JawaPos Radar

Gunung Agung Diyakini Tak Erupsi Saat IMF-World Bank

01/07/2018, 11:53 WIB | Editor: Ilham Safutra
Gunung Agung Diyakini Tak Erupsi Saat IMF-World Bank
Penampakan Gunung Agung ketika erupsi pada 2017 lalu (RAKA DENNY/JAWAPOS)
Share this image

JawaPos.com - Gunung Agung di Bali sudah aktif kurang lebih enam bulan terakhir. Pada Jumat lalu (29/6) Bandara I Gusti Ngurah Rai dan Bandara Jember ditutup gara-gara debu vulkanis Gunung Agung.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kasbani menyatakan, masih ada peluang Gunung Agung kembali erupsi. Merujuk data tahun-tahun sebelumnya, erupsi Gunung Agung biasanya terjadi dalam kurun waktu beberapa bulan. Misalnya, pada 1963 Gunung Agung selama satu tahun aktif. "Bahkan pernah lebih dari itu. Ini baru enam hingga tujuh bulan," katanya kemarin (30/6).

Namun, Kasbani optimistis sampai pertemuan IMF-World Bank Oktober nanti, gunung tertinggi di Pulau Dewata tersebut tidak akan erupsi besar. Sebab, magma di dalam gunung masih memiliki banyak ruang sehingga kubah lava belum terbentuk.

Gunung Agung Diyakini Tak Erupsi Saat IMF-World Bank
Penampakan Gunung Agung ketika erupsi pada 2017 lalu (RAKA DENNY/JAWAPOS)

Menurut data PVMBG, hingga 27 Juni, baru sepertiga magma yang memenuhi gunung. Artinya, masih banyak ruang hingga akhirnya terbentuk kubah lava.

"Kalau mengacu erupsi sebelumnya, Gunung Agung menghasilkan awan panas. Sedangkan awan panas itu bisa terjadi jika ada kubah lava atau ada tekanan besar dari bawah. Sementara ini belum ada indikasi adanya tekanan," ucapnya.

Kasbani tidak memungkiri, masih memungkinkan adanya erupsi dalam skala kecil. Untuk itu, tim PVMBG masih memasang jarak aman untuk beraktivitas adalah 4 km dari puncak gunung.

"Kalau dilihat dari fenomenanya, mulai menurun jika dibandingkan dengan 27 Juni lalu. Namun belum stabil," kata dia. Artinya, masih terdapat kemungkinan untuk adanya erupsi.

Dampak erupsi, jelas Kasbani, tak hanya dialami mereka yang di darat. Abu vulkanis yang timbul akibat aktivitas gunung justru bisa bergerak lebih jauh. "Pada 29 Juni sebenarnya tinggi kolom abu hanya 2.000 meter. Namun berlangsung terus-menerus dan arah angin ke bandara. Sehingga bandara ditutup," katanya.

Ngurahma yang tinggal di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, menerangkan, masyarakat sekitar hanya mengungsi pada malam hari. "Sejak 27 Juni kalau malam ada suara gemuruh seperti mesin pesawat jet dari gunung," ucapnya saat dihubungi Jawa Pos. Kata dia, aktivitas masyarakat masih normal. Bahkan, untuk sektor pariwisata, belum ada pengaruh signifikan.

Pengelola Pura Besakih tersebut menambahkan, jumlah wisatawan masih banyak. Bahkan, kemarin siang jumlah kunjungan di pura itu mencapai 300 orang. Jumlah tersebut tergolong normal. "Jangan takut untuk ke Pura Besakih," tuturnya. Pengelola pun sudah memiliki rencana jika terjadi erupsi besar sewaktu-waktu. "Kami sudah pasang tanda jalur evakuasi di tempat strategis." 

(lyn/c9/oki)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up