JawaPos Radar

Sinabung Terus Bergejolak, Tercatat Sudah 7 Kali Erupsi di Tahun 2018

02/01/2018, 21:25 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Gunung Sinabung
Erupsi Gunung Sinabung (Budi Warsito/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Gunung Sinabung yang masih berstatus awas terus menunjukkan peningkatan aktivitas di awal 2018. Sejak Senin (1/1) tercatat sudah terjadi 7 kali erupsi di Gunung Api yang berada di Kabupaten Karo ini.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Pos Pemantau Gunung Api Sinabung, Armen Putra. "Dari catatan kami, di awal tahun 2018 kurang lebih tujuh kali terjadi erupsi. Dimana erupsi tertinggi mencapai 2,8 km yang terjadi tanggal 1 Januari kemarin," ujarnya Selasa (2/1).

Armen menerangkan, untuk hari ini Gunung Api tersebut sudah empat kali erupsi. Erupsi pertama terjadi pada pukul 06.27 WIB. Saat itu Gunung Sinabung melontarkan abu vulkanik setinggi 2.000 meter dan disertai gempa ringan selama 261 detik. Pada erupsi pertama arah angin ke Barat- Selatan.

Erupsi kedua terjadi sekitar pukul 08.49 WIB dengan tinggi kolom abu 1.500 meter. Lama gempa 143 detik sedangkan arah angin lemah ke Barat-Selatan. Kemudian erupsi ketiga terjadi pukul 14.34 WIB. Kali ini, erupsi terjadi disertai guguran lava dan gempa selama 406 detik.

"Namun ketinggian kolom abu tidak teramati. Sedangkan arah angin lemah ke Timur - Tenggara," jelasnya.

Sedangkan erupsi keempat terjadi pukul 17.51 WIB dengan tinggi kolom abu 2.500 meter dan lama gempa 339 detik.

Armen mengungkapkan, erupsi tertinggi Gunung Sinabung terjadi pada 2013 lalu. Pada saat itu tinggi kolom abu mencapai 11 kilometer.

"Melihat status dan tingginya aktivitas Gunung Sinabung saat ini, masyarakat dan pengunjung atau wisatawan diharapkan tidak melakukan aktivitas di dalam radius tiga kilometer dari puncak,” paparnya.

Himbauan terkait status Sinabung tersebut juga diberikan kepada masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di Gunung Sinabung. Mereka diminta agar tetap waspada terhadap potensi bahaya lahar.

Hal itu disampaikan mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus. Maka dari itu, penduduk yang bermukim dan beraktivitas di sekitar hilir daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan.

Pasalnya bendungan itu sewaktu-waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar atau banjir bandang ke hilir.

"Potensi saat ini masih tinggi karena aktifitas Sinabung juga tinggi. Masyarakat juga dihimbau untuk menjauhi zona merah tersebut," tandas Armen.

(bew/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up