebut-sebut menggali dinding bukit dengan menggunakan linggis secara sembarangan. Akibatnya, kayu dan papan penahan dinding tak mampu menahan beban tanah dan bebatuan. Hingga kemarin, korban yang berhasil dikeluarkan baik hidup maupun meninggal tetap 27 orang.

Mayoritas penambang ilegal tersebut berasal dari beberapa daerah di sekitar Bolmong dan Kotamobagu. Misalnya, Kecamatan Lolayan, Bolaang, Kotamobagu Barat, dan wilayah sekitar. Jumlah mereka 40-80 orang. Jumlah pasti korban sulit dihitung karena mayoritas mereka tidak saling mengenal.

Kepala Desa Bakan Hasanudin Mokodompit mengatakan, para penambang tersebut datang dengan kelompoknya sendiri-sendiri. “Ada yang 1 kelompok 10 orang, 2 orang, bahkan sendirian,” ujarnya.

Hasanudin menambahkan, pihaknya sudah berulang-ulang mengimbau warga agar tidak menambang. Namun, dia tidak digubris. Bahkan, pihak pemkab hingga pemprov ikut turun tangan. Lagi-lagi tak digubris. “Dalam pesta-pesta desa pasti saya imbau. Tapi, mereka tetap membandel,” imbuhnya.

Di Desa Bakan sendiri, menurut Hasanudin, ada dua area penambangan rakyat ilegal. Keduanya dikelola masyarakat secara swadaya. “Tempat-tempat itu sudah pernah ditutup pemerintah. Tapi, mereka tetap datang untuk menambang,” ujarnya tadi malam di lokasi kejadian. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (din/c10/oni)

Copy Editor :

Di Lokasi Tambang Liar yang Runtuh Mulai Tercium Bau Jenazah