alexametrics

Mencari Jejak Buaya, Sang Predator di Sungai Sumber Air Bersih

1 Juli 2019, 08:41:33 WIB

JawaPos.com – Kehidupan warga Kampung Tabalar Muara, Kecamatan Tabalar, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (Kaltim) bak buah simalakama. Setiap hari harus bertaruh nyawa untuk mendapatkan air bersih di sungai yang dihuni banyak predator raksasa. Tak sekadar menebar ancaman, buaya penghuni Sungai Tabalar Muara sudah beberapa kali memangsa warga.

Jalalludin, kepala Kampung Tabalar Muara, bercerita tentang ganasnya predator raksasa di daerah tersebut. Bagi warga kampung menyebut sang predator dengan kata buaya adalah hal yang tabu. Mereka menyebut dengan kata Nenek. “Kalau menyebut kata buaya itu pertanda akan ada korban di kampung ini,” ungkap pria yang berusia 47 tahun itu kepada Berau Post.

Kampung Tabalar Muara berjarak sekitar 120 kilometer dari Kecamatan Tanjung Redeb, ibu kota Kabupaten Berau. Butuh 3 jam perjalanan darat untuk mencapainya dari Tanjung Redeb. Itu dengan menumpangi mobil.

Kampung yang memiliki luas 2.044 hektare itu dihuni 779 penduduk. Mereka tersebar di empat rukun tetangga (RT). Mayoritas warganya bekerja sebagai nelayan.

Kampung Tabalar Muara, merupakan satu dari enam kampung yang masuk wilayah Kecamatan Tabalar. Warga kampung yang berbatasan langsung dengan wilayah Kecamatan Biatan itu, mayoritas bekerja sebagai nelayan.

Kembali kepada Jalalludin. Selama 20 tahun tinggal di Tabalar Muara, warga setempat sudah menyadari betapa besarnya risiko dalam mencari air bersih di sungai. Sejak 2012 sudah ada empat kasus warga diterkam buaya. Umumnya para korban ketika beraktivitas di sungai. Dari keempat korban itu, tiga di antaranya tidak pernah ditemukan jasadnya.

Seperti halnya Pendi, 17 tahun. Jasad pria itu hingga kini belum pernah ditemukan. Kejadian yang menimpang pada 2012 silam. Persis sekira pukul 18.00 Wita. Ketika itu Pendi melintas menggunakan perahu ketinting di sungai. “Bahkan korban saat itu sempat menegur saya,” kenangnya.

Beberapa saat kemudian, seteah Jalalludin selesai salat magrib, dirinya mendapat kabar bahwa Pendi telah dimangsa sang nenek. Jalalludin pun langsung membuka tali perahu milik korban yang baru saja ditambatkan. Bersama warga, Jalalludin pun langsung melakukan pencarian. Hingga malam semakin larut, tanda-tanda kemunculan korban tidak ditemukan. Termasuk sang nenek yang menjadi pemangsa, enggan menampakkan diri ke permukaan sungai.

HABITAT BUAYA: Salah seorang warga menunjukkan lokasi Andito diterkam buaya pada 7 Mei 2019 lalu. (MAULID HIDAYAT/Berau Post)

“Pencarian terus dilakukan, tapi korban tidak bisa ditemukan. Sampai semingguan dilakukan pencarian, tapi tidak ada hasil juga. Bahkan sampai detik ini (pekan lalu, Red), jasad Pendi belum juga ditemukan,” ungkapnya.

Berselang 3 tahun, tepatnya Mei 2015, sang nenek kembali ‘meminta’ korban. Yang menjadi korban kala itu seorang anak kecil berusia 10 tahun bernama Muhammad Tang.

Saat kejadian, Muhammad Tang bersama teman-temannya tengah berenang di tepi sungai, sekitar pukul 17.30 Wita. Jelang magrib, teman-teman korban sudah selesai berenang di tepi sungai. Namun korban tetap asyik berenang. Bahkan saat diajak temannya untuk berhenti dan naik ke daratan, korban memang menurutinya. Namun sesampainya di daratan, korban kembali menceburkan diri ke sungai dan kembali berenang.

“Saat melompat ke sungai, terjadi pusaran arus yang cukup kuat. Korban seperti terbawa arus yang ternyata ada warga yang kebetulan lewat, melihat korban dalam gigitan si nenek dan dibawa ke arah hulu,” terang Jalalludin.

Tidak butuh waktu lama bagi si nenek untuk kembali menghilangkan nyawa warga Tabalar Muara. Awal 2016 silam, seorang warga bernama Bandu, 60, pun dimangsa buaya.

Kala itu Bandu yang tengah bersantai bersama anaknya di rumah. Beberapa lama berselang, Bandu beranjak menuju kebun yang hanya berjarak sekitar 250 meter dari rumah dia. Saat itu, dia mengaku hanya ingin membuat api unggun di kebun untuk menakut-nakuti babi yang menjadi hama bagi warga setempat. Ketika hendak pulang Bandu diduga diterkam buaya.

Karena, korban yang sebelumnya memang sering menginap di gubuk kayu yang berada di kebunnya tak kunjung pulang hingga keesokan harinya. Bahkan ketika istrinya, Intang, datang untuk membawakan sarapan ke kebun hanya ditemukan pakaian dan parang milik korban.

“Saat itu air sungai tengah pasang besar dan kebun korban itu melewati sungai. Kemungkinan korban mandi (di kebun, red), karena baju, celana pendek, serta parang korban, ditemukan di atas jamban,” katanya.

Karena panik, Intang langsung melapor ke warga setempat bahwa suaminya hilang. Jalalludin bersama warga pun melakukan pencarian. Namun yang ditemukan hanya tanda-tanda yang mengarah jika Bandu telah jadi korban terkaman buaya.

“Nenek itu yang terkam. Buktinya, saat itu saya menunjukkan ke warga, kalau di bibir sungai terdapat bekas seretan dan jejak kaki sang nenek (buaya). Rumput di sepanjang bibir sungai juga rebah dan tanaman akar sebagian terangkat. Bandu pun hingga kini hilang tanpa kabar,” lanjutnya.

Ketika Bandu diketahui menghilang, kejadian mistis dialami menantu korban, Sidar 26. Malam harinya, Sidar tiba-tiba kerasukan roh halus yang mengaku bahwa dirinya adalah penunggu sungai.

Saat kerasukan Sidar terus berteriak dan berkata, “Dia telah banyak berjanji padaku, akan memberikan sebagian hasil bumi. Empat hari lalu Aku mau mengambilnya, namun Aku kasihan dengan anak dan istrinya. Tetapi pada malam kemarin, Dia (korban, red) seorang diri, jadi aku ambil dia,” tutur Jalalludin, menirukan perkataan Sidar saat kerasukan.

Jalalludin yang mengaku melihat langsung Sidar kerasukan masih sering terbayang-bayang jika hendak ke sungai. Namun apa daya, tidak adanya sumber air bersih, dia dan warga lainnya harus beraktivitas di sungai yang melintangi kampungnya.

Yang masih segar dalam ingatan Jalalludin kejadian terakhir pada Selasa, 7 Mei lalu. Seorang anak berusia 8 tahun bernama Andito. Dia menjadi korban keganasan buaya di kampung Tabalar Muara. Kejadiannya sekitar pukul 07.30 Wita.

Ketika itu, korban disuruh orang tuanya untuk membuang sampah. Namun ketika melihat teman-temannya berenang di sungai, korban lantas menghampiri dan ikut bermain.

Jarak antara rumah korban dengan sungai cukup dekat. Hanya sekitar 200 meter saja. Setelah asyik berenang, korban naik dan duduk di atas papan kayu berukuran sekitar 40 sentimeter yang berada di tepi sungai. Saat tengah bersantai di tepi sungai itulah korban diterkam dan dibawa ke sungai oleh buaya.

Padahal, saat kejadian, di sepanjang sungai banyak warga beraktivitas. Ada yang tengah mencuci pakaian, mencuci motor, hingga mandi. Menurut Jalalludin, saat kejadian warga memang sempat mendengar suara seperti benda yang jatuh ke sungai. Namun warga mengira itu hanya buah kelapa yang jatuh, sampai akhirnya ada yang melihat Andito tengah diseret buaya berukuran sekitar 4 meter ke tengah sungai.

“Warga yang melihat langsung menyalakan ketinting dan perahu penyedot pasir untuk mengejar. Namun tidak membuahkan hasil. Pencarian terus dilakukan hingga malam hari juga tidak ada hasil,” ungkapnya.

Jasad Andito akhirnya baru ditemukan keesokan harinya, pukul 14.00 Wita. Lokasi kemunculannya juga tak jauh dari tempat korban diterkam. “Dari keempat korban, hanya korban terakhir ini yang berhasil kami temukan,” tutur Jalalludin mengenang kejadian tersebut.

Editor : Ilham Safutra


Close Ads