alexametrics

Menuju Pengelolaan Organisasi Kehutanan Modern

Alex Yungan*
1 September 2018, 09:47:41 WIB

Tinggal dalam hitungan hari, Musyawarah Nasional Himpunan Alumni Fakultas Kehutanan IPB (Munas HA-E IPB) ke XVII akan segera dimulai. Munas HA-E IPB tersebut akan dilangsungkan pada 8 September 2018 mendatang di Fakultas Kehutanan IPB (Fahutan IPB).

Berbagai nama calon sebagai kandidat Ketua Umum HA-E IPB telah banyak bermunculan, baik dari latar belakang pemerintah dan kalangan profesional (non-pemerintah).

Berbagai bentuk pertemuan dan riungan lintas generasi/angkatan juga telah dimulai untuk menyambut hajatan besar tiga tahun sekali tersebut.

Dibalik berbagai rangkaian acara kemeriahan dan sarat kekeluargaan yang telah dipersiapkan panitia HAPKA HA-E IPB ke XVII (Hari Pulang Kampus Alumni Fakultas Kehutanan IPB) mulai 1 juni – 9 September 2018 tersebut, ada hal tak kalah penting agar menjadi perhatian dan konsensus bersama yaitu mengenai platform pembangunan organisasi HA-E IPB.

Platform organisasi ini dirasa sudah harus mengambil tingkat urgensitasnya saat ini untuk menentukan arah bangun organisasi dimasa yang akan datang, menjamin keberlanjutannya dan kualitasnya hingga akhir generasi

Menata Organisasi

Organisasi harus dibangun berjangka panjang, digunakan untuk mencapai tujuan bersama dan untuk sebesar-besar kemaslahatan seluruh anggota. Untuk mencapai hal tersebut, maka perlu dibangun platform bersama sebagai titik temu dari seluruh kelompok kepentingan (interest group).

Platform ini setidaknya harus berisi tujuan akhir dan tujuan antara (in-line/mendukung tujuan akhir) yang ingin dicapai oleh organisasi.

Dengan demikian, kontestasi Munas pemilihan Ketua Umum HAE pada setiap periodenya tidak terlepas dan berada didalam koridor platform yang telah dibangun bersama ini.

Tegasnya, setiap calon kanditat Ketua Umum HAE-IPB pada setiap periodenya akan memiliki rencana strategis (strategic plan) untuk mewujudkan tujuan-tujuan organisasi tersebut.

Organisasi di kelola secara profesional dan modern, produktif dan memiliki dampak besar baik kedalam (internal) dan keluar (eksternal) organisasi.

Salah satu aset berharga dari suatu organisasi adalah sumberdaya manusianya (SDM) atau anggota-anggotanya. Lebih dari 8.000 alumni Fahutan IPB tersebar di seluruh penjuru Indonesia dengan berbagai latar belakang profesi.

Memiliki anggota saja (yang secara bawaan telah terintegrasi) dalam suatu organisasi belumlah cukup, karena seluruh anggota belum tentu merasa harus berdedikasi terhadap organisasi yang dinaunginya.

Jika para anggotanya diharapkan berdedikasi terhadap organisasinya, mereka perlu merasa senang melakukannya. Artinya, para anggota perlu merasa bahwa mereka memiliki kesamaaan nilai dengan organisasinya dan memiliki hubungan timbal balik (simbiosis mutualisme).

Keanggotaan jaringan dari seluruh anggota organisasi dan seperangkat nilai bersama merupakan sumberdaya produktif untuk membangun atau melakukan setting sosial spesifik untuk mencapai tujuan organisasi.

Dengan demikian, modal sosial yang dimiliki mesti dipandang sebagai sumberdaya untuk memperkuat kesatuan (bukan mendorong memperlebar ketimpangan) dan di orientasikan untuk mendukung tercapainya tujuan organisasi.

Dalam kaitannya terhadap hal tersebut, HA-E IPB penting agar dapat berperan dan berfungsi sebagai wadah untuk mengintegrasikan modal sosial dari seluruh anggotanya dan benar-benar mendayagunakannya secara terlembaga (institusional).

Dengan demikian perlu dipikirkan cara-cara atau strategi untuk mengarah menuju hal yang demikian itu.

Epilog: Keseriusan bagi Praktik Empirik

Sebagai organisasi yang masih mencoba mengembangkan diri dan menemukan bentuknya, memiliki berbagai pengalaman empirik adalah hal berharga dan sangat dibutuhkan, termasuk salah satunya mengenai model kepemimpinan (leadership style).

Kesemuanya itu semata-mata dilakukan untuk menemukan bentuk terbaiknya bagi organisasi dan berguna sebagai ruang koreksi dimasa yang akan datang.

Tanpa bermaksud membangun keberpihakan, kurun waktu lebih dari sepuluh tahun kebelakang, model kepemimpinan organisasi bergaya birokrat telah menghasilkan banyak pengalaman empirik yang dapat diambil pelajaran berharga bagi organisasi dan seluruh anggotanya.

Kepemimpinan profesional, masih dirasa minim sebagai pengalaman empirik organisasi yang dapat diambil pelajaran berharga darinya. Hal paling penting adalah bukan siapa yang lebih pantas menahkodai HAE-E IPB antara alumni berlatar belakang birokrat (pemerintah) atau kalangan profesional (non-pemerintah).

Pada hakekatnya, semua latar belakang berbeda tersebut adalah berasal dari satu “rahim” yang sama yaitu Fahutan IPB. Lebih dalam dari itu adalah, praktik empirik yang menghasilkan pengalaman organik bagi organisasi adalah buah berharga untuk mulai membangun, menata dan memajukan organisasi.

Akhirnya, selamat bermusyawarah nasional HA-E IPB ke XVII. “…Bersatulah bersatu, tinggi rendah jadi satu, bertolonglah selalu. Jauhkanlah sikap kamu yang mementingkan diri. Ingatlah nusa-bangsa minta supaya dibela oleh kamu semua.”.▪

*Penulis Alumni Fakultas Kehutanan IPB

Editor : Imam Solehudin

Reporter : (mam/JPC)

Menuju Pengelolaan Organisasi Kehutanan Modern