JawaPos Radar

Distribusi Air Bersih Di Kota Cirebon Belum Merata, Ini Penyebabnya

01/08/2018, 12:04 WIB | Editor: Bintang Pradewo
Distribusi Air Bersih Di Kota Cirebon Belum Merata, Ini Penyebabnya
Ilustrasi. Distribusi saluran air bersih tidak mengocor ke kran milik warga Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, Rabu (1/8). (Wildan Ibnu Walid/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Dua Kelurahan di Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, masih tercatat sebagai daerah kesulitan mendapat pasokan air bersih. Distribusi air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Cirebon belum sepenuhnya menjangkau rumah-rumah penduduk di wilayah Selatan Kota Cirebon itu.

Pemaksimalan perbaikan sistem penyediaan air minum (SPAM) milik PDAM Kota Cirebon dianggap menjadi solusi masalah distribusi air bersih. Dengan begitu, PDAM mendapat kucuran dana penyertaan modal dari Pemerintah Kota Cirebon sebesar Rp 10 Miliar di tahun ini untuk mengatasi masalah krisis air bersih di Kelurahan Argasunya dan Kalijaga.

Direktur utama PDAM Kota Cirebon Tirta Giri Nata, Sopyan Satari mengatakan optimalisasi layanan air bersih untuk distribusi ke wilayah Kecamatan Harjamukti perlu dilakukan dengan cara pengembangan SPAM melalui perbaikan pipa saluran air bersih. Langkah itu menurutnya sebagai langkah awal untuk mewujudkan pemerataan air bersih di Kota Cirebon.

"Permasalahan yang kita alami kompleks. Dari mulai saluran pipa yang sudah tua, tekanan udara untuk mendorong air keluar hingga kebocoran saluran. Ini perlu ada perbaikan," ujarnya, Rabu (1/8).

Kesulitan distribusi air bersih di Kelurahan Argasunya dan Kalijaga disebabkan karena kedua daerah tersebut merupakan kawasan dataran tinggi. Sehingga, distribusi aliran air tidak maksimal. Ditambah, saluran pipa di wilayah tersebut tergolong sudah tua dan perlu dilakukan perbaikan-perbaikan.

Sumber mata air dari Paniis Kabupaten Kuningan ke Kota Cirebon, terlebih dahulu melalui Plangon Kabupaten Cirebon membuat saluran distribusi lebih dulu ke pemukiman warga di dataran rendah atau perkotaan.

Sementara di daerah rawan kelangkaan air bersih di Kelurahan Argasunya dan Kalijaga itu adalah dataran tinggi, dan bukan sepenuhnya kawasan pemukiman penduduk, melainkan areal konservasi, bukit bebatuan dan lahan persawahan.

"Kenapa tidak semua warga di Kalijaga dan Argasunya terpenuhi, karena agak sulit memasang pipa baru dan memperbaikinya. Selama ini, warga di sana pakai sumur artesis untuk kebutuhan sehari-hari. Adanya modal ini, kami akan upayakan," katanya.

Dia menambahkan, usulan penyertaan Rp 10 miliar untuk perbaikan SPAM diajukan sejak 2017. Penambahan modal dari APBD Kota Cirebon itu, PDAM bertanggung jawab untuk menekan tingkat kebocoran yang masih tinggi. Diketahui, data tingkat kebocoran pipa yang menyebabkan kerugian PDAM masih di angka 28 persen.

"Sebelumnya tinggi sekali. Sekarang tinggal 28 persen. Karena sebelumnya ada bantuan hibah pipa saluran distribusi dari pemerintah pusat, kebocoran sudah ditekan," ungkapnya.

(wiw/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up