alexametrics

Alasan Korban Gempa Sulteng Menjarah Minimarket

1 Oktober 2018, 16:27:50 WIB

JawaPos.com – Tiga hari setelah gempa di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng), para korban gempa masih telantar. Mereka masih mengeluhkan minimnya pengungsian dari pemerintah. Terutama pasokan air bersih dan makanan.

Berdasar pantauan Jawa Pos di lapangan Vatulemo, puluhan tenda terpal yang diikat seadanya dengan kayu panjang memenuhi lapangan yang dihuni sekitar seribu pengungsi itu.

Tenda permanen dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hanya empat unit. Di lapangan tersebut, mayoritas pengungsi mengeluhkan ketersediaan air bersih. Terutama untuk minum. “Sangat kurang,” terang Nurjanah Martusari, pengungsi. Bahkan, untuk mencukupi kebutuhan minum, Ori -sapaan akrabnya-harus membeli air sendiri.

Alasan Korban Gempa Sulteng Menjarah Minimarket
Infografis Gempa Sulteng (Rofi Darajat/JawaPos.com)

Air bersih untuk keperluan MCK (mandi, cuci, kakus) juga sangat kurang. Akibatnya, toilet yang digunakan pengungsi berbau sangat tidak sedap karena tidak pernah disiram. Kurangnya air bersih juga dikeluhkan Marsudi, 53. Pengungsi di kediaman wali kota itu menyebutkan, sejak Jumat malam (28/9) petugas belum memberikan air minum kepada pengungsi.

Selain air, jatah makanan juga sangat minim. Sejak kemarin pagi, mereka belum menerima makanan. Kondisi tersebut disiasati keluarganya dengan memasak persediaan yang dibawa dari rumah. “Ini sampai saya bawa tungku sendiri,” jelasnya.

Minimnya bantuan juga dirasakan pengungsi di Kabupaten Sigi. Berbeda dari Kota Palu yang sudah memiliki beberapa posko, ketersediaan posko di Kabupaten Sigi sangat terbatas. Kondisi itu membuat masyarakat berinisiatif mendirikan kantong-kantong pengungsian secara mandiri.

Pengungsian itu memang tersebar hingga wilayah perbukitan. Mayoritas pengungsi mendirikan tenda di lahan sawah yang telah mengering. “Ini kami pakai spanduk partai,” jelas Muhammad Fikri, pengungsi dari Kabupaten Sigi.

Dia menyebutkan, perhatian pemerintah terhadap pengungsi di Sigi sangat kurang. Sebab, selama ini hanya yang terdampak gempa di Kota Palu dan Kabupaten Donggala yang disebut. Padahal, Sigi tidak kalah parah.

Minimnya perhatian itu membuat pengungsi Sigi sulit memenuhi kebutuhan. Mereka memanfaatkan cadangan yang ada di rumah-rumah yang roboh. Mereka menggali makanan di reruntuhan bangunan. Untuk minum dan mencuci pun, mereka memanfaatkan air sungai yang mengalir di sekitar pengungsian. “Untuk minum, kami endapkan dulu agar bisa lebih jernih,” jelasnya.

Kekurangan makanan dan minuman itu akhirnya memicu penjarahan di toko-toko. Puluhan toko ritel dijarah kemarin. Ratusan warga merangsek, menjebol terali pintu. Menjarah semua isi toko. Tidak ada penjaga. Semua warga berebut mendapatkan barang yang diperlukan.

Jawa Pos memantau kondisi tersebut. Pada pukul 08.30 hingga 14.30 Wita, ada 13 toko ritel yang dijarah di beberapa ruas jalan Kota Palu. Mayoritas barang jarahan warga adalah bahan makanan. Antara lain, beras, mi instan, roti, makanan ringan, hingga air mineral. Semua diambil sesuka hati. Sampai wadah yang dibawa tidak lagi muat.

Selain toko ritel, penjarahan juga terjadi di sejumlah SPBU di Palu. Warga terutama menjarah SPBU yang sedang tutup. Ada yang mengambil bahan bakar minyak (BBM) melalui pompa. Ada pula yang menimba BBM dari tangki persediaan.

Penjarah menggunakan paralon putih sepanjang 2 meter yang diikat dengan botol plastik di ujungnya untuk menimba sedikit demi sedikit BBM yang tersisa. “Saya terpaksa ambil untuk pulang kampung,” terang Suherman, warga dari Kabupaten Parigi.

Sutoyo, warga lain, menyampaikan alasan serupa. Dia terpaksa menjarah karena sudah tidak ada pilihan. Mobilitas dengan motor sangat penting bagi dia, terutama dalam kondisi darurat seperti saat ini. “Kami bukan tidak punya uang. Tapi, kondisi sekarang, uang tidak laku,” ucap dia. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (elo/far/vir/rin/c11/tom/agm)

Copy Editor :

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Alasan Korban Gempa Sulteng Menjarah Minimarket